by

Sinopsis Uttaran : Kehidupan Ichcha dan Anak-Anaknya – Part 3

-Debroo-121 views

Perjalanan hidup Meethi sebagai putri Ichcha dan Veer, tidak lah mudah. Ia harus menjalani kehidupan berliku seperti yang dialami ibunya dulu, Ichcha. Tidak persis sama, tapi kesedihannya sangat mirip.

Metthi Uttaran
Metthi Uttaran

Percintaan dan pernikahannya tidaklah mulus. Ia harus terpisah dari suaminya, Akash Chaterji, karena hasutan orang-orang yang iri dan ikut campur dalam kehidupannya.

Meethi bukan hanya secara fisik sangat mirip dengan ibunya, Ichcha, tapi juga secara sifat dan kepribadian. Ia selalu tersentuh dengan ketidak adilan yang terjadi di sekitarnya. Ia akan selalu membantu, walau kenyamanan dan ketenangan hidupnya sendiri di pertaruhkan untuk itu.

Setelah mengalami perjalan panjang yang penuh intrik permasalahan, bahkan setelah melewati percobaan bunuh diri yang dilakukan orang-orang jahat dan iri padanya. Di bagian-bagian terakhir kisah Uttaran, Meethi mulai menemukan ketenangan berumah tangga bersama suaminya, Akash. Walau tak ada anak yang lahir dari rahimnya, kisah Uttaran dalam versi lain tetap menjangkau kehidupan mereka.

Gadis kecil bernama Rani, putri dari Nandini dan Akash, yang lahir akibat buah dari hubungan orangtuanya. Yang kelahirannya tak diinginkan sang ibu, karena tidak berhasil mencapai tujuannya mendekati Akash. Rani akhirnya menemui kebahagian hidup setelah berada dalam asuhan Meethi, sebagai istri Akash yang sah.

Nandini yang termakan rasa iri, hampir mencelakai putrinya sendiri ‘Rani’ yang sudah diterima Meethi dengan tulus dan kasih sayang. Rani jatuh koma karena memakan apel berisi ilmu sihir hitam yang sejatinya di tujukan untuk Meethi. Akash sangat murka dengan niat Nandini yang ingin menghabisi Meethi.

Di lain pihak, ada sosok Khanna yang punya dendam dengan Akash dan Vishnu. Dialah yang sudah bekerja sama dengan seorang yang punya ilmu hitam bernama Guru Ma/Daksa, untuk membalas dendam. Ia memakai tangan Nandini untuk menghancurkan kehidupan keluarga musuhnya, dimulai dari keluarga Akash. Guru Ma sangat yakin jika ilmu sihirnya sudah bekerja, ia memantaunya lewat kelopak bunga yang ada di tempatnya.

Meethi sampai berlutut pada Nandini yang notabene adalah ibu kandung Rani, memohon untuk diantarkan ke Guru Ma yang punya ilmu sihir itu, mencari penawarnya. Akash semakin marah pada Nandini, ibu kandung yang tak punya hati pada putrinya sendiri. Meethi tak perlu berlutut pada wanita itu.

Meethi tak mau mendengar pertengkaran, saat ini, waktunya semakin singkat, mereka hanya punya waktu 48 jam untuk menyelamatkan Rani. Meethi akan melakukan apa saja demi Rani, ia bahkan akan rela menukar nyawanya sendiri.

Nandini akhirnya membawa Meethi ke Guru Ma. Akash tidak bisa mendampingi karena ia harus tetap di rumah sakit, menjaga Rani. Si pemilik sihir sangat terkejut dengan kemunculan Meethi yang masih sehat walafiat.

Meethi memohon pada si pemilik ilmu sihir hitam tersebut untuk menyelamatkan Rani. Guru Ma justru marah pada Meethi, siapa yang sudah makan apel itu tidak akan selamat. Tidak ada obatnya. Meethi tidak percaya, ia yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan kejahatan menang melawan kebaikan.

Guru Ma tidak terpengaruh, ia mempersilahkan Meethi untuk berdoa sebanyak yang dia mau sambil mengingatkan bahwa bunga yang belum berubah menjadi hitam, itulah waktu yang tersisa bagi Meethi untuk menyelamatkan Rani. Guru Ma juga menantang Meethi bahwa Tuhan sendiri tidak bisa menghentikan apa yang sudah ia mulai. Meethi menerima tantangan itu. Ini tentang pertarungan baik dan jahat, doa penuh cinta dari seorang ibu atau mantra sihir yang jahat.

Damini muncul di rumah sakit. Ibunya Akash, Maiyya menangis. Ia curhat, kenapa harus cucunya yang mengalami kesalahan masa lalunya. Damini menjawab jika semua itu adalah takdir, hidup dan mati adalah milik Tuhan. Sekarang waktunya berdoa, bukan hanya menyesal, Tuhan akan mendengar doa seorang ibu.

Meethi yang sedang di taksi dan ditolak oleh Guru Ma untuk menyelamatkan Rani. Justru menguatkan Nandini yang menyesal atas semua yang dilakukannya, ia khilaf telah bersekongkol dengan ilmu hitam. Sopir taksi yang mendengar pembicaraan itu, sampai menghentikan taksinya dan memberi tau bahwa ada solusi dari masalah dua wanita itu yang pernah ia dengar dari ayahnya. Jika ada seseorang yang dikutuk atau terkena ilmu hitam, ia bisa disembuhkan oleh ular keramat yang diberi susu. Meethi langsung meminta untuk diantarkan ke kuil ular.

Di kuil ular, Meethi membawa persembahan susu dan berdoa dengan khusuk pada Dewa Shiwa, si pemilik kuil dan ular. Seekor ular muncul dan Meethi mengulurkan mangkok susunya. Ular meminum susu. Meethi Nandini lega. Meethi meminta keselamatan untuk putrinya. Di tempanya, Guru Ma, juga sedang membaca mantra sihir dengan serius.

Rani semakin kritis, ia memanggil Meethi dalam ketidak sadarannya. Akash dan yang lain coba menghubungi Meethi, tapi tak dijawab. Dokter menyerah, Rani sudah tak tertolong, keluarga kaget.

Sementara di kuil ular, seorang suci memberitau bahwa ada satu cara lagi untuk menyelamatkan anak-anak, yang bisa ditempuh, berjalan diatas bara api. Meethi langsung menyetujuinya. Nandini berusaha mencegah kenekatan Meethi demi mencari keselamatan Rani. Meethi tetap dengan tekadnya, hari ini, kejahatan harus kalah. Sebelum melangkah diatas bara, ia berdoa, memang kakinya terasa sangat sakit, tapi ia tak menyerah. Guru Ma, mulai merasakan ketidaknyamanan dalam membaca mantra. Di rumah sakit, Rani mulai menggerakkan jarinya, mulai bernafas lagi.

Kain hitam milik Guru Ma terbakar, bersamaan dengan kehilangan kesadarannya. Meethi juga sudah selesai dengan ritual bara apinya. Nandini tak habis pikir dengan tekad Meethi terhadap keselamatan Rani yang adalah putri kandungnya. Meethi bahkan baru mengenal putrinya itu. Nandini malu sendiri.

Damini menelpon Meethi bahwa Rani telah selamat. Meethi membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Semua keluarga senang. Rani begitu senang begitu bertemu dengan Meethi.

Nandini menerima kesalahannya. Saat ini ia hanya ingin minta ma’af pada Rani dan semuanya. Maiyya merespon bahwa Tuhan pun tidak bisa mema’afkan apa yang sudah dilakukan Nandini. Nandini mengangguk pasrah. Akash menambahkan bahwa Rani jika tau kebenarannya, tidak akan bisa mema’afkannya.

Khanna yang masih belum menyerah dengan kegagalannya mencelakai Akash dan keluarga, datang untuk berduel. Akash berhasil menjatuhkan Khanna. Nandini melihat dari jauh. Akash yang merasa sudah cukup membela diri dan memberi pelajaran pada Khanna, berbalik, meninggalkannya. Ia tidak menyadari jika Khanna menodongkan pistol di belakangnya. Nandini yang melihat hal itu, berlari dan berteriak memberi tau Akash. Ia juga menyerang balik Khanna, hingga pistol itu balik mengenai Khanna.

Polisi mengadakan penyelidikan, Akash memberi keterangan jika Khanna menyerangnya dan akan menembaknya. Nandini hanya membantu, kalau tidak, maka dialah yang mati saat ini. Meethi terkejut mendengar hal tersebut. Mirip dengan apa yang dulu dialami ibunya, Ichcha.

Meethi bertanya tentang kenekatakan Nandini. Nandini memberi alasan, ia hanya memenuhi janjinya pada Rani, tidak ada yang bisa membunuh Akash selama ia masih hidup. Meethi menyesalkan sikap Nandini, seharusnya ia memikirkan Rani. Nandini tidak merasa khawatir apapun tentang Rani selama Meethi bersama Rani. Meethi, Akash dan Maiyya, sekarang sudah saatnya hidup tenang dengan Rani. Ia akan melakukan penebusan dosanya sekarang di penjara.

Meethi coba menyelamatkan Nandini, tapi polisi hanya melihat bukti di lapangan dan pengakuan si pelaku utama.

Kehidupan keluarga Meethi-Akash bersama Rani dan Maiyya berjalan ceria.

Di kantor polisi, Nandini mengetahui satu hal, ia melihat seorang gadis kecil yang sedang ditenangkan polisi, yang sedang berteriak-teriak memanggil ayahnya, Khanna. Dari seorang polwan, Nandini juga tau jika ibu si gadis kecil bernama Tanu itu juga sudah meninggal. Nandini semakin merasa buruk, ia ingat dengan Rani yang jauh lebih beruntung memiliki keluarga yang menyayanginya.

Saat Meethi mengunjunginya ke penjara, Nandini mengajak Meethi bicara. Ia tidak menyesal membunuh Khanna, tapi ia merasa bersalah pada seorang gadis kecil. Meethi mengira Nandini membicarakan Rani, tapi mata Nandini melirik ke arah Tanu yang sedang berusaha diberi makan oleh polwan. Nandini memberitau, itu adalah putri Khanna. Ibunya juga sudah lama meninggal. Polisi akan mengirimnya ke panti asuhan. Ia akan mendapatkan warisan Khanna setelah berusia 18 tahun.

Nandini juga menyampaikan kegelisahannya, jika Tanu jatuh ke tangan yang salah. Ia akan menjadi Chameli lain, biang kerok dari kesusahan yang sudah dialami oleh orang-orang yang mencintainya. Nandini meminta Meethi untuk menjadi ibu bagi putri Khanna, mengadopsinya. Tak ada ibu yang lebih baik bagi Tanu selain Meethi.

Sementara Tanu yang menolak makan buah, ia melemparkannya dan buah itu mendarat dekat Meethi yang sedang menatapnya. Nandini bertanya pendapat Meethi. Meethi memberitau, ia teringat masa kecilnya sendiri. Ia juga taunya tidak memiliki orangtua di masa kecil, tapi Anni Damini dan Kanha memberikannya cinta. Cinta mereka berdualah yang bisa memberi pengertian padanya, hingga ia bisa menerima kedua orangtuanya, Ichcha dan Veer.

Singkat cerita, Meethi memberi tau Akash tentang kondisi Tanu atau Tamanna. Akash juga setuju dengan keputusan Meethi. Mereka membawa Tanu ke rumah mereka, Rani dan Maiyya kaget. Akash menjelaskan ini adalah rumah baru bagi Tanu. Meethi memberitau keluarganya bahwa gadis kecil bernama Tamanna itu akan tinggal bersama mereka. Tapi, ternyata itu tak berjalan mulus. Rani menolak kehadiran gadis kecil lain di rumahnya. Ia tak mau berbagi Meethi dengan gadis manapun.

Rani melakukan protes keras. Meethi menjelaskan bahwa mulai sekarang dia akan mempunyai dua anak perempuan. Rani tetap menolak. Sementara Akash menenangkan Tanu yang mendapatkan penolakan dari Rani.

Meethi meminta ma’af pada Maiyya, karena tidak sempat meminta pendapatnya. Itu karena mereka terdesak waktu, ia hanya sempat meminta persetujuan Akash. Maiyya menenangkan Meethi, semua akan bisa diatasi.

Maiyya membujuk Rani, mengatakan bahwa ia adalah cucunya, putri Akash, darah dagingnya, pewarisnya. Semua yang ada di rumah ini adalah milik Rani. Jadi biarkan gadis kecil itu tinggal disini, dia tidak memiliki hak. Rani cukup memberikan Tamanna pakaian lamanya, mainan, buku, semua barang bekas miliknya. Gadis kecil itu sudah akan sangat senang dengan pemberian itu. Rani masih keberatan jika Meethi Ma menyuapi si gadis kecil dengan tangannya juga.

Maiyya memberitau sebuah trik, biarkan saja satu dua kali Meethi Ma menyuapi, Rani kan tau sikap Meethi Ma, kalau Rani terus-terusan marah, ia justru tidak akan mendapatkan perhatian apa-apa. Rani harus melakukan drama kecil juga untuk membuat Meethi Ma bahagia dengan gadis kecil itu. Rani mengangguk setuju. Sejak saat itu, Rani berusaha mengontrol dirinya sendiri saat marah dan cemburu melihat orangtuanya memperhatikan Tanu.

Damini berkunjung dengan Nani ke rumah Meethi. Hal itu membuat Meethi kaget, begitu juga dengan Maiyya. Nani, Sumitra Devi, menjelaskan, jika anak-anak bisa menjadi teman, kenapa mereka orangtua, tidak bisa memilah-milah perbedaan. Maiyya kagum dengan perubahan sikap Nani.

Damini bertanya pada Meethi tentang Tamanna, apa itu sebuah keputusan yang benar? Mengingat, Rani sendiri juga baru masuk dalam kehidupan keluarga Meethi dan Akash. Bagaimana ia bisa menerima Tamanna.

Meethi meyakinkan Anni Damini, bahwa ia belajar semuanya dari dia. Karena Ma dan Pa-nya juga bisa menerima Kanha. Bade papa (Jogi Thakur, red) dan keluarganya juga menerima Anni dan Ma Ichcha di rumah mereka. Maka Rani juga pasti akan bisa memahami dan menerima Tamanna seperti ia menerima Rani sebagai putrinya. Mereka berdua akan menerima satu sama lain.

Nani masih meragukan pilihan yang diambil Meethi. Karena Meethi belum melihat apa yang mereka lihat dan alami. Ia mengingatkan Damini, bagaimana mereka yang sudah tua ini dulu melihat bagaimana Tappu telah membawa Iccha ke rumah dengan memegang tangannya. Tapi Damini juga pasti tidak lupa apa yang terjadi setelah itu, Tappu mulai merasa iri pada Ichcha karena cinta orangtuanya sudah terbagi. Tappu menaruh kemarahan dan kebencian pada Ichcha selama bertahun-tahun.

Nani menambahkan pada Meethi, bahwa ia dan Damini sudah menjalani perjalanan panjang persahabatan dan permusuhan bersama-sama. Mereka berdua telah melawan satu sama lain untuk hidup mereka, tetapi sekarang mereka jadi takut. Mereka berharap sejarah tidak akan terulang di rumah ini.

Meethi berjanji pada Nani bahwa sejarah tidak akan terulang. Rani putrinya pasti akan menerima Tamanna. Nani mendoakan semoga kata Uttaran tidak membuat kekacuan lagi. Ia juga berdoa bahwa gadis-gadis kecil itu tidak membiarkan kemarahan atau kecemburuan masuk dalam kehidupan mereka. Sisanya terserah Tuhan.

Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan Rani pada Tamanna, bahwa itu adalah kamarnya. Nani dan Damini saling menatap cemas. Rani terus berteriak bahwa Tamanna bukanlah adiknya. Walau Meethi datang untuk mendamaikan, Rani tetap bersikeras ia tidak mau berbagi apapun dengan Tamanna, tidak akan mentolerir apapun yang disentuh.

Nani dan Damini seperti terhisap ke masa lalu, mereka ingat bagaimana Mukta tidak mau bebagi kamar dengan Meethi.

Maiyya datang ke kamar Rani, Meethi menjelaskan pada ibu Akash jika Rani bukanlah anak nakal. Kemudian Meethi berkata tegas pada Rani bahwa Tamanna akan tinggal di kamar itu bersama Rani. Rani cemberut saat Meethi mengembalikan tas Tamanna.

Meethi mengingatkan Rani, saat Rani datang ke rumah ini, semua menerimanya. Apa ada masalah dengan itu? Sekarang apa masalahnya dengan kedatangan Tamanna. Rani memanggilnya Ma, tapi tidak manu menerima apa yang dikatakannya. Meethi kembali menegaskan bahwa Tamanna akan berbagi ruangan itu mulai hari ini. Meethi kemudian menyuruh Tamanna untuk menjabat tangan Rani.

Nani, bisa melihat dengan jelas ada sosok Tappu di diri Rani.

Meethi masih mendamaikan dua gadis kecil itu. Tamanna harus selalu ingat jika Rani adalah kakanya, ia harus mendengarkan. Rani juga harus berjabat tangan dengan Tannu sebagai seorang adik. Itu menjadi tanggung jawab Rani mulai sekarang. Tamanna tidak boleh terluka karena ulah Rani.

Rani tetap tidak terima Tamanna adalah adiknya. Ia mendorong Tamanna keluar ruangan. Meethi sampai berteriak pada Rani, bahwa ia menerima Rani sebelumnya sama seperti ia menerima Tamanna hari ini. Rani malah semakin marah karena Meethi telah berteriak padanya hari ini gara-gara gadis bernama Tamanna itu. Maiyya menyudahi jika hari ini Rani akan tidur bersamanya.

Damini kembali mengingatkan keputusan Meethi. Ia tidak boleh kehilangan kesabarannya, karena dalam hal ini, anak-anak tidak bersalah. Damini mengatakan untuk memberi waktu pada mereka berdua. Meethi mengangguk. Nani setuju dengan pendapat Damini, anak-anak seperti pasir basah, orangtua bisa membentuk sesuai keinginannya.

Damini kemudian menghampiri Tamanna dan memperkenalkan diri, kemudian memberi tau jika Meethi sudah menerimanya sebagai putrinya. Jadi jangan takut, Meethi akan selalu menjaganya, mencintainya selalu seperti putrinya. Damini tersenyum pada Tamanna. Gadis kecil itu akhirnya juga tersenyum.

Keesokannya, Maiyya membangunkan Rani dan menyuruhnya meminta ma’af pada Meethi Ma. Rani awalnya keberatan. Maiyya mengingatkan bahwa Meethi dan Akash adalah orangtua Rani, dan akan tetap seperti itu. Rani berlari ke kamarnya, tapi yang dilihatnya justru membuatnya cemburu, Meethi Ma menemani Tamanna tidur. Ia kembali marah karena cemburu.

Selanjutnya, Rani mulai mempermainkan Tamanna. Mengejeknya saat mau mengambil pakaian di lemari, karena semua adalah miliknya. Tamanna jadi bingung, bagaimana dia mengganti pakaian setiap harinya, Rani tak peduli. Sesaat, Rani ingat apa yang diucapkan Maiyya padanya, ia sudah berjanji untuk memberikan barang lamanya pada Tamanna. Rani kemudian memberikan pakaian lamanya (Uttaran) ke Tamanna. Tamanna melihat sedih ke gaun yang dipakainya, ia ingat ayahnya. Rani justru tersenyum senang melihat hal itu.

Saat Meethi melihat Tamanna dalam pakaian bekas Rani, ia terkejut. Begitu juga dengan Akash. Ia bertanya, bukankan ia sudah membelikan Tamanna pakaian baru. Tamanna hanya menjawab lirih jika ia menyukai pakaian tersebut. Meethi dan Akash semakin terkejut. Tamanna melihat Rani senang dengan jawaban yang diberikannya.

Meethi memberitu Tamanna bahwa ia tidak perlu memakai Uttaran apapun di rumah ini. Maiyya tidak setuju dengan ucapan Meethi. Mereka sudah dengar bahwa Tamanna memakai pakaian itu karena menyukainya. Rani adalah pewaris dari rumah ini.

Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *