by

SINOPSIS MAHAPUTRA episode 297 Bagian 2

-Debroo-62 views

Debroo.com. SINOPSIS MAHAPUTRA episode 297 Bagian 2. Di kerajaan Mewar, Ratu Veer Bai merasa senang karena sebentar lagi Pangeran Mahaputra akan membawa Ajabde kembali ke Chittor,

SINOPSIS MAHAPUTRA episode 297 Bagian 2
SINOPSIS MAHAPUTRA episode 297 Bagian 2

Ratu Veer Bai menceritakan hal ini pada Chand “Begitu Ajabde kembali ke Chittor maka kebahagiaan juga akan kembali lagi di istana ini” ujar Ratu Veer Bai senang, dari kejauhan Ratu Bhatyani mendengarkan pembicaraan mereka sambil menyela “Apakah memang seperti itu ?”

Ratu Veer Bai dan Chand langsung kaget begitu mendengar suara Ratu Bhatyani, Chand segera mengambil piring yang dibawa sedari tadi oleh Ratu Veer Bai dan segera memakan makananya, sambil mendekat kearah mereka Ratu Bhatyani langsung menghardik Chand “Ini bukan tempat untuk makan, Chand ! Pergilah ke kamarmu segera !”

Chand segera berlalu meninggalkan Ratu Veer Bai dengan perasaan takut setelah dibentak oleh ibunya, Ratu Bhatyani juga merasa ketakutan ketika Ratu Bhatyani sudah berada didekatnya “Maafkan aku, kak Bhatyani ,,, maafkan aku karena aku telah menyebut nama Ajabde”

Ratu Bhatyani merasa heran pada Ratu Veer Bai “Jadi kamu ingin di lempar dari istana ini oleh Rana Ji ? Mengapa kamu lupa pada janjimu padaku ? Untuk tetap diam dan kamu akan mendapatkan semua kehormatan itu, kemewahan dan cinta Rana Ji sebagai balasannya, apakah kamu ingin agar aku mengatakan pada Rana Ji kalau kak Jaiwanta pergi ke Vrindavan itu semua gara gara kamu ?” Ratu Veer Bai menggelengkan kepalanya ketakutan

“Apa yang akan kamu katakan ke Chand Kanwar ? Kali ini aku maafkan tapi lain kali aku tidak akan memaafkan kamu, Veer Bai ! Jika kamu menyebut nama Ajabde lagi di istana ini ! Aku akan mengubur kamu hidup hidup di pojokkan istana ini ! Cam kan itu !” bentak Ratu Bhatyani dengan penuh amarah,

Ratu Veer Bai menantapnya dengan perasaan takut yang amat sangat, Ratu Bhatyani kemudian sedikit melunak dan berkata “Kamu akan tinggal dengan bahagia di istana ini sampai Ajabde pergi menjauh dari daerah kita, dengan kata lain ketika dia kembali kesini maka semua kebahagiaanmu akan sirna !”

Ratu Veer Bai menyeka airmatanya dan berkata “Aku akan tetap diam, kak ,,, tapi apa yang harus terjadi akan terjadi, kak ,,, jika mereka memang di takdirkan untuk bertemu maka tidak ada seorangpun yang akan menghentikannya, bahkan kamu juga tahu itu kan, kak ?”

Ratu Bhatyani benar benar tidak suka dengan ucapan Ratu Veer Bai “Aku akan mengubah takdir itu dengan skenario yang aku buat, Veer Bai !” Ratu Veer Bai bisa melihat ada sebuah ketakutan dalam diri Ratu Bhatyani, Ratu Bhatyani segera menampar pipi Ratu Veer Bai dengan keras dan meninggalkannya begitu saja dengan perasaan kesal, Ratu Veer Bai nampak menangis diam diam

Di kerajaan Bijolia, tabib istana sedang mengobati kening Fatta dengan obat obatan tradisional, untungnya lukanya itu hanya luka biasa saja “Dia akan tidak sadar untuk sementara waktu, tuan putri” ujar sang tabib, Ratu Hansa Bai segera menengok ke arah Ajabde

“Kamu lihat kan hasilnya dari kebanggaanmu pada Chittor ? Mereka tidak hanya menyerang pembawa pesan kedamaian kita, Fatta tapi juga kepercayaanmu, kamu masih mempunyai waktu, Ajadbe ,,, lihat kenyataannya !” kaki tangan Ajabde yang perempuan setuju dengan ucapan Ratu Hansa Bai

“Tidak ada seorangpun yang akan setuju dengan apapun sekarang, mereka benar benar ingin memutuskan hubungan dengan Bijolia agar terbebas dari Mewar” Ajabde hanya terdiam, tidak memberikan pendapatnya, Ratu Hansa Bai bisa melihat kalau anaknya ini sangat terluka dengan apa yang terjadi

“Satu satunya harapan kecil yang memberikan aku kekuatan selama bertahun tahun ini adalah kata kata kita atau surat kita yang mungkin tidak pernah sampai di Chittor, itulah mengapa mereka tidak peduli dengan permasalahan di Bijolia tapi semua itu telah hancur pada hari ini, Chittor tidak hanya telah melupakan aku, menantu perempuan mereka tapi juga rakyatnya, sedikit harapan yang telah hancur sekarang !”

Tepat pada saat itu Fatta terbangun “Rasanya lebih baik hidup dengan kenyataan yang ada dari pada selalu dalam kebohongan” Ajabde segera berbalik dan mendekat ke arah Fatta dan duduk disebelahnya “Aku baik baik saja, kak ,,, tapi kita harus memikirkan kembali hubungan kita dengan Mewar karena semuanya telah diluar kendali kita sekarang” ujar Fatta yang masih terbaring ditempat tidur,

Ratu Hansa Bai ingin tahu tentang semuanya yang telah terjadi padanya di Mewar “Apakah kamu bertemu langsung dengan Maharana Udai Singh ?” Fatta segera mengangguk, kemudian Fatta menceritakan semua pada mereka, Ajabde kaget begitu mendengar cerita Fatta yang menyebut pembawa pesannya adalah seorang pengkhianat

Di tengah hutan, Pangeran Mahaputra dan Chakrapani masih terjebak dalam jebakan yang dibuat oleh Ajabde, Chakrapani mencoba untuk menjelaskan ucapannya barusan ke Pangeran Mahaputra “Pangeran Mahaputra, aku harap kamu tidak meragukan persahabatanku, aku hanya mencoba untuk keluar dari sini sehingga aku bisa membebaskan kamu” ujar Chakrapani,

Pangeran Mahaputra hanya terdiam dan meyakinkan sahabatnya ini, kalau mereka bisa keluar “Aku hanya mengkhawatirkan tentang kenyataan yang aku lihat barusan, bagaimana seorang gadis bisa bicara seperti itu padaku, sepertinya luka yang diderita oleh Bijolia cukup serius dan dalam” ujar Pangeran Mahaputra Pangeran Mahaputra cemas

“Ucapannya tidak sama seperti pemberontak pada umumnya, tapi mereka seperti menunjukkan ketidakpuasan yang mendalam yang harus dihadapi oleh Bijolia kepada Mewar” ujar Pangeran Mahaputra cemas “Kita harus segera mendapatkan dasar permasalahan yang sebenarnya secepat mungkin”, “Iya, itu betul pangeran ,,, tapi pertama tama kita harus keluar dari jebakan ini dulu” ujar Chakrapani cemas

Di kerajaan Bijolia, Fatta memuji di tukang kuda (Pangeran Mahaputra) di depan Ajabde namun Ajabde merasa kalau Pangeran Mahaputra atau si tukang kuda itu hendak membunuh Fatta “Kamu salah, kak ,,, dia itu malah sangat membantu aku”,

“Dia berusaha untuk membunuh kamu, Fatta” ujar Ajabde cemas “Dia hanya berusaha untuk menunjukkan kemampuannya padaku, kak ,,, aku bisa membuktikan bantuanku jika aku membimbing dia sedikit lagi”, “Kamu itu memang sangat naif, Fatta !” ujar Ajabde kesal

“Kamu itu baru saja bertemu dengan orang asing di Mewar dan dia sudah siap siap hendak ikut bersamamu ke Bijolia, apakah kamu tidak khawatir dengan nyawa kamu sendiri sama sekali ? Laki laki itu telah sampai di Bijolia dengan bantuan seseorang yang oleh Rajanya sendiri di sebut sebagai seorang pengkhianat, apakah kamu percaya dengan orang seperti itu ? Dia bisa saja mata mata Maharana Udai Singh ! Kenapa kamu tidak mengerti dengan hal hal yang mudah seperti ini ? Dia itu telah memanfaatkan kamu untuk memasuki Bijolia !” Fatta mulai berfikir begitu mendengar ocehan Ajabde,

Di lain sisi, Pangeran Mahaputra mencoba merobek jaring yang menjeratnya itu dengan tangannya sendiri, sementara Ajabde masih kesal dengan Fatta, Ajabde juga tidak bisa mengerti kenapa ayah mertuanya itu melakukan hal ini “Sepertinya aku menemukan adanya kaitan dengan sebuah rencana yang sangat besar” ujar Ajabde

“Tapi aku merasa kalau tukang kuda itu bukanlah seorang mata mata, kak” Ajabde kembali kesal ke Fatta “Fatta, aku tidak melihat kalau dia itu seorang tukang kuda pada umumnya karena caranya bertarung denganku itu sangat terllihat dengan jelas” Fatta mulai merasa terganggu dengan hal ini “Iyaa yaa, kenapa aku tidak berfikiran demikian ?”, “Aku tahu jawabannya ! Karena kamu itu terlalu sibuk menunjukkan kelebihan kamu padanya”

Fatta mulai menyadari kesalahan “Baiklah, kak ,,, aku akan membawa tukang kuda itu kehadapan kamu sekarang juga !” namun Ajabde segera mencegahnya “Tidak perlu, Fatta ! Aku telah menangkapnya dengan jebakkanku diluar Bijolia, dia tidak akan pernah bisa memasuki Bijolia”

pada saat yang bersamaan Pangeran Mahaputra mulai melompat ke bawah setelah jaringnya terbuka, kemudian diambilnya belati yang berada dibawah di Pagdi dan dilesatkan belati itu kearah jaring yang menjerat Chakrapani, sehingga Chakrapani pun terjatuh bersama dengan jaring tersebut dan berusaha keluar dari sana kemudian menyusul Pangeran Mahaputra yang telah berjalan di depannya menuju ke Bijolia, Pangeran Mahaputra memikirkan gadis petarung yang baru ditemuinya tadi dengan rasa penasaran

Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *