by

Maharana Pratap – Sinopsis Mahaputra Episode 302

-Debroo-78 views

Debroo.com. Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap – Sinopsis Mahaputra Episode 302. Di Bijolia, Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap mengatakan pada prajurit yang terakhir yang masih hidup untuk merelakan teman temannya yang telah mati di tangan Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap

Maharana Pratap - Sinopsis Mahaputra Episode 302
Maharana Pratap – Sinopsis Mahaputra Episode 302

“Kamu akan melakukan sebuah tugas ringan” prajurit itupun menuruti perintah Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap dengan sangat ketakutan, sementara itu Ajabde menyeka airmata yang membasahi pipinya, kemudian Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap memberikan sebuah pesan untuk Badshah Khan melalui prajurit tersebut

“Katakan padanya untuk segera melarikan diri dari sini segera secepat mungkin !” Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap mengulanginya beberapa kali sambil memukulinya “Larilah ! Selamatkan nyawamu sendiri !” prajurit itu langsung berlari kencang meninggalkan tempat tersebut, Fatta dan Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap saling menganggukkan kepalanya satu sama lain

Sementara itu di kerajaan Bijolia, Ratu Hansa Bai dan Balwant sedang berdiskusi dengan orang kepercayaan Ajabde yang bernama Parvat Das “Kamu tahu yang sebenarnya, kita akan membutuhkan banyak sekali sumber pendanaan untuk pemborontakan yang besar seperti ini, Chittor tidak membantu kita sudah cukup lama, apalagi kekayaan Bijolia telah digunakan untuk kebutuhan rakyat Bijolia” ujar Parvat Das,

namun Ratu Hansa Bai tetap percaya pada rencana yang dibuat oleh Ajabde “Kita akan memastikan pasukan kita”, “Lalu siapa yang akan memimpin kami ketika Bai ji lal setuju kalau Fatta itu adalah orang yang pemberani dan tidak punya rasa rakut tapi dia itu bodoh, dia tidak akan bisa membimbing kami dengan baik, kita membutuhkan seseorang yang pintar, berpengalaman dan tidak takut, panglima yang seperti itu yang bisa memimpin prajurit kita, apakah kita mempunyai seseorang yang seperti itu, atas dasar siapa kita bisa memulai rencana ini ?” ujar Parvat Das

Sekilas Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap menatap ke arah Ajabde sambil tersenyum, Fatta juga melihat mereka berdua satu per satu “Kenapa kalian berdua melihat aku seperti itu ? Paling tidak kalian bisa mengucapkan terima kasih kan padaku ?”

Fatta memuji dirinya sendiri secara tidak langsung “Rupanya kamu telah belajar banyak dariku dalam kurun waktu yang singkat” Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap hanya tersenyum memdengar ucapan Fatta, Fatta memuji cara berkelahinya sementara Ajabde hanya terdiam sambil menatap terus kearah Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap “Fatta, hentikan !” tiba tiba Ajabde buka suara

“Aku telah mengerti tentang hal ini, seseorang yang disebut sebagai tukang kuda tidak perlu belajar apapun dari kamu, Fatta ,,, kamu sangat berterima kasih padamu untuk apapun yang telah kamu lakukan pada kami”, “Itu tidak perlu, jika kamu benar benar ingin kembali ke beberapa cara maka ajaklah aku menjadi bagian dari pemborontakanmu dengan memberikan aku pekerjaan itu” pinta Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap,

Pada saat yang bersamaan di kerajaan Bijolia, Ratu Hansa Bai sangat yakin kalau Dewa Ekling Ji akan mengirimkan seseorang yang seperti itu yang bisa meyakinkan mereka, orang inilah yang akan membebaskan Bijolia dari permasalahan ini

Sementara itu Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap ingin menjadi bagian dari pasukan mereka, Fatta memuji keahlian dari pasukan Bijolianya, sedangkan Ajabde memuji kemampuan Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap dalam menangani prajurit Afghanistan

“Kamu telah mengalahkan mereka dengan baik, karena itulah aku terkesan pada caramu tapi kami harus mengatakan hal ini pada Bai ji lal terlebih dahulu, dengan begitu kami bisa mengajak kamu” ujar Ajabde yang kemudian memanggil kudanya dan hendak pergi meninggalkan Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap

“Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap !” Ajabde segera berhenti dan menoleh ke arah belakang dimana Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap masih berdiri disana “Namaku Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap ! Aku ingin kamu memanggil namaku dengan namaku dan bukan dengan sebutan tukang kuda”

Ajabde menatap ke arah Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap “Kenapa ? Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah ?” tanya Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap heran “Kamu telah memenangkan pertarungan ini tapi kamu belum mendapatkan hakmu untuk memaksakan kehendakmu padaku”

Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap menyetujui ucapan Ajabde “Jangan lupa bawa Fatta ke tabib untuk mengobati luka lukanya” Fatta menolak usulan Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap “Aku akui kalau kamu sangat kuat, Fatta” ujar Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap kemudian menoleh ke arah Ajabde “Jadikanlah aku sebagai temanmu” pinta Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap sambil menatap kearah Ajabde, mereka berdua kemudian saling memandang satu sama lain

Di sebuah tempat bagian Bijolia, Chakrapani sedang sibuk membaca zodiak orang orang yang penasaran dan datang padanya, banyak perempuan dari istana Bijolia mengajak Saubhagyawati untuk menemui pendeta ini (Chakrapani), semua orang memuji si pendeta,

Saubhagyawati berusaha untuk menghentikan kepercayaannya pada hal semacam ini sejak saat Ajabde dan Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap berpisah “Suamiku sendiri pandit Chakrapani Mishra pernah memprediksikan sepasang kekasih hingga mereka bersatu dengan bantuan Dewa sendiri tapi lihat apa yang terjadi kemudian ?” ujar Saubhagyawati cemas

“Suamimu pasti telah kembali ke Chittor setelah menyelesaikan pendidikan tertingginya, apakah kamu tidak suka tinggal bersamanya di Chittor ?” tanya teman Saubhagyawati “Aku sebenarnya suka tapi aku tidak tahu bagaimana cara menghadapinya, dia telah memenuhi janjinya dengan pendidikan tingginya sementara aku tidak pernah tertarik dengan pelajarannya, aku telah meninggalkan bangku sekolah sejak lama sekali dan kembali ke Bijolia untuk membantu tuan putri Ajabde” ujar Saubhagyawati,

Pada saat yang bersamaan Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap dan Ajabde tiba tiba mengatakan hal yang sama untuk berhenti sementara waktu, untuk meminum air “Aku bisa melakukannya tanpa hal itu” tiba tiba mereka berdua kompak mengatakan hal yang sama,

kemudian Ajabde ingin segera menemui Bai ji lal secepat mungkin, sementara itu Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap bertanya tanya “Apakah begini kebudayaan kalian untuk bertingkah keras kepala dan marah sepanjang waktu ?” Fatta menanggapainya dengan sebuah gurauan, tak lama kemudian Pangeran Mahaputra / Maharana Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap meninggalkan mereka bersama kudanya, Ajabde hanya bisa menatapnya dengan tatapan nanar

Di tempat Chakrapani, saat itu Saubhagyawati sudah berada di depan Chakrapani, namun Saubhagyawati tidak membawa zodiaknya jadi Chakrapani memintanya untuk menunjukkan tangannya “Aku akan menceritakan padamu semuanya tentang kamu secaepat mungkin”

Saubhagyawati memujinya “Suamimu rupanya sangat pintar, dia sangat mencintai kamu, kamu akan menjadi teman orang orang besar” Saubhagyawati segera menarik tangannya dari Chakrapani sambil berkata “Aku tahu kamu itu hanyalah seorang pembohong ! Aku telah menikah sejak aku masih kecil dulu dan aku tidak akan pernah mendapatkan seorang suami yang lebih baik dari pada suamiku itu !”

ketika Saubhagyawati hendak meninggalkan Chakrapani, Chakrapani segera mencegahnya “Aku akan melihat kedua tanganmu, dengan begitu aku akan bisa mengatakan padamu semuanya” akhirnya Saubhagyawati mau juga memperlihatkan tangannya pada Chakrapani yang notabene adalah suaminya sendiri,

sesaat Chakrapani melihat kedua tangan Saubhagyawati dengan serius dan lebih seksama, dalam hati Saubhagyawati berkata “Pasti orang ini akan mengatakan kalau aku akan tinggal berjauhan dengan suamiku untuk selama lamanya” namun ternyata Chakrapani malah tersenyum manis dan memanggil nama Saubhagyawati “Saubhagyawati” Saubhagyawati pun menyadari kalau laki laki di depannya ini adalah suaminya Chakrapani “Chakrapani ?” tanya Saubhagyawati sambil tersenyum senang, Chakrapani langsung mengangguk sambil tersenyum dan menatap kearah istrinya ini.

Ajabde bergabung dengan Ratu Hansa Bai dan Parvat Das, Ratu Hansa Bai menceritakan semua yang dikatakan oleh Parvat Das “Dia ingin agar kita bergabung menjadi bagian dari kerajaan tetangga kita, Ajabde” Ajabde langsung menolaknya “Aku baru saja menemukan sebuah solusi, ibu ,,, untuk mengatasi permasalahan kita ini tentang siapa nanti yang akan menjadi panglima dalam rencanaku” Ratu Hansa Bai dan Parvat Das terkejut begitu mendengar ucapan Ajabde “Aku hanya sedang menunggu untuk memastikan apakah dia bisa dipercaya atau tidak, ibu ,,, aku pasti akan menceritakan tentang dia pada ibu nanti” ujar Ajabde

Di tengah pasar, Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap sedang berjalan bersama kudanya sambil mencari cari Chakrapani dan memanggil manggil namanya “Dhyan Singh ! Dhyan Singh ! Dimana kamu ?” saat itu Chakrapani masih sibuk ngobrol dengan Saubhagyawati

“Saubhagyawati, kenapa selama bertahun tahun kamu tidak mengirimi aku surat untuk hal yang sekecil seperti itu ?” ujar Chakrapani kesal “Kamu juga tidak melakukannya untukku” balas Saubhagyawati “Bagaimana kalau kita bertemu lagi disuatu tempat ?”Saubhagyawati setuju

“Tapi sebentar, apa yang kamu lakukan di Bijolia ? Menggunakan nama palsu lagi ?” tanya Saubhagyawati heran “Nanti akan aku ceritakan semuanya kekamu, tapi sekarang aku ingin melihat kamu dulu” Saubhagyawati tersipu malu, namun tiba tiba Chakrapani panik begitu mendengar panggilan Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap,

Chakrapani segera menyuruh Saubhagyawati untuk pergi dari sana namun saat itu Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap sempat melihatnya dan mulai penasaran dengan perempuan yang baru saja bertemu dengan sahabatnya ini “Siapa dia, Chakrapani ?” tanya Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap heran

“Dia adalah salah satu muridku, pangeran”, “Ingat yaa ! Kamu ini sudah menikah !” Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap berusaha membahas lebih jauh namun Chakrapani segera mengalihkan pembicaraan “Bagaimana dengan harimu hari ini, pangeran ?”, “Apakah kamu tahu kalau gadis petarung itu sedang menyelidiki setiap orang ?”

Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap kemudian menceritakan semuanya ke Chakrapani tentang kekhawatirannya tidak ada satu pesanpun yang di kirimkan dari Bijolia ke Chittor “Rupanya ada seorang musuh dalam selimut di Chittor, kita harus mencari tahu tentang siapa sebenarnya pelakunya ini !” ujar Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap geram

Di kerajaan Bijolia, Parvat Das meminta pada Ajabde untuk tidak terlalu percaya diri “Kita akan membutuhkan banyak uang untuk penyerangan yang begitu besar, tuan putri, apakah kita akan mendapatkannya dari acara perayaan Diwali ? Orang orang Afghanistan itu akan tahu melalui acara ini kalau kita akan menyerang musuh kita” ujar Parvat Das cemas

namun Ajabde tidak ingin ada perasaan negatif disekitar mereka “Siapa yang akan mengatakan pada orang Afghanistan itu ? Ketika kita bisa mempercayai setiap anak kecil sekalipun di Bijolia, mengapa kamu meragukannya ?” Ratu Hansa Bai mencoba untuk menenangkan Ajabde yang mulai marah

“Memang benar kalau kita akan memerlukan banyak uang untuk penyerangan ini, mungkin lebih dari apa yang telah kita anggarkan dari acara tersebut” Ajabde mulai memikirkan hal tersebut “Baiklah, rasanya lebih baik aku pergi saja, karena rasanya tidak ada gunanya lagi aku memberikan nasehatku disini” ujar Parvat Das,

saat itu Balwant mengatakan tentang peraturan seorang Raja “Tidak ada seorangpun yang boleh pergi dari sini tanpa ijinku ketika aku menjadi Raja yang sesungguhnya !” Ratu Hansa Bai menyuruhnya untuk diam dan merenungkan hal ini

Pada saat yang bersamaan, Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap dan Chakrapani sedang mengecek perbatasan luar Bijolia tapi mereka tidak menemukan satu orang pun prajurit disana “Rupanya ada kelalaian dalam hal penjagaan, itulah mengapa orang orang Afghanistan itu bisa membuka tempat mereka disini” ujar Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap kesal

“Tidak ada daerah yang bisa membuat kamp kamp dengan tidak adanya sumber daya tepat seperti tentara, senjata dan uang, jika salah satu daerah tidak mempunyai dari ketiga elemen penting itu maka akan terjadi seperti inilah jadinya” ujar Chakrapani prihatin, Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap menyesal telah tinggal jauh di Chittor sekian lama untuk pertama kalinya

“Aku tidak mengetahui apapun yang terjadi disini”, “Aku tahu kamu tidak mengetahuinya karena kamu sedang sibuk membuat perbatasan yang kuat, sekarang kamu telah kembali maka semua yang ada disini akan baik kembali juga” Chakrapani berusaha menghibur Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap

“Sekarang semua itu tergantung pada bagaimana Fatta dan kakaknya menceritakan tentang kisahku di depan Bai ji lal, maka begitu aku masuk ke pasukan tentara Bijolia maka aku akan bisa mengatakan pada prajurit Afghanistan kalau kali ini adalah waktunya bagi mereka untuk melarikan diri dari sini !

ku akan mengatur kamp-kamp militer di semua daerah yang tidak dilindungi sesegera mungkin, tidak akan ada orang Afghanistan yang akan mencoba untuk menyerang tempat kita dengan berpikir untuk menjadikan daerah ini menjadi milik mereka sejak hari itu dan seterusnya” ujar Pangeran Mahaputra / Maharana Pratap geram

Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *