by

Cerita Mahaputra – Sinopsis Mahaputra Episode 261 Bagian 2 – Persiapan Pernikahan Mahaputra

-Debroo-78 views

Debroo.com. Cerita Mahaputra – Sinopsis Mahaputra Episode 261 Bagian 2 – Persiapan Pernikahan Mahaputra. Chakrapani sedang mondar mandir di sebuah ruangan, menunggu sahabat baiknya, Pangeran Mahaputra.

Cerita Mahaputra - Sinopsis Mahaputra Episode 261 Bagian 2 - Persiapan Pernikahan Mahaputra
Cerita Mahaputra – Sinopsis Mahaputra Episode 261 Bagian 2 – Persiapan Pernikahan Mahaputra

Tidak lama kemudian Pangeran Mahaputra datang kesana, Pangeran Mahaputra tidak mau menjawab pertanyaan Chakrapani, Pangeran Mahaputra berusaha berbalik dan meninggalkan Chakrapani, namun Chakrapani mencegahnya “Chakrapani, aku mempunyai banyak pekerjaan yang harus segera aku selesaikan dengan cepat “Bilanglah terus seperti itu! Asal kamu tahu saja kalau Ajabde akan menikah dengan orang lain! Dia bahkan belum berkata iya!”

Pangeran Mahaputra langsung marah dengan mengacungkan tangannya ke arah Chakrapani sambil memberikan peringatan ke Chakrapani dengan tatapan marahnya, tidak lama Pangeran Mahaputra mulai melunak dan meminta maaf pada Chakrapani dan berkata

“Meskipun nanti Ajabde setuju untuk menikah denganku tapi Ajabde telah menghabiskan banyak waktunya untuk semua hal, jika dia menolak untuk menikah denganku maka aku akan menunjukkan padanya kekuatanku” ujar Pangeran Mahaputra

Di kerajaan Bijolia, Ajabde yang saat itu sedang belajar menyulam bersama ibunya, tiba tiba cegukan, Ratu Hansa Bai segera memanggil seorang pelayan untuk membawakan air untuknya, setelah meminum air putih tersebut, ternyata Ajabde masih saja cegukan

“Sepertinya ada seseorang yang sedang memikirkan kamu dengan hati yang murni karena hal ini terjadi untuk ketiga kalinya” Ratu Hansa Bai mencoba menggoda Ajabde, namun Ajabde tidak menggubris ucapan ibunya, malah mengalihkan perhatiannya pada sulamannya yang sedang dikerjakannya sedari tadi

“Ibu heran, apakah mungkin Pangeran Mahaputra yang sedang memikirkan kamu saat ini?” Ajabde tetap saja tidak menanggapi ucapan Ratu Hansa Bai, malah berupaya meninggalkan ibunya dengan alasan mau mencari warna benang yang lain

Dikerajaan Mewar, saat itu Pangeran Mahaputra dan Chakrapani masih membicarakan soal Ajabde “Itu adalah ide yang buruk, pangeran, kamu tidak bisa bicara dengannya secara bebas sekarang lalu bagaimana kamu akan memamerkan kekuatanmu?” tanya Chakrapani heran,

Pangeran Mahaputra teringat pada pertemuan mereka yang terakhir seraya berkata “Aku heran, kamu ini temanku atau temannya Ajabde? Aku tahu kalau kamu memang mempunyai sebuah solusi untuk masalahku ini, pergilah!” pinta Pangeran Mahaputra, Chakrapani malah mengolok olok ide Pangeran Mahaputra, Pangeran Mahaputra melipat kedua tangannya dan meminta pada Chakrapani sebuah ide dari mulutnya

“Pangeran, kamu ini harus melakukan sesuatu yang seperti dilakukan oleh Ajabde padamu, seperti Shatabdi Panchang, jadi hal itu harus sesuatu yang menyentuh hatinya” saran Chakrapani

Ratu Jaywanta sedang mengatur segala sesuatunya yang akan dikirimkan ke Bijolia, Raja Uday menemuinya dan mengatidakan apa yang telah dia temukan untuk Raja Mamrak Ji yaitu seekor kuda, Raja Uday juga sangat terkesan dengan persiapan yang dilakukan oleh istri tertuanya ini

“Aku baru menyadari kesalahanku ketika aku berada di Bijolia” Ratu Jaywanta memuji suaminya karena memiliki kemampuan untuk mengoreksi kesalahannya sendiri dengan baik, kemudian mereka berdua membagi kebahagiaan mereka bersama sama

“Aku menemukan satu kesalahanmu yang aku lihat belum kamu koreksi dengan benar” Raja Uday merasa penasaran “Kenapa kamu menghukum Veer Bai untuk nasib yang telah dia lakukan? Aku tidak bisa melihatnya menderita, kesedihan di matanya terlihat ketika kamu memalingkan wajahmu darinya”

Raja Uday menghela nafasnya dan berkata “Aku harus menanggung beban kesalahan itu, aku tidak bisa melihat kedalam matamu karena alasan yang sama”, “Selama ini aku telah belajar untuk berbagi cintamu dengan Rani yang lain, jadi berikanlah hak itu pada Veer Bai, hal itu akan melegakan hatimu dari beban hatimu selama ini“

Raja Uday menatap istri tertuanya itu dengan perasaan heran “Ini artinya kamu memaafkan aku?” Ratu Jaywanta segera menganggukkan kepalanya kemudian mereka berdua saling berpelukkan satu sama lain,

Namun tiba tiba ada suara nampan jatuh yang membuat Ratu Jaywanta dan Raja Uday kaget dan melihat kearah sumber suara itu, ternyata nampan itu lepas dari tangan Ratu Veer Bai, Ratu Veer Bai meminta maaf dan segera berlalu dari sana dengan perasaan bersalah,

Ratu Veer Bai teringat ketika dirinya melihat Ratu Jaywanta dan Raja Uday saling berpelukkan satu sama lain, tepat pada saat itu Pangeran Mahaputra menemuinya dan bertanya padanya tentang persiapan yang akan dibawa ke Bijolia “Aku ingin menambahkan suatu barang juga yang akan di kirim ke Bijolia”

kemudian Pangeran Mahaputra bertanya pada Veer Bai “Apa yang seharusnya aku bawa untuk Ajabde?”, “Bagaimana kalau kamu mencari tahu dari Choti Ma-mu?” saran Veer Bai Sinopsis Mahaputra Episode 261 Bagian 2

Di kamar Ratu Bhatyani, saat itu Ratu Bhatyani sedang menulis sebuah surat untuk saudaranya Ratu Uma Devi, nenek Phool, Ratu Bhatyani menulis surat tentang caranya yang bisa membuat Ratu Jaywanta setuju dengan hubungan pernikahan Pangeran Mahaputra dan Phool,

namun kali ini Raja Uday malah mengubah pemikirannya dengan mengajukan pernikahan Pangeran Mahaputra dan Ajabde “Gadis dari keturunan Samant itu telah melakukan semacam ilmu sihir pada mereka berdua yaitu pada Rana Ji dan Pangeran Mahaputra, kamu harus segera melakukan sesuatu, kak”

tiba tiba saat itu angin bertiup kencang di kamar Ratu Bhatyani hingga menerbangkan surat itu dan mendarat tepat di kaki Pangeran Mahaputra, Ratu Bhatyani langsung cemas namun Pangeran Mahaputra tidak membacanya, dia segera memberikan surat itu ke ibu tirinya itu,

Ratu Bhatyani pura pura malu jika Pangeran Mahaputra ingin tahu apa yang tertulis di dalam suratnya dan pada siapa surat itu dialamatkan, “Hal itu melanggar norma normaku kalau aku membaca surat orang lain, Choti Ma” Ratu Bhatyani tersenyum lega

“Lalu bantuan apa yang kamu inginkan sekarang?” awalnya Pangeran Mahaputra tergagap tapi akhirnya dia bertanya soal hadiah yang akan dia berikan ke Ajabde “Kamu bisa memberikan padanya barang apapun, dia pasti akan menyukainya”

Pangeran Mahaputra tahu kalau Ajabde sangat menyukai barang yang sederhana, Pangeran Mahaputra merasa hanya ada satu orang di istananya ini yang juga sangat menyukai kesederhanaan yaitu ibu kandungnya sendiri “Dia pasti tahu yang terbaik, aku harus bertanya pada Rani Ma, dia pasti bisa membantu aku” bathin Pangeran Mahaputra dalam hati kemudian berpamitan pada Ratu Bhatyani, Ratu Bhatyani segera menyelesaikan suratnya itu cepat cepat begitu Pangeran Mahaputra berlalu dari kamarnya

Pangeran Mahaputra pergi menemui ibunya, awalnya Pangeran Mahaputra mencoba menyembunyikan keinginannya namun ternyata Ratu Jaywanta malah bertanya “Hadiah apa yang mau kamu berikan untuk Ajabde, Pangeran Mahaputra?”

Pangeran Mahaputra senang sekali karena ibunya bisa membaca pikirannya “Ibu rasa, hadiahnya itu lebih baik yang sederhana saja dan benda itu seharusnya juga bisa mengekspresikan perasaanmu padanya”, “Aku juga memikirkan hal yang sama, Rani Ma, rasanya memang tidak mungkin menyembunyikan apapun dari kamu” puji Pangeran Mahaputra

“Kalau begitu, kamu seharusnya memikirkan hadiah apa yang ingin kamu berikan, hadiah itu harus bisa merefleksikan perasaanmu, kamu harus memberikannya ke Ajabde, benda itu harus sesuatu yang bisa menarik rasa sensitifnya, ibu yakin kamu bisa menemukan jawabannya dari dalam hatimu” ujar Ratu Jaywanta

Di kerajaan Marwar, Ratu Umi Devi sedang membaca surat Ratu Bhatyani, adiknya. Ratu Uma Devi benar benar kaget, tepat pada saat itu Phool menemuinya, Ratu Uma Devi segera memberitahukan pada Phool kejadian yang baru saja terjadi di Chittor,

Phool sangat terkejut dan tidak percaya begitu mendengar hal itu namun Ratu Uma Devi tetap meyakinkan Phool kalau dirinya tidak akan menyerah dengan mudah, Phool teringat pada kenangan masa lalunya bersama Pangeran Mahaputra sambil menangis,

Phool tidak bisa lagi mendengarkan apa yang dikatidakan oleh neneknya karena pikirannya sudah melayang layang entah kemana mana, Ratu Uma Devi mencoba menyadarkan Phool dengan mengguncang guncang tubuh Phool agar Phool kembali tersadar,

Phool segera meninggalkan ruangan itu sambil mengomel kalau tidak terjadi apa apa, Ratu Uma Devi sangat terluka melihat penderitaan cucu kesayangannya ini “Nenek berjanji padamu Phool, neneka tidak akan membuat kamu menangis lagi siapapun alasannya dibalik tangisanmu itu”

Di kerajaan Mewar, Raja Udai Sing dan keluarganya sudah siap hendak pergi ke Bijolia untuk melamar Ajabde, semua rakyat Chittor berkumpul di halaman depan istana dan memberikan restunya pada Pangeran Mahaputra, Pangeran Mahaputra sangat berterima kasih pada kasih sayang dan harapan mereka padanya,

para pria langsung menunggang kuda mereka, sedangkan para ratu memasuki tandu mereka masing masing dan duduk disana dan siap untuk berangkat ke Bijolia, dari atas kudanya Pangeran Mahaputra melihat kelopak bunga mawar merah di tangannya sambil termenung, diambilnya sekuntum bunga mawar itu dari atas nampan dan teringat pada temannya,

Jalal dan Meera Bai juga bunga mawar yang harum baunya, saat itu Jalal sedang menyusun beberapa tangkai bunga mawar yang dibelinya secara spesial untuk Meera Bai, Jalal merasa bahwa ini adalah cara yang terbaik “Sederhana dan indah untuk menunjukkan perasaan cinta kita dan rasa hormat kita pada seseorang” kenangannya pun berakhir

“Sungguh sangat ironis, orang orang Mughal menanam bunga mawar di tanah kita kemudian mereka membunuh orang orang yang berada ditanah ini untuk menguasai beberapa daerah disini” bathin Pangeran Mahaputra dalam hati sambil memperhatikan bunga mawar itu, tiba tiba Raja Uday menyadarkannya sambil berteriak dari atas kudanya “Pangeran Mahaputra, kita harus berangkat sekarang!” Pangeran Mahaputra langsung mengangguk

Di kerajaan Mughal, Agra, Jalal sedang ngobrol dengan pimpinan sekelompok pemberontak kalau pasukannya akan memenangkan semua pemberontak yang lain “Kalian seharusnya mematuhi peraturan kami jika kamu ingin tetap hidup!” akhirnya orang itu setuju dengan apapun yang Jalal inginkan,

Jalal kembali mengulangi kondisinya padanya “Kamu akan bergabung dengan seluruh anggotamu dan membantu kami mulai dari sini, aku ingin semua daerah terdekat berada di bawah kekuasaan Mughal!” pimpinan itu menyakinkan Jalal kalau dirinya akan melakukan apapun yang Jalal inginkan dari mereka, dia memohon pada Jalal untuk membiarkan mereka hidup dengan ampunan dari Jalal

Rombongan Raja Uday akhirnya sampai juga di istana Bijolia, sesampainya di halaman istana, Pangeran Mahaputra teringat kenangan terindahnya bersama Ajabde ketika Ajabde bermaksud melarikan diri dengan syal ungunya dan Ajabde terjatuh tepat diatas pelukan Pangeran Mahaputra

“Ibu, apakah ibu sudah mengirimkan pesan ke sini tentang kedatangan kita? Tempat ini terlihat sangat hidup” Chakrapani langsung menggoda sahabat dekatnya itu “Pangeran Mahaputra, kamu harus bisa mengontrol perasaanmu” semua orang yang mendengarnya tersenyum sambil melihat ke arah Pangeran Mahaputra,

tidak lama kemudian Raja Mamrak Ji dan Ratu Hansa Bai segera berlari tergopoh gopoh menemui mereka di halaman istana, mereka berdua langsung menyambut dan memberi salam pada rombongan Raja Uday sekeluarga, Raja Uday sedikit curiga dengan situasi yang terjadi saat itu di istana Bijolia,

Raja Mamrak Ji bertanya “Ada angin apa yang membuat anda sekeluarga datang kesini hari ini? Kami juga sangat merindukan kalian sebaliknya, mari masuk ke dalam” rombongan Raja Uday segera masuk ke dalam istana Bijolia

Sementara itu Pangeran Mahaputra bertanya pada Chakrapani “Chakrapani, apakah kamu tidak ingin tahu, hadiah apa yang aku bawa untuk Ajabde?” Chakrapani penasaran “Tapi tidak! Aku tidak akan mengatakannya karena pertama tama aku harus memberikan benda itu ke seseorang yang aku bawakan hadiahnya yaitu Ajabde”

Pangeran Mahaputra langsung masuk ke dalam istana, di dalam istana Raja Uday sekeluarga benar benar sangat terkejut ketika bertemu dengan Samant dari Marwar bersama anak dan istrinya juga nenek Phool, Ratu Uma Devi “MahaRaja Uday, mereka ini datang untuk melamar Ajabde untuk menikah, Maharani Uma Devi juga ada disini” ujar Raja Mamrak Ji kikuk,

Raja Uday dan keluarga tercengang begitu mendengarnya, sementara Ratu Uma Devi menatap tajam ke arah Ratu Bhatyani, mereka berdua saling memandang dengan senyuman licik yang tersungging di bibir mereka masing masing.

Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *