by

Cerita Mahaputra – Sinopsis Mahaputra Episode 261 Bagian 1 – Persiapan Pernikahan Mahaputra

-Debroo-67 views

Debroo.com. Cerita Mahaputra – Sinopsis Mahaputra Episode 261 Bagian 1 – Persiapan Pernikahan Mahaputra. Di kerajaan Mewar, Ratu Jaywanta dan Pangeran Mahaputra sedang memilih milih beberapa pakaian yang di cocokkan dengan perhiasannya, sementara itu Raja Uday memberikan dua pilihan pada mereka

Cerita Mahaputra - Sinopsis Mahaputra Episode 261 Bagian 1 - Persiapan Pernikahan Mahaputra.
Cerita Mahaputra – Sinopsis Mahaputra Episode 261 Bagian 1 – Persiapan Pernikahan Mahaputra.

“Aku telah membuat dua pilihan, satu pilihan yang di pilih oleh Maharani Jaywanta dengan Pangeran Mahaputra sementara yang lainnya yang telah dipilih oleh kamu Rani Bhatyani” ujar Raja Uday kemudian menoleh kearah Ratu Veer Bai

“Aku tahu kalau kamu memiliki pengetahuan yang bagus tentang pakaian dan perhiasan, kamu bisa memberikan saran padaku, kombinasi yang seperti apa yang sangat kamu sukai?” awalnya Ratu Veer Bai ragu ragu begitu Raja Uday meminta bantuannya namun Ratu Jaywanta memberikan dukungannya dengan mengatakan

“Ayoo, kamu pasti bisa! Katakan saja!” akhirnya Ratu Veer Bai memberikan pilihannya pada Raja Uday “Rana Ji, aku merasa aku telah membuat pilihan untuk dua gadis yang berbeda” Ratu Jaywanta langsung menyela ucapan Ratu Veer Bai “Rani Veer Bai, kita semua disini memilihkan pakaian untuk Phool Kanwar karena dia yang akan menikah dengan Pangeran Mahaputra nantinya”

Pangeran Mahaputra juga meyakini ibu tirinya itu, sementara Raja Uday yang saat itu berdiri di sebelah Ratu Veer Bai ikut menyela pembicaraan mereka “Tapi kamu Maharani Jaywanta, kamu ini tidak memilihkan pakaian untuk Phool, kamu memilihnya berdasarkan pemikiranmu kalau pakaian itu sangat cocok untuk Ajabde, iya kan?”

Ratu Bhatyani tidak suka mendengar ucapan suaminya itu dan Raja Uday juga mencegah Ratu Jaywanta untuk memberikan penjelasannya pada dirinya, Pangeran Mahaputra hanya tersenyum malu,

Kemudian Raja Uday menyuruh semua pelayan meninggalkan mereka berlima, Raja Uday mengerti kalau Ratu Jaywanta dan Pangeran Mahaputra sedang memilihkan pakaian yang semuanya ditujukkan untuk Ajabde

“Katakan saja dengan jujur padaku, apakah kamu Maharani Jaywanta tidak ingin menikahkan Pangeran Mahaputra dengan Ajabde?” Ratu Jaywanta berusaha menolak namun lagi lagi Raja Uday meminta pada Ratu Jaywanta untuk tidak menyembunyikan perasaannya lagi

“Kamu tidak ahli dalam menyembunyikan perasaanmu itu, Maharani Jaywanta jadi jangan pernah mencobanya, sejak aku pulang ke sini, aku telah mempunyai perasaan bahwa kamu sebenarnya benar benar ingin mengirimkan anakmu ke medan perang, meskipun dia akan menikah, ada apa denganmu, Maharani Jaywanta? Ketika aku beralih dari jalan yang benar, maka kamu selalu yang menegur aku dan sekarang, aku pikir kamu benar, apakah kamu telah beralih dari jalanmu sendiri?”

Ratu Bhatyani kaget begitu mendengar ucapan Raja Uday “Maharani Jaywanta, untuk pertama kalinya kamu telah memilih hubungan politik melebihi dari dharmamu” Pangeran Mahaputra mencoba menyela namun Raja Uday tidak memberikan kesempatan pada Pangeran Mahaputra untuk mengatakan apapun “Kamu pikir, hatiku ini sangat keras sehingga aku tidak bisa mengerti tentang perasaanmu dan akan menerima semua pengorbananmu setiap saat dengan nama Rajdharma?”

Ketiga ratu, istri Raja Uday tertegun begitu mendengarkan ucapan Raja Uday panjang lebar “Coba kamu pikirkan, apakah kamu bisa mendapatkan seorang istri yang baik daripada Ajabde?”

Pangeran Mahaputra hanya terdiam dan terharu “Jangan terlalu terharu, Pangeran Mahaputra” ejek Ratu Bhatyani, Raja Uday segera membalas ucapan Ratu Bhatyani “Apakah kamu pikir Pangeran Mahaputra memerlukan sepasukan prajurit untuk menyelamatkannya? Tidak! Siapapun yang bisa mendapatkan Ajabde sebagai istrinya maka dia tidak akan tersentuh oleh apapun dalam kehidupannya, aku yang ada disini tidak bisa berfikir tentang masa depannya yang tepat sedangkan disana Ajabde benar benar mengkhawatirkannya, kalian tahu, dia telah membuat sebuah Shatabdi Panchang untuk Pangeran Mahaputra bersama para pendeta dari seluruh kerajaan Rajputana, hal itu dibuat bukan untuk kekuasaannya tapi untuk harapan kehidupannya selama lamanya, hadiah itu dibuat oleh Ajabde namun belum terbukti karena dia tidak hanya berdoa untuk kehidupan Pangeran Mahaputra tapi dia akan terus menerus berdoa untuk keselamatannya setiap detik, Ajabde memikirkan Pangeran Mahaputra melebihi kita yang memikirkan tentang anak kita, apakah kamu masih membutuhkan bukti yang lain lagi?”

ketiga istri Raja Uday tertegun namun hanya Ratu Jaywanta dan Ratu Veer Bai yang terharu “Setiap orang bisa membuat kita kuat dengan paksaan dari luar tapi seorang pendamping hidup seperti Ajabde bisa membuat Pangeran Mahaputra kuat dari dalam” Ratu Jaywanta dan Ratu Veer Bai sangat senang mendengarnya begitu pula Pangeran Mahaputra, namun tidak bagi Ratu Bhatyani,

Ratu Bhatyani kesal sambil menahan amarahnya Ratu Veer Bai bisa merasakan kalau Raja Uday telah memikirkan hal ini dalam benaknya sejak lama, Raja Uday mengangguk mengiyakan pendapat istri termudanya itu

“Aku ingin menguji keputusanku sekali lagi sebelum aku bertanya pada Raja Mamrat Ji, inilah mengapa aku pergi ke Bijolia, apa yang aku saksikan disana, menyingkirkan semua keragu raguanku” ujar Raja Uday sambil teringat ketika dirinya berada Bijolia dan melihat kebersamaan Pangeran Mahaputra dan Ajabde yang saling peduli satu sama lain, pada saat insiden kelabang

“Pangeran Mahaputra dan Ajabde telah menerima satu sama lain sebagai suami dan istri sejak beberapa waktu yang lalu” Pangeran Mahaputra dan Ratu Jaywanta terharu mendengar ucapan Raja Uday “Dia dengan mudahnya menundukkan kepalanya ketika ayahnya berkata padanya kalau dirinya ini salah”

Ratu Bhatyani langsung teringat kata kata Ratu Jaywanta tentang pernikahan Pangeran Mahaputra dan Ajabde dan bagaimana nanti Ratu Bhatyani tidak akan menjadi bagian kepemilikan kerajaan, Ratu Bhatyani langsung tegang dan cemas

“Maharani Jaywanta dan Rani Bhatyani, aku akan pergi ke kerajaan Bijolia untuk meminta Ajabde dari tangan Rao Mamrak Ji, aku ingin kalian membuat persiapan yang sama” Ratu Bhatyani hanya bisa mengangguk pasrah, sementara Ratu Jaywanta segera memeluk suaminya dengan perasaan haru dan bahagia

“Dengan segenap hatiku, aku ucapkan terima kasih, Rana Ji, kamu telah menyingkirkan ketegangan dalam hatiku dan pikiranku” ujar Ratu Jaywanta tulus, Pangeran Mahaputra segera meninggalkan ruangan itu sambil tersipu malu ketika ayahnya bertanya

“Pangeran Mahaputra, apakah kamu bahagia dengan keputusan ini?” Pangeran Mahaputra tidak menjawab dan pergi secara diam diam,

Pangeran Mahaputra merasa bahagia, karena apa yang diinginkan selama ini akan segera menjadi kenyataan, Ratu Veer Bai juga pergi dari sana untuk mengambil manisan, sementara Ratu Bhatyani mulai menyusun sebuah rencana untuk mengacaukan rencana mereka agar gagal total.

Sepanjang perjalanan menuju ke kamarnya, ucapan Raja Uday terus terngiang di telinga Pangeran Mahaputra, tiba tiba Ratu Veer Bai muncul dan menyuapkan ladu ke Pangeran Mahaputra sebagai tanda keberuntungan untuk hubungan yang akan terjalin nanti.

Sementara itu Ratu Jaywanta dan Raja Uday sedang membahas tentang hubungan kekeluargaan yang akan terjalin dan bagaimana Pangeran Mahaputra terlihat malu malu ketika mendengarnya, Ratu Veer Bai yang baru memasuki ruangan itu juga mengiyakan ucapan Raja Uday ketika dirinya menceritakan tentang kejadian ladu tadi “Wajahnya itu memerah semua” ujar Ratu Veer Bai senang,

kemudian Ratu Veer Bai menyuapkan ladu itu ke Ratu Jaywanta dan sebaliknya, Ratu Jaywanta juga menyuapkan ladu itu ke Ratu Veer Bai, Ratu Veer Bai melihat wajah Ratu Bhatyani sangat pucat “Ada apa kak Bhatyani? Kenapa mukamu sangat pucat?”

Ratu Bhatyani berbohong mengenai hal itu, kemudian Ratu Veer Bai meminta Ratu Bhatyani untuk mencicipi ladu itu lalu Ratu Veer Bai berbalik dan hendak menyuapkan ladu pada Raja Uday namun Raja Uday menolaknya, kemudian Raja Uday menengadahkan tangannya,

Ratu Veer Bai terlihat kecewa karena tidak bisa menyuapkan ladu itu ke suaminya sendiri, Ratu Veer Bai meletakkan ladu itu di tangan Raja Uday “Maharani Jaywanta, jangan lupa kamu harus melakukan persiapan karena aku harus pergi ke Bijolia segera” Ratu Jaywanta segera mengangguk,

kemudian Raja Uday segera pergi dari sana, Ratu Jaywanta melihat ada rona sedih di wajah Ratu Veer Bai, sementara Ratu Bhatyani mengambil sebuah cermin dan ditunjukkannya ke wajah Ratu Veer Bai sambil mengejeknya kemudian berlalu dari sana “Rani Veer Bai, tidak usah dipikirkan, suapkan aku ladu itu” Ratu Veer Bai tersenyum dan menyuapkan ladu itu ke Ratu Jaywanta, mereka berdua saling menyuapi satu sama lain dan berbagi kebahagiaan bersama.

Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *