by

Gara-gara HOTS Bikin Banyak Siswa SMA Kesulitan Isi Soal Ujian Nasional, Mendikbud Minta Maaf

Debroo.net. Gara-gara HOTS Bikin Banyak Siswa SMA Kesulitan Isi Soal Ujian Nasional, Mendikbud Minta Maaf. Siswa SMA dan sederajat terus mengeluhkan tentang soal UNBK tahun 2018 yang dirasakan sangat sulit. Hal tersebut dibenarkan oleh Pemerintah yang mengatakan hal tersebut terjadi lantaran menggunakan standar High Order Thinking Skills (HOTS).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy

Pelaksanaan UNBK tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) telah berlangsung pada 10-13 April mendapat kritik dari sejumlah siswa karena soal-soalnya dianggap sulit dan tidak sesuai dengan pelajaran yang diterima di sekolah.

Selain soal mata pelajaran matematika, yang dianggap tidak sesuai kisi-kisi, siswa juga mengelukan mengenai penggunaan metode esai dan analisa dalam UNBK.

Federasi Serikat Guru Indonesia menemukan kondisi di mana soal matematika dalam Ujian Nasional Berbasis Komputer menjadi soal yang banyak dikeluhkan siswa karena terlalu sulit dan tidak sesuai dengan kisi-kisi.

Keluhan soal Matematika terutama Matematika IPS tersebut terkait dengan jumlah dan cakupan materi tidak sesuai kisi-kisi, tidak sesuai dengan cakupan materi di simulasi UN dan uji coba UN, dan tidak sesuai kaidah penyusunan soal yang baik.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Kapuspendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Muhamad Abduh mengatakan kalau tujuan dimasukkannya soal-soal itu adalah untuk meningkatkan kualitas dari UN tahun sebelumnya.

“Soal-soal yang memerlukan daya nalar tinggi ini memang sekitar 4-10 soal tidak pernah keluar dalam tryout di sekolah,” ujarnya.

Hal tersebt pun akhirnya membuat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta maaf atas semua itu. Namun ia mengklaim bahwa soal-soal yang keluar dalam UNBK sudah sesuai dengan kisi-kisi yang dimatangkan guru lewat Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

“Saya meminta maaf kalau ada beberapa kalangan yang merasa mengalami kesulitan yang tidak bisa ditoleransi… Mohon maklum bahwa UN kita dari waktu ke waktu harus semakin sulit untuk mengejar ketertinggalan kita,” kata Muhadjir di Jakarta, Jumat pekan lalu.

Muhadjir kemudian menjelaskan kualitas pendidikan Indonesia masih lebih rendah dibanding negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu, Kemendikbud berusaha untuk memperbarui sistem pendidikan, termasuk di antaranya meningkatkan standar soal.

Apa itu HOTS? Edi Susanto dan Heri Retnawati, dalam salah satu artikel yang diterbitkan Jurnal Riset Pendidikan Matematika mendefinisikan HOTS sebagai “kemampuan berpikir yang terdiri atas berpikir kritis, berpikir kreatif, dan pemecahan masalah.” Dengan HOTS, kata mereka, “siswa dapat memutuskan apa yang harus dipercayai dan apa yang harus dilakukan, mencipta ide baru, membuat prediksi dan memecahkan masalah non-rutin.”

Dalam Prosiding Seminar Nasional Matematika yang diterbitkan Jurusan Matematika Universitas Negeri Semarang (PDF), salah satu contoh soal HOTS untuk mata pelajaran matematika adalah sebagai berikut:

Pertanyaan pertama :”OSIS suatu sekolah mengadakan pentas seni, panitia memilih gedung yang tempat duduk penontonnya berbentuk lingkaran enam baris. Banyaknya kursi pada masing-masing baris membentuk pola barisan tertentu. Jika pada baris pertama terdapat 25 kursi, baris kedua 35 kursi, baris ketiga 50 kursi, baris keempat 70 kursi, dan seterusnya. Tentukan lah banyaknya seluruh tempat duduk pada gedung pertunjukan itu.”

Pertanyaan kedua: “Apabila harga tiket baris pertama adalah paling mahal dan selisih harga tiket antara dua baris yang berdekatan adalah Rp10 ribu, dengan asumsi seluruh kursi penonton terisi penuh, tentukan lah harga tiket yang paling murah agar panitia memperoleh pemasukan sebesar Rp22,5 juta.”

Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina, Mohammad Abduhzen, pun angkat bicara tentang HOTS bahwa pemerintah tak bisa tiba-tiba memberikan soal dengan standar seperti itu. Sebab, para siswa masih berpikir di tingkat rendah atau Lower Order Thinking Skill (LOTS).

Menurutnya, pemerintah harus mengubah pendekatan dan metode pembelajaran para siswa terlebih dulu jika ingin memberikan soal-soal HOTS dalam UN. “Dan itu tidak bisa dilakukan dengan waktu yang singkat,” ungkap Abduhzen seperti yang dilansir dari Tirto, Minggu (15/4/2018).

Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim, juga berpendapat serupa. Katanya, soal-soal HOTS tidak adil karena guru-guru di tiap sekolah tidak dipersiapkan untuk mengimplementasikan metode berpikir tingkat tinggi tersebut sepanjang proses belajar mengajar.

Dengan kata lain, penerapan soal HOTS dalam ujian nasional tidak tepat karena persiapan menuju ke sana tidak ada.

“Percuma kalau soal-soal ujiannya di level tinggi, tetapi proses pembelajaran siswa tidak pernah menyentuh kemampuan berpikir kritis, evaluatif dan kreatif.”

Jika hal tersebut tidak dilakukan, ia meminta agar ujian nasional dihapus saja. Sebab, urgensi penyelenggaraannya sudah tak jelas dan tidak berpengaruh pada kelulusan serta penerimaan siswa di perguruan tinggi negeri.

Karena alasan itu ia mengatakan Mendikbud tak bisa hanya minta maaf. Pernyataan maaf juga harus dibarengi dengan evaluasi secara menyeluruh.

Ada beberapa rekomendasi yang diberikan FSGI untuk Kemendikbud. Pertama, memberikan pelatihan intensif kepada para guru tentang bagaimana menerapkan HOTS dalam kegiatan belajar mengajar; Kedua, memberikan soal HOTS secara bertahap dari tahun ke tahun; dan terakhir, membuat soal bertingkat sesuai dengan standar pendidikan yang dicapai sekolah.

Loading...

Comment