by

Cerita Mahaputra : Sinopsis Mahaputra Episode 253

-Debroo-122 views

Debroo.com. Cerita Mahaputra : Sinopsis Mahaputra Episode 253. Chakrapani dan Saubhagyawati sampai ke istana Bijolia. Mereka memberikan barang-barang mereka ke penjaga untuk menyuruh penjaga itu meletakan barang bawaan itu di kamar mereka.

Sinopsis Mahaputra Episode 253
Sinopsis Mahaputra Episode 253

Para penjaga menurutinya. Saubhagyawati terlihat bingung “mengapa kita harus datang kemari?” Tanya Saubhagyawati pada Cakrapani. dan Cakrapani menjawab kalau Pangeran Mahaputra telah memanggilnya sehingga ia harus datang kemari. “Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk menemui Pangeran Mahaputra.” Jawab Saubhagyawati.

Chakrapani kembali mengatakan, “Aku bahkan bisa membangunkannya di tengah malam seperti itu karena dia adalah sahabatku.” Ucap Cakrapani menjelaskan semuanya pada Saubhagyawati. Mereka mulai membicarakan tentang persahabatan dan etika yang baik, keduanya terus berbicara.

Hingga Uday Singh datang menyambut keduanya. Cakrapani mengatakan tujuan pada Raja Uday kalau ia ingin menemui Pangeran Mahaputra dan Uday Singh mengatakan kepada Chakrapani “Pangeran Mahaputra tertidur di kamar Ajabde. Silakan kamu membawanya ke kamarnya.” Perintah Raja Uday, dan Cakrapani Mengangguk menuruti perintahnya. Setelah itu Uday Singh segera pergi meninggalkan mereka.

Dikamar, Ajabde masih menahan rasa sakit dan melihat ada kelabang yang menggigit punggungnya. Saat itulah Chakrapani datang kekamarnya. Cakrapani belum menyadari kondisi Ajabde yang kena gigitan kelabang, ia masih fokus menatap Pangeran Mahaputra yang tertidur ditangan Ajabde,

cakrapani tampak menyukai kedua pasangan itu. “Mereka berdua tampak begitu baik saat bersama-sama.” Gumam Cakrapani yang merasa bahagia menatap keduanya. Tiba-tiba Cakrapani melihat Ajabde menahan rasa sakit di wajahnya dan ia kaget ketika melihat lipan beracun berada di punggung Ajabde.

Cakrapani langsung berteriak memanggil Pangeran Mahaputra dan Pangeran Mahaputra langsung bangun dari tidurnya. Cakrapani segera menghampiri Ajabde, ia mengambil kelabang itu dan melempar kelabang itu sejauh mungkin. Pangeran Mahaputra kaget melihatnya. Dia juga melihat darah di punggung Ajabde. Uday Singh juga datang ke sana setelah mendengar keributan. Sinopsis Mahaputra Episode 253

Raja Uday menanyakan apa yang terjadi pada Ajabde, Chakrapani langsung mengatakan pada Pangeran Mahaputra dan Rana ji jika Ajabde telah digigit oleh lipan beracun. “Ajabde terus terus menahan rasa sakit karena tangannya dijadikan bantalan untuk Pangeran Mahaputra agar tidur dengan damai.”

Pangeran Mahaputra tampak tersentuh setelah mendengar penjelasan dari Cakrapani, ia menatap Ajabde. Ajabde segera berdiri meskipun Uday Singh mengatakan kepadanya untuk beristirahat. Ajabde meyakinkan Raja Uday kalau dia baik-baik saja.

Pangeran Mahaputra juga memintanya untuk beristirahat, tapi Ajabde tetap menolak kalau ia ingin mencucikan lukanya hingga darah itu berhenti. Ajabde mulai berjalan tapi kemudian ia merasa pusing. Uday Singh dan Pangeran Mahaputra bergegas menghampiri Ajabde, Raja Uday berusaha memanggil Ajabde yang tidak sadarkan diri.

Kemudian Uday Singh beralih pada Pangeran Mahaputra, ia memerintah Pangeran Mahaputra untuk memanggil Vaid ji. namun Pangeran Mahaputra tidak mendengarnya, ia tetap berdiri sambil melihat Ajabde dengan perasaan sedihnya, saat Raja Uday menggendong Ajabde ia melihat Pangeran Mahaputra yang menatap Ajabde penuh cinta dan rasa sedih. Kemudian, Uday Singh akhirnya menyuruh Chakrapani untuk pergi memanggil tabib, sedangkan Pangeran Mahaputra tetap diam terpaku ditempatnya dengan mata yang berbinar-binar.

Saat itulah Mamrat ji dan yang lainnya datang, Mamrat Ji bertanya apa yang telah terjadi. Uday Singh mengatakan kepadanya tentang Ajabde yang telah digigit oleh kelabang. Kemudian Raja Uday menyuruh mereka untuk tetap bersama Ajabde, sedangkan Raja Uday memutuskan untuk membawa Vaid ji sendirian.

Langkah Raja uday terhenti ketika ia berdiri melihat Pangeran Mahaputra, Raja Uday menatap ekspresi Pangeran Mahaputra yang tidak lepas menatap kearah Ajabde. Saat Raja Uday juga melirik kearah Ajabde, Dia teringat bagaimana ia telah menyuruh Ratu Jaywanta untuk menjauhi Ajabde dari kehidupan anak mereka demi mewar.

Kemudian Raja Uday segera meninggalkan kamar itu untuk membawa Vaid ji. Hansa Bai menggosok tangan putrinya untuk menyadarkanya kembali, tapi itu hanyalah sia-sia. Pangeran Mahaputra berjalan menuju tempat tidur sambil menatap Ajabde dengan penuh cinta. Sinopsis Mahaputra Episode 253

Di Mughal, Ibu Jalal dan Rukaiyya Bi berjalan menuju ke kamar Jalal. “Pergilah dan temuilah dia.” Rukaiyyah mengangguk mendengar ucapan ibu Jalal. Setelah Ibu jalal pergi, Rukaiyya Bi menyapa Jalal, namun Jalal tidak menghiraukan kedatangannya.

Jalal masih sibuk membuat benteng dari kartu. Rukaiyya akhirnya menatapnya dengan penuh cinta dan tersenyum melihat Jalal. Perlahan Rukaiyya mulai mendekati Jalal. Tanpa melirik kearah Rukaiyya, Jalal mengatakan kalau ia hanyalah Deewan-e-Khas di sudut lain dari istana ini.

Rukaiyya berbicara dengan lembut tentang Jalal dan betapa senangnya dia melihat Jalal setelah bertahun-tahun lamanya. tapi Jalal tetap tidak melihat kearah Rukaiyya. “Kamu harusnya tidak menganggap serius permainan kekanak-kanakan ini, kita telah bermain di luar masa kanak-kanak. Mungkin waktu itu saya masih anak-anak, kamu mungkin merasa sudah menikah tetapi kenyataannya adalah bahwa aku telah berubah selama ini. Aku berharap bahwa kamu tidak harus menghadapi masalah di sini dan silahkan tinggalah di rumah ini dengan semua kemewahan disekitar istana ini.” Sinopsis Mahaputra Episode 253

Setelah mengatakan hal itu pada Rukaiyya, Jalal segera meninggalkannya sendirian tanpa menatap kearah Rukaiyya. sementara itu Rukaiyya masih berdiri ditempatnya tadi, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. “Aku juga bukan gadis yang sederhana dan lugu yang sama seperti sebelumnya. Waktu telah berubah, tapi semua orang harus memiliki mata untuk melihat.” Ucap Rukaiyya dengan bijak

kemudian tatapannya beralih pada kartu yang dimainkan oleh Jalal tadi, Rukaiyya menghampiri kartu yang ada diatas meja dan mulai menyelesaikan apa yang ditinggalakan oleh Jalal di tengah jalan. “Meskipun aku telah kehilangan hatinya untuk Shehan Shah-e-Aali, tapi segera mungkin ia juga akan kehilangan hatiku.” Ucap Rukaiyya dan tersenyum menatap kartu yang sudah ia susun tadi.

Di Marwar, Phool melihat surat Ajabde dengan sedih. Dia akhirnya membaca surat dari Ajabde itu. Ajabde mengatakan penyesalannya didalam surat itu, ia menyesal ketika dia harus tahu bahwa Phool memiliki perasaan untuk Pangeran Mahaputra. Phool menutup matanya dengan sedih dan mengingat saat-saat terakhir dia dengan Pangeran Mahaputra; pernikahannya, dan semuanya.

Saat itulah Uma Devi datang menghampiri Phool, Uma Devi ingin berbicara dengannya. Phool menyadari kebodohannya didepan Uma Devi. “Ajabde mencoba untuk membuatku mengerti, tapi aku tidak membaca surat-suratnya. Aku Tidak tahu apa yang masuk ke dalam pikitanku. Aku hanya ingin Ajabde.” Ucap Phool pada neneknya itu.

Namun Uma Devi menyuruh Phool untuk tidak memikirkan Ajabde lagi. Phool tampak tidak suka mendengar ucapan Uma Devi, ia kembali mengambil surat dari Ajabde dan menunjukanya pada Uma Devi, “Ajabde ada di mata saya.” Namun Uma Devi langsung memotong ucapan Phool, dan melemparkan surat Ajabde ke kasur.

“Kamu jangan memikirkan Ajabde lagi, kamu adalah putri dari Marwar. dan kamu adalah segalanya bagiku. Tidak ada tempat untuk Ajabde dalam mimpiku bahwa aku telah melihatnya.” Phool terlihat bingung mendengar Ucapan Uma Devi. Uma Devi langsung membicarakan tentang pernikahannya dengan Pangeran Mahaputra.

“Semuanya akan seperti yang kamu inginkan untuk menikah dengan Pangeran Mahaputra. Jika Ajabde adalah teman terbaikmu seperti kamu memikirkan dia, maka dia akan merasa senang untuk kebahagiaanmu. Aku harus pergi, karena harus membuat banyak persiapan untuk pernikahanmu.” Ucap Uma Devi yang berusaha menenangkan Phool.

Setelah Uma Devi pergi, Phool langsung menyeka air matanya. Dia kembali memegang surat Ajabde, dan mengingat semua ucapan Ajabde dan Uma Devi yang bergema ditelinganya.

Di Bijolia, Hansa Bai terlihat khawatir ketika melihat Tabib sedang memeriksa denyut nadi Ajabde. Pangeran Mahaputra juga melihatnya dari kejauhan. Hansa Bai menanyakan kondisi Ajabde pada Tabib itu, “Suhu tubuhnya semakin menurun.” Vaid ji masih menjelaskan kondisi Ajabde yang menahan rasa sakit yang telah dilaluinya dan rasa sakit itu masih akan terus berlanjut.

Pangeran Mahaputra merasa sedih melihat kondisi Ajabde saat ini. Chakrapani datang untuk berbicara dengan Pangeran Mahaputra, dan Pangeran Mahaputra mengungkapkan kesedihannya pada Cakrapani. “Dunia berpikir tentangku untuk menjadi pejuang yang terkenal, aku Pangeran Mahaputra Singh yang cukup kuat untuk menanggung setiap rasa sakit, setiap cedera pada tubuhku. tapi di sini seorang gadis biasa sedang menahan rasa sakit itu dalam keheninganya, bahkan setelah kelabang beracun itu menggigitnya. Mengapa dia seperti itu? Apa supaya membuatku bisa tidur dengan nyenyak?” Tutur Pangeran Mahaputra dengan perasaan sedihnya.

Chakrapani mencoba untuk menenangkannya, tapi itu hanya sia-sia. Pangeran Mahaputra menyadari dia telah mengatakan pada Cakrapani dengan nada keras, Pangeran Mahaputra langsung meminta maaf kepadanya. ketika ia melihat Vaid ji (tabib) akan keluar dari ruangan,

Pangeran Mahaputra langsung menghentikan langkahnya. Pangeran Mahaputra menanyakan kondisi Ajabde, dan Vaid ji mengatakan kalau ia telah memberikan obat yang diperlukan tapi itu tugas yang berat untuk mengurangi rasa sakitnya. Tabib itu juga sudah mengatakan kepada kepada Hansa Bai tentang solusinya.

Diidapur, Hansa Bai sedang menggilingan semua bahan yang diperlukan untuk membuat obat yang sudah diresepkan oleh Vaid ji (Tabib), kemudian Hansa Bai memerintahkan dayangnya untuk melakukan sesuatu. Sedangkan Pangeran Mahaputra juga datang kesana dengan membawa bahan2 yang diperlukan,

Hansa Bai kaget melihat kedatangan Pangeran Mahaputra dan segera menghampirinya. Hansa Bai menanyakan apa yang ia bawa. Pangeran Mahaputra menjawab kalau ia membawa Lada hitam untuk keperluan yang lain. Hansa Bai melirik lada yang dibawa oleh Pangeran Mahaputra, “kamu telah membawa hal yang paling penting. aku mengerti keinginanmu untuk orang yang sakit agar cepat sembuh dan kamu melakukannya penuh cinta.” Ucap Hansa bai pada Pangeran Mahaputra. dan Pangeran Mahaputra ingin menanyakan sesuatu pada Hansa Bai.

“Ajabde terus menahan tanganya untuk bantalanku, sedangkan dia saat itu tengah menahan rasa sakit hanya supaya aku bisa tidur. Apakah Anda tidak menyebutnya ini sebuah kegilaan?” Ucap Pangeran Mahaputra pada Hansa Bai dengan perasaan sedihnya. Sinopsis Mahaputra Episode 253

Hansa Bai menjawab, “hanya ada satu hal untuk menghargai kekuatan siapa pun di Rajputana kita. Ini adalah semua tentang kemenangan atas perang. Namun wanita berbeda. Tidak ada pemberitahuan kekuatan tubuh dan jiwa pada wanita. Kamu tahu bahwa kita merasa paling bahagia ketika kita melihat orang yang kita cintai bahagia. Kamu kembali dari perang, semua merasa lelah hingga Ajabde memahami sangat pentingnya kamu untuk tidur saat ini. Tapi kamu malah menyebutnya ini adalah sebuah kebodohan, dia sangat menghargai waktu tidurmu lebih dari rasa sakitnya sendiri?” Ucap Hansa Bai yang memperingati Pangeran Mahaputra.

Dan Pangeran Mahaputra hanya tertunduk dan menggeleng mendengarnya. Hansa Bai mengambil piring dari tangan Pangeran Mahaputra, hingga dia bisa membuat ramuan obat yang dibawa oleh Pangeran Mahaputra. Sedangkan Pangeran Mahaputra hanya terdiam menyesali ucapanya tadi, Kata-kata Hansa bai terus bergema di kepalanya.

Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *