by

Serial TV : Sinopsis Mahaputra Episode 234

-Debroo-63 views

Debroo.com. Serial TV : Sinopsis Mahaputra Episode 234. Dengan sekuat tenaga Pangeran Mahaputra menahan serangan pasukan Marwar dengan perisai. Sedangkan Jalal tersenyum melihat Pangeran Mahaputra terjebak dari kejauhan

Sinopsis Mahaputra Episode 234
Sinopsis Mahaputra Episode 234

Tangan Kiri Pangeran Mahaputra menahan perisai diatas kepalanya, sedangkan tangan kanannya memegang Pedang, Pangeran Mahaputra melayangkan pedangnya untuk membunuh mereka semua dalam satu putaran, semua pasukan Marwar tewas ditangan Pangeran Mahaputra.

Jalal terkejut melihat kekuatan Pangeran Mahaputra yang berhasil membunuh tentara itu dengan sekali putaran. Pangeran Mahaputra menantang Jalal untuk berkelahi dengannya. Jalim Singh datang menyela Pangeran Mahaputra. “Kau hendak menikah tapi lihat apa yang terjadi sekarang?” Ucap Jalim singh sedih.

Pangeran Mahaputra tampak bingung mendengar ucapan Jalim Singh. Namun Jalim singh tetap menyela Pangeran Mahaputra, Pangeran Mahaputra tampak tidak suka mendengarnya dan langsung menyerang Jalim Singh. Sedangkan Jalal yang menyaksikannya hendak menyerang Pangeran Mahaputra dengan pedangnya

Tiba tiba seseorang menghampiri Jalal dari belakang, dan menepuk pundaknya. Reflek Jalal hendak menyerang orang itu tetapi ketika ia melihat Bairam Khanlah yang berada dibelakangnya, Jalal tidak jadi menyerangnya. Bairam Khan datang untuk membawa Jalal pergi bersamanya keluar dari medan pertempuran.

“Aku tidak bisa membiarkanmu mendapatkan lebih banyak terluka di tempat ini, kita benar-benar tidak mengambil bagian dalam pertempuran ini.” Ucap Bhairam Khan yang menasehati Jalal. Namun Jalal tetap bersikeras untuk tetap berada disini.

“Aku harus membawa keluar Pangeran Mahaputra, aku akan membunuhnya.” Ucap Jalal geram. Bairam Khan mencegah Jalal karena sangat berbahaya baginya. “Kamu harus memerintah pada semua tanah-tanah yang sudah kamu kuasai. Kamu harus memenuhi impian ayahmu.” Ucap Bhairam Khan yang kembali memperingati Jalal, dan Jalal akhirnya setuju untuk pergi dengan Bhairam Khan.

Di benteng Chittor, Ratu Bathiyani tampak menyesalkan atas takdirnya. setiap kali terjadi hal yang baik maka pasti akan terjadi masalah yang lainya. “Kami berjuang dengan Marwar dan Pangeran Mahaputra menjadi panglima dalam perang ini.

Ada kemungkinan pasti Pangeran Mahaputra bisa mati tapi aku tidak bisa memastikanya bahkan aku tidak senang tentang itu karena Veer bai. Aku harus memikirkan sesuatu yang besar pesona Rana ji.” Ucap Ratu Bathiyani gelisah, namun saat Bathiyani melihat kekaca Dia terkejut melihat Veerbai datang ke kamarnya.

Veerbai mengatakan pemikiran nya pada Bathiyani kalau ia sangat gelisah tentang perang ini. Namun Ratu Bathiyani menyalahkan Veerbai atas semua masalah. “Jika kau datang ke sini untuk simpati maka kau sudah datang di pintu yang salah. Keluarlah dari kamarku.” Ucap Bathiyani mengusir VeerBai dari kamarnya, Veerbai segera keluar dari Kamar Bathiyani.

Dimedan Pertempuran, Pangeran Mahaputra masih bertempur melawan Jalim Singh. Jalim Singh terus berjuang menghindar dari serangan Pangeran Mahaputra. Ia yakin perang akan segera berakhir karena ia bisa melihat Ram Singh ji belakang Pangeran Mahaputra.

Jalim Singh mengatakan kepada orang dibelakang Pangeran Mahaputra untuk menyerang Pangeran Mahaputra. Namun tanpa memperhatikan siapa orang itu, Pangeran Mahaputra segera menggorok lehernya. Pangeran Mahaputra sangat syokh saat melihat orang yang diserangnya, Pangeran Mahaputra meninggalkan pedangnya dan dengan panik Pangeran Mahaputra bergegas menghampiri Ram singhji yang sudah terluka ditanah.

Dengan sedih Jalim Singh mengatakan pada Pangeran Mahaputra kalau Ram Singh ji datang untuk menyelamatkan dia tapi Pangeran Mahaputra malah membunuhnya. Pangeran Mahaputra menggeleng tidak setuju, Jalim Singh berteriak teriak histeris menyalahkan Pangeran Mahaputra dan ia segera pergi.

Selagi Pangeran Mahaputra memanggil manggil Ram Singh Ji, Jalal tampak tersenyum senang atas perbuatan Pangeran Mahaputra yang sudah salah menyerang Ram Singji. Sementara itu, Ram Singh ji yang sudah terluka dibagian lehernya. Berusaha mengatakan pada Pangeran Mahaputra bahwa, “Kami telah diberikan perlindungan oleh Mughal. Kami juga diberitahu oleh Mughal cara untuk mencapai ke sini.”

Ucap Ram Singhji memberitahu semuanya pada Pangeran Mahaputra. Pangeran Mahaputra langsung teringat apa yang dikatakan panglima Mughal (Nasir) kepadanya pada saat diperbatasan dulu. “Itu berarti semuanya adalah tipuan Jalal. Dia ingin Mewar dan Marwar berperang satu sama lain.” Lirih Pangeran Mahaputra didalam hatinya.

Beberapa Prajurit Marwar datang menjemput Ram Singh Ji. Sedangkan Pangeran Mahaputra tampak berkaca kaca menahan tangisnya, ia memikirkan apa yang telah terjadi, Pangeran Mahaputra sangat terpukul karena mereka sudah berhasil diadu domba oleh Mughal.

Jalim Singh melaporkan kepada Maldev ji dan Raja Uday Singh tentang Pangeran Mahaputra yang sudah membunuh Ram Singhji. Maldev memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Pangeran Mahaputra, kemudan MaldevJi segera turun dari kudanya.

Kembali pada Pangeran Mahaputra dimana ia hanya melindungi diri dari serangan dan tidak melawan. Dengan perasaan sedih Pangeran Mahaputra mengingat bagaimana ia menggorok tenggorokan Ram Singh ji. Tiba tiba saja suasana berubah menjadi gelap dan Pangeran Mahaputra membayangkan dirinya harus berjuang dengan dirinya sendiri.

Hingga dirinya datang lebih banyak untuk menyerang Pangeran Mahaputra. Pangeran Mahaputra membunuh semua diri lainnya dan melihat mereka kaget / heran, tubuh Pangeran Mahaputra kini sudah berlumuran keringat. Pangeran Mahaputra melihat para prajurit yang berbentuk dirinya sendiri dan menyadari kalau ia tidak bisa melawan rakyatnya sendiri.

Disaat semuanya tidak bergerak (seakan waktu berhenti), tiba tiba saja Pangeran Mahaputra mendapat luka sayatan dilengannya, dimana Pangeran Mahaputra diserang oleh dirinya sendiri, Pangeran Mahaputra melihat cerminan dirinya memakai baju perguruannya waktu masih belajar di tempat guru Ravendra. Sinopsis Mahaputra Episode 234

Diri sejatinya mempertanyakan Pangeran Mahaputra tentang ajarannya. “Gurumu sudah memberitahu kau, Pangeran Mahaputra. kalau kau akan berjuang dengan orang-orang yang kau sayangi. Tanganmu tidak harus goyang.” Seseorang tiba tiba saja menyerang tangan Pangeran Mahaputra dan hayalannya pun berakhir.

Pangeran Mahaputra meringis kesakitan menahan luka yang ada ditangannya dan ketika ia melihat orang yang telah menyerangnya Pangeran Mahaputra tercengang menyadari orang itu adalah Guru Raghvendra. Guruji menyerang Pangeran Mahaputra berkali kali dan Pangeran Mahaputra terus menghindar sambil melihat situasi disekitar mereka.

Saat Guruji hendak menyerangnya kembali, Tiba tiba saja Pangeran Mahaputra melepaskan pedangnya. Guruji tampak heran dengan keadaan Pangeran Mahaputra. ucapan Ram Singh ji terus bergema dalam pikiran Pangeran Mahaputra. Pangeran Mahaputra mengatakan kepada Guruji kalau semuanya Jalallah yang merencanakan semuanya. “Dia telah menciptakan situasi ini di mana kita berjuang antara diri kita sendiri. Aku tidak bisa melawan dengan tentara orang-orangku sendiri.” Ucap Pangeran Mahaputra berkaca-kaca

Beberapa Prajurit hendak menyerang Pangeran Mahaputra tapi Raghvendra menghentikan mereka untuk tidak menyerang Pangeran Mahaputra, semua orang langsung menatap kearah Pangeran Mahaputra dan Guruji. “Dia tidak memiliki senjata dan kita tidak melawan dalam situasi itu.” Tutur Guruji dengan suara lantangnya. Semua orang (baik raja-raja, rawat ji) melihatnya. Maldev bertanya, “Ada apa denganmu Pangeran Mahaputra, apa itu adalah semacam leluconmu.” Tanya Maldevji dengan lantang, sedangkan tangannya masih menahan serangan Raja Uday. Sinopsis Mahaputra Episode 234

Rawat ji dan Raja Uday Singh berteriak pada Pangeran Mahaputra untuk mengambil pedangnya. “Mereka adalah musuh kita.” Teriak Raja Uday pada Pangeran Mahaputra. Pangeran Mahaputra tidak setuju dengan ucapan mereka, Pangeran Mahaputra menatap kearah gurunya. “Aku hanya bisa melihat orang-orangku sendiri di sini.

Kita tidak berkelahi dengan musuh tapi diri kita sendiri.” Ucap Pangeran Mahaputra sedih. “Tolong hentikan semuanya. Kita tidak mendapatkan apa-apa melalui ini. Kita harus melawan Mughal, mereka berbahaya. Merekalah yang ingin merebut tanah kita / Rajputana dari kita.

Pangeran Mahaputra berlutut memohon dengan mengatupkan kedua tanganya untuk menghentikan pertempuran mereka. “Tolong hentikan, aku mandi darah di antara orang orangku sendiri hari ini. jika kita terus berjuang di antara diri kita sendiri maka orang lain akan terus mengambil keuntungan dari ini.

Mughal yang mengambil keuntungan hari ini dan besok akan menjadi orang lain. Tolong hentikan.” Ucap Pangeran Mahaputra kembali dengan perasaan sedihnya. “mereka tidak bisa berhenti sekarang, Pangeran Mahaputra. Kau harus berjuang melawanya. Ini adalah kewajibanmu.” Ucap Guruji yang memperingati Pangeran Mahaputra untuk tetap melawan.

Namun Pangeran Mahaputra berusaha meminta maaf karena ia tidak bisa menyebut ini adalah sebuah kewajiban.” Kemudian dengan lantangnya Pangeran Mahaputra memerintahkan kepada tentaranya untuk menjatuhkan senjata mereka dan menghentikan perang ini.

Seketika orang orang berhenti menyerang dan menatap heran kearah Pangeran Mahaputra. Raja Uday Singh mempertanyakan atas tindakan Pangeran Mahaputra. “Aku melakukan tugasnya sebagai panglima dengan menunjukkan mereka dengan cara yang benar. Aku tidak bisa menerima ini sebagai kewajiban di mana kita mengurangi pasukan kita sendiri dengan membuat mereka menyakiti orang mereka sendiri.

Aku tidak akan memilih senjata apapun dalam perang ini sekarang.” Ucap Pangeran Mahaputra sedih. Semua orang akhirnya berhenti saling menyerang dan mereka terkejut mendengar ucapan Pangeran Mahaputra. Raja Uday Singh juga menginginkan Rajputana untuk bersatu. “Aku sudah menentangnya dari awal. Sebuah keputusan yang tepat, tetap benar bahkan setelah nanti.

Kemudian Raja Uday memanggil Maldevji. “Aku juga tidak ingin berperang, di mana kita membunuh orang kita sendiri. Aku juga tidak ingin menjadi bagian dari perang ini.” Ucap Raja Uday pada Maldev ji, sambil menunjukan pedangnya didepan Maldevji, seketika perangpun berhenti.

Setelah memberi penghormatan pada pedangnya, Raja Uday Singh, Rawat ji dan semua tentara Mewar menjatuhkan pedang mereka ketanah. Pangeran Mahaputra terharu dan Guruji tampak tersenyum melihatnya. Namun Maldevji tidak terpengaruh dengan ucapan Prtap, dengan geram dia segera berjalan menuju kearah Pangeran Mahaputra, dimana MaldevJi masih memegang pedang ditanganya.

“Kenapa Pangeran Mahaputra? Melawanlah atau aku akan menyerangmu.” Ucap Maldev pada Pangeran Mahaputra. Raja Uday Singh segera memanggil Raja Maldev dan menyuruhnya untuk memahami seperti apa yang Pangeran Mahaputra katakan. “Dia benar, cobalah untuk mengerti, pemikiran Pangeran Mahaputra.” Tegur Raja Uday pada Maldevji.

“Kau harus memiliki pemikiran tentang hal ini sebelum kau menipu saya.” Ucap Maldev kembali pada Pangeran Mahaputra, dan Pangeran Mahaputra memberitahu Maldevji untuk membunuhnya jika itu dapat menyenangkan hatinya. Pangeran Mahaputra merentangkan kedua tangannya siap untuk dibunuh oleh Raja Maldev.

Semua orang tampak tegang menyaksikannya. Pangeran Mahaputra kembali mengatakan pada Raja Maldev kalau ia menolak untuk mengambil pedangnya lagi. Rawat ji menawarkan untuk menolongnya, tapi Raja Uday Singh melarangnya. Sedangkan Maldev kehilangan kesabaran tapi Pangeran Mahaputra tetap pada keyakinannya.

Maldev melayangkan pedangya keleher Pangeran Mahaputra tapi ia tidak jadi menyerang Pangeran Mahaputra karena Pangeran Mahaputra tetap tidak menggunakan senjatanya untuk melindungi dirinya sendiri. “Aku seorang Rajput nyata yang tidak bisa melawan seperti ini. Jangan berpikir kalau aku telah dipengaruhi oleh kata-katamu. Ini karena ayahmu yang telah menipu saya. hukuman akan ditanggung oleh seluruh Mewar.” Kemudian suara terompet terdengar pertanda perang harus berakhir hari ini.

Maldev mengatur pertempuran besok. “Aku akan selalu ingat bahwa Anda (Pangeran Mahaputra) telah menggorok leher anak aku yang telah mempertaruhkan nyawanya.” Ucap Maldevji lantang, sedangkan Pangeran Mahaputra hanya terdiam berdiri dengan kepala tertunduk sedih.

Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *