by

Maharana Pratap – Sinopsis Mahaputra Episode 305

-Debroo-69 views

Debroo.com. Maharana Pangeran Mahaputra – Sinopsis Mahaputra Episode 305. Dirumah Fatta, Pangeran Mahaputra baru tahu kalau Bai ji lal ingin menjadikannya sebagai panglima pasukan prajurit Bijolia, Ajabde sangat terkejut ketika melihat raut muka Pangeran Mahaputra yang tidak senang begitu mengetahuinya

Sinopsis Mahaputra Episode 305
Sinopsis Mahaputra Episode 305

“Kamu bilang kamu ingin menjadi bagian dari pemborentakan ini, lalu kenapa kamu kelihatannya tidak senang begitu mendapatkan tugas yang begitu besar dan penuh tanggung jawab seperti ini ?” tanya Ajabde heran “Kenapa Bai ji lal ingin membuat sebuah pasukan prajurit yang besar seperti ini ? Jika ini tentang Afghanistan maka kita bisa mengatakannnya pada Chittor, mereka pasti akan mengirimkan pasukan mereka untuk menolong kalian, itu adalah tugas mereka untuk melindungi daerah kekuasaan yang berada dibawahnya”

Ajabde langsung menolaknya “Bai ji lal telah memutuskan untuk tidak memohon bantuan pada siapapun lagi, dia telah memutuskan untuk menghadapi tentara Afghanistan dengan caranya sendiri” Pangeran Mahaputra merasa tidak suka begitu mendengar ucapan Ajabde “

Ini adalah kebiasaan lamanya, dia tidak pernah mau mendengarkan siapapun jika dia telah memutuskan sesuatu” Ajabde merasa penasaran dengan gerutuan Pangeran Mahaputra yang bicara dengan dirinya sendiri “Aku tidak mau menjadi bagian dari pasukan kalian” Ajabde kaget kemudian Pangeran Mahaputra meninggalkan Ajabde setelah mengulangi keputusannya sekali lagi pada Ajabde

Di tempat Chakrapani, Saubhagyawati sedang memikirkan kehidupan kedua temannya yang begitu banyak memendam kemarahan, kebencian dan kesalahpahaman satu sama lain “Kita harus segera menjernihkan permasalahan ini secepat mungkin karena akan bisa berimbas pada Mewar juga, jika mereka berdua bisa bersama sama lagi pada persetujuan yang sama maka Mewar juga akan mendapatkan keuntungannya” ujar Chakrapani penuh semangat

“Kita harus melakukan sesuatu, Saubhagyawati ,,, kita harus bisa menyatukan mereka kembali”, “Tapi rasanya sudah sedikit terlambat, suamiku” Saubhagyawati menolak untuk mengatakan pada Chakrapani karena dirinya terikat dengan sebuah janji “Aku berjanji, aku tidak akan mengatakan pada siapapun” pinta Chakrapani penuh harap

“Kamu akan memenuhi tugasmu sebagai seorang istri dengan cara ini dan hal ini juga bisa membantu Ajabde “Baiklah, jangan katakan pada siapa siapa ,,, Ajabde telah memutuskan untuk memutuskan semua hubungannya dengan Mewar !” Chakrapani tertegun

Ketika Pangeran Mahaputra hendak meninggalkan Ajabde, Ajabde langsung mencegahnya “Kamu tidak bisa mundur begitu saja dengan cara seperti ini setelah aku mengatakannya pada Bai ji lal” ujar Ajabde kesal “Aku telah mengubah keputusanku, aku tidak menjanjikan apapun pada siapapun”,

“Tapi dia telah melakukannya dari sisi kamu” Pangeran Mahaputra tidak merasa keberatan akan hal itu “Jangan menganggap kalau aku ini salah, tapi ada sesuatu disini yang membuat aku menyadari kalau Bai ji lal dan aku tidak bisa bersama sama” Ajabde tertegun

“Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau tanah airmu itu berada diatas segala galanya bagimu ? Simpan saja masalah pribadimu dengan Bai ji lal dan lakukan hal ini sebagai perintah untuk menyelamatkan tanah airmu, selamatkan Bijolia dari Afghanistan, bukankah dharmamu mengatakan hal yang sama tentang hal ini ?” ujar Ajabde kesal “Pada dasarnya aku tidak pernah merubah keputusanku !” Pangeran Mahaputra tetap keras kepala dengan keputusannya

“Pasukan kami ini sangatlah lemah karena terus menerus mendapat serangan dari Afghanistan, kami memerlukan prajurit yang tersisa untuk menjaga Bijolia“ Pangeran Mahaputra mulai merenungkan ucapan Ajabde “Aku hanya akan bertahan disini karena aku fikir kalau aku bisa mempercayai kamu”

Ajabde kembali meyakinkan Pangeran Mahaputra kalau dirinya telah membuat sebuah keputusan yang tepat “Prajurit Afghanistan sudah mulai dekat saat ini, inilah saatnya untuk menunjukkan dedikasimu untuk tanah airmu ! Inilah saatnya kita harus melakukan sesuatu !” ujar Ajabde senang

“Bai ji lal pasti akan menyukainya jika kamu tetap tinggal disini” Pangeran Mahaputra langsung menatapnya dan berkata “Katakan pada Bai ji lal mu itu kalau aku tetap tinggal disini bukan karena dia tapi semua ini untuk kamu, aku telah mengubah keputusanku ini hanya karena kamu”

Ajabde langsung menganggukkan kepalanya, mereka berdua saling memandang satu sama lain untuk beberapa saat, setelah itu mereka mulai berjalan di arah yang berlawanan dengan perasaan yang agak canggung, mereka berdua kemudian saling melihat satu sama lain ketika tidak ada orang lagi yang melihat kearah mereka.

Chakrapani sudah menemukan apa yang harus mereka lakukan sekarang “Saubhagyawati, berjanjilah padaku kalau kamu tidak akan menceritakan pada Ajabde tentang keberadaan Pangeran Mahaputra di sini di Bijolia, hubungan Mewar sangat tergantung pada hubungan Ajabde dan Pangeran Mahaputra yang bersatu kembali, kita harus menunggu saat yang tepat” Saubhagyawati langsung menaruh tangannya di atas tangan Chakrapani sebagai bentuk janjinya

Parvat Das menemui prajurit Afghanistan “Tuan, aku tidak bisa menghentikan apapun sekarang karena sang Raja sudah memberikan stempelnya sendiri, lelang akan segera dilaksanakan sekarang, aku telah melihat begitu banyak emas yang telah dikumpulkan dan itu sangat cukup untuk Bijolia mendapatkan cukup uang untuk membuat pasukan yang solid untuk mereka sendiri, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang ? Apakah Badshah Khan akan segera diberitahu ? Dia pasti akan membuat sebuah aksi dari rencana yang tersisa” ujar Parvat Das cemas

Di tempat Ajabde, Ajabde mencoba untuk membawa kudanya namun kudanya tetap diam tidak mau bergerak sama sekali “Kudamu itu mungkin lelah, memangnya kamu mau kemana ?”, “Aku akan pergi ke istana Bijolia, aku ingin memberitahu Bai ji lal kalau kamu telah menerima untuk menjadi bagian dari pasukan prajurit kami” ujar Ajabde

“Tapi hari sudah hampir petang dan kamu akan melalui hutan untuk mencapai ke istana, apakah aku boleh menemani kamu ?” Ajabde hanya tersenyum dan menolaknya secara halus “Aku tahu setiap rute jalannya, setiap ujung ujung jalannya aku juga tahu”, “Iyaa, aku memang tidak begitu kenal dengan jalan jalan di Bijolia” ujar Pangeran Mahaputra, tak lama kemudian Ajabde segera pergi meninggalkan Pangeran Mahaputra

Di tempat pasukan Afghanistan, Parvat Das sangat ketakutan begitu mendengar nama Badshah Khan, pemimpin prajurit Afghanistan memuji Badshah Khan “Hanya dia tahu bagaimana untuk berburu mangsanya dengan mengubah warnanya seperti seekor bunglon”,

pada saat yang bersamaan seorang laki laki tua nampak sedang berjalan di hutan dengan sebuah tongkat, tepat pada saat itu ada seorang prajurit yang melintas di depannya dengan menunggangi kuda, laki laki tua itu langsung menghentikan langkah prajurit karena dirinya merasa kehausan,

akhirnya si prajuritpun setuju memberikan air minum pada laki laki tua itu, laki laki ini tahu kalau prajurit ini sebenarnya adalah seorang mata mata Rajput yang membawa sebuah pesan penting untuk Yang Mulia Jalalludin Muhammad Akbar di Agra dari Rajanya, prajurit itu kaget,

Sementara itu di tempat orang orang Afghanistan, pemimpin prajurit Afghanistan kembali melanjutkan memuji Badshah Khan, saat itu laki laki tua itu yang ternyata adalah Badshah Khan sedang membunuh si mata mata Rajput dan mengambil pesan dari mulutnya,

Badshah Khan sebenarnya benar benar menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Jalal yang telah berganti nama menjadi Akbar, si pemimpin prajurit Afghanistan mengatakan pada Parvat Das bagaimana Badshah Khan telah bersumpah untuk membalas dendam atas kematian ayahnya Shams Khan.

Saat itu Badshah Khan telah sampai di benteng Akbar di Agra, salah satu prajurit mencegahnya masuk ke dalam namun Badshah Khan memaksa “Pesan yang aku bawa ini sangatlah penting, lain kali berfikirlah dua kali sebelum mencegah Badshah Khan karena Yang Mulia Raja India telah menganggapku sebagai orang yang penting, dia selalu mempunyai waktu untukku” prajurit itu langsung menundukkan kepalanya dan berbalik masuk ke dalam istana

Malam itu angin bertiup sangat kencang, petir menyambar nyambar dengan kilatnya yang mengeluarkan sinar yang terang, tanda tanda hujan sebentar lagi akan datang, Ajabde sedang berjalan di tengah hutan seorang diri ketika dirinya merasakan kehadiran seseorang dibelakangnya,

Ajabde langsung mengeluarkan belati yang dibawanya sedari tadi, sementara itu di Agra, Badshah Khan baru tahu kalau Akbar tidak mau bertemu dengan dirinya saat ini, Badshah Khan sangat marah mengetahui hal ini, pada saat yang bersamaan saat itu Ajabde sedang melihat lihat kesekelilingnya dengan perasaan waspada dan hati hati tapi hasilnya nihil,

Ajabde tidak melihat seorangpun disana namun Ajabde mendengar ada suara langkah kaki yang mulai mendekat kearahnya, Ajabde semakin waspada, selang berapa saat kemudian Ajabde memalingkan wajahnya ke arah belakang sambil mengacungkan belatinya dan melihat seseorang yang berada dibelakangnya dengan tatapan terkejut

Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *