by

Sinopsis Mohabbatein Episode 72 : Hasil Tes DNA Ruhi

-Debroo-62 views

Debroo.com. Sinopsis Mohabbatein Episode 72 : Hasil Tes DNA Ruhi. Di tempat pertandingan karambol, Ishita akhirnya bisa memenangkan pertandingan, dan mengalahkan semua peserta yang ikut pertandingan ini, hal ini tentu saja membuat keluarga Iyer bangga, saat itu Raman datang dan ikut bermain menantang Ishita

Sinopsis Mohabbatein Episode 72
Sinopsis Mohabbatein Episode 72

Keluarga Bhalla sangat senang melihat Raman muncul dan berharap Raman sebagai penyelamat reputasi keluarga Bhalla.
Rumi : Untung saja kakak datang, kakak telah menyelamatkan reputasi keluarga kita, kak”
Raman : mari kita tunjukkan pada mereka siapa kita yang sebenarnya, dengan rasa kesal,

Mihika melirik kearah Mihir dan memberikan kode ke arahnya, nyonya Bhalla memberikan dukungan untuk Raman
Ibu Raman : Sekarang kamu harus menang, Raman ! tunjukkan pada kami kehebatanmu.

Ibu Ishita terkejut begitu mengetahui jika Raman ternyata pandai bermain karambol, Raman kemudian duduk di depan Ishita dan siap untuk bermain, Ishita dan Raman saling memandang satu sama lain dengan tatapan saling menantang, akhirnya pertandingan pun dimulai, semua orang bertepuk tangan memberikan semangat pada keduanya,

Ibu Ishita : Raman bermain sangat baik,
Mihika memberikan semangat pada kakak sepupunya, sedangkan Mihir memberikan semangat pada Raman, sahabatnya, tak lama kemudian tiba tiba ponsel Ishita berdering, Mihika yang mengangkatnya dan memberikan telfon itu ke Ishita Mihika : Kakak, ada telfon dari teman kakak

Pertandinganpun terhenti sesaat karena Ishita sedang menerima telpon, kemudian Ishita mengucapkan terima kasih banyak pada orang itu, Ishita sangat senang.

Raman : Kenapa kamu sangat bahagia ? Kamu masih harus bermain.
akhirnya pertandingan berlanjut dan dimenangkan oleh Raman, semua orang bertepuk tangan untuk Raman, Ibu Raman juga sangat senang karena putranya menang lagi
Ayah Ishita : Untukku aku telah menang dari kedua sisi yaitu putriku dan menantuku
begitu juga Ibu Ishita yang juga sangat senang
Raman : Sudah kukatakan padamu posisi ratu selalu berada dibelakang raja
Ishita tersenyum mendengar ucapan Raman
Ishita : Ada sebuah bukti diatas sana untuk kamu, tuan Raman Kumar Bhalla ! Ayo kita lihat kesana ! Kita akan tahu siapa yang bermain dengan baik dan siapa yang tidak
Raman : Baiklah ! Baru kemudian kamu bisa merayakan kegagalanmu !”
akhirnya Raman menuju ke kamarnya kemudian Ishita datang sambil membawa hasil test uji DNA tersebut, lalu diberikan kepada Raman
Raman : Apa ini
Ishita : Buka saja ! Dan lihatlah.
Raman menuruti permintaan Ishita membuka hasil test uji DNA nya dan Ruhi, dibacanya dengan seksama, Raman sangat terkejut dan bahagia begitu membacanya, Raman teringat pada ucapan Ashok dan Ruhi, Raman tersenyum, Ishita melihat ke arahnya
Ishita : Ruhi itu anakmu, aku tidak mengerti bagaimana kamu bisa berfikir kalau dia itu anaknnya Ashok.
Ishita kemudian berlalu dari sana

Pada acara pemberian hadiah, keluarga Bhalla mendapatkan piala, Ruhi juga sangat bahagia, keluarga Bhalla langsung menari nari, Ruhi juga ikut menari dengan piala ayahnya. Raman menghampiri Ruhi, Ruhi menunjukkan piala itu pada ayahnya dan berkata
Ruhi : Kita menang, ayah
Ishita tersenyum senang melihat kegembiraan mereka semua, Raman kemudian memeluk Ruhi penuh haru, semua orang melihat kearahnya, Raman menangis dan berkata
Raman : Iya sayang, kita menang ! Ayah menang !”
Ishita berkata : Dia lagi lagi memikirkan tentang kemenangan dan pertandingan dalam semua hubungan
Ibu Raman meminta Raman untuk ikut dengannya untuk makan Golgappa
Raman : Ibu, gigiku masih sakit
Raman menolak permintaan ibunya

Raman kemudian masuk ke dalam kamarnya dan berkata pada dirinya sendiri
Raman : Awalnya aku takut melakukan test ini tapi Ishita melakukannya, aku seharusnya mengucapkan terima kasih padanya tapi bagaimana mengatakan padanya ? Aku akan mencobanya
kemudian Raman berpura pura mengucapkan terima kasih pada Ishita sambil berkaca di depan cermin
Raman : Terima kasih banyak, Ishita ,,, tapi mengucapkan terima kasih saja itu akan terlihat biasa, dia pasti tidak setuju” Raman berfikir keras
Raman : Aku akan mengucapkan terima kasih padanya melalui sebuah kartu atau email
saat itu Ishita memasuki kamar, Raman melihatnya dan menghentikan langkah Ishita
Raman : Aku ingin mengatakan sesuatu ,,, terima kasih karena kamu telah melakukan hal ini untukku”,
Ishita: Aku tidak perlu ucapan terima kasihmu itu

Ishita : Apakah kamu butuh sebuah laporan untuk menerima anak kandungmu sendiri ? Apakah kamu bahagia dengan kemenanganmu ini
tanya Ishita geram
Raman : Ashok yang mengatakan hal ini”,
Ishita : “Bagaimana bisa kamu mempercayainya, bagaimana bisa kamu tidak melihat kalau Ruhi itu adalah anakmu ? Kamu tidak mau mendonorkan darahmu padanya karena keraguan ini kan ?”
Ishita mulai mengomel
Raman : “Aku tidak tahu golongan darahku, aku hanya takut di suntik, itu saja
Ishita kembali menegur Raman
Ishita : Kamu ini tidak pintar atau apa ? Hah ? Cobalah pahami sebuah hubungan, kamu hanya memiliki ego yang terlalu besar dalam dirimu ! Aku datang ke rumah ini baru 20 hari tapi aku sudah bisa melihat Ruhi adalah anakmu dan kamu tidak bisa mengenalinya ? Bagaimana bisa kamu berfikiran seperti itu, Raman
Raman hanya terdiam

Ishita : Ashok, Shagun dan kamu saling menyakiti satu sama lain tapi yang sangat terluka dalam hal ini adalah Ruhi, Tidak bisakah kamu melihat penderitaan Ruhi, dia hanya menginginkan cinta darimu dan kamu menarik dirimu sendiri darinya
Raman : Cukup, Ishita ! Pikirkan lidahmu sendiri, aku sudah berterima kasih padamu, aku juga sudah meminta maaf, sekarang pergilah
Raman kembali kesal pada Ishita
Ishita : Aku tidak butuh ucapan terima kasihmu dan permintaan maafmu, aku melakukan semua ini demi Ruhi, dia sedang menderita, ibumu menjelaskan padaku untuk bertahan demi Ruhi, jadi aku tidak mengharapkan apapun darimu dan aku juga tidak ingin apapun darimu

Kemudian Ishita menyinggung sedikit tentang Aditya, Raman jadi marah
Ishita : Kamu bilang kamu akan mengembalikan Ruhi pada Ashok dan Shagun”,
Raman : Aku tidak sadar waktu itu, tetaplah pada batasanmu, Ishita ! Jadilah ibunya Ruhi ! Jangan coba coba menjadi istriku.
Ishita segera berlalu dari sana dengan perasaan jengkel, Raman juga berbalik dengan perasaan kesal

Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *