by

Serial TV : Sinopsis Mahaputra Episode 228

-Debroo-56 views

Debroo.com. Serial TV : Sinopsis Mahaputra Episode 228. Serial TV Mahaputra Episode 228 dimulai dengan pandit mengatakan kepada Raja Uday bahwa “kita semua harus menghadiri upacara ini.” Raja Uday menyetujui ucapan pandit tersebut.

Sinopsis Mahaputra Episode 228
Sinopsis Mahaputra Episode 228

Mereka tampak melakukan upacara keselamatan didepan sebuah Api. Saat itulah Raja Uday melihat kedatangan Ratu Bathiyani bersama dengan putranya Jagmal yang sudah pandai berjalan. Raja Uday bertanya tentang Ratu Jaywanta pada Ratu Bathiyani

Ratu Bathiyani mengejeknya kalau dia adalah pemimpin ratu, tapi mengapa dia datang dengan sendiri.” Saat Ratu Bathiyani sudah duduk ditempatnya dan jagmal duduk didekat Pangeran Mahaputra, Ratu Jaywantapun datang bersama veer baiji dan mengatakan, “sekarang veer Baiji juga keluarga kita makanya aku aja kesini. Ratu Bathiyani tampak tidak suka melihatnya, dan lebih memilih duduk menjauh dari Veer bai.

Pandit akan memulai ritual mereka, dan Pandit ji memanggil Pangeran Mahaputra untuk melakukan Kusha. Namun Pangeran Mahaputra tidak mendengarnya, karena ia memikirkan ucapan dari salah seorang mata-matanya kemarin.

Ratu Jaywanta menegur putranya, dan barulah Pangeran Mahaputra sadar dari lamunannya dan menuruti melakukan ritual itu dan memberi alat itu pada pandit. Ratu Jaywanta kembali mengatakan pada Pangeran Mahaputra agar fokus pada upacara ini, kemudian Pangeran Mahaputra mengangguk menyetujui ucapan ibunya.

Diperbatasan, semua murid guru Raghvendra tampak bersiap-siap untuk berperang. Saat guru Raghvendra dan kheeta ji membahas tentang peperangan ini, salah seorang murid menginformasikan kepada guru ji “pasukan mughal sudah mendekat kearah kita.” Semuanya tampak tegang dan guruji langsung menyuruh bersiap-siap untuk melawan pasukan mughal.

Kheta ji mengatakan, “kita akan harus menunjukkan satu dari kita sebagai pemimpin mewakili mewar.” Kemudian Guru ji menjawab ucapan kheetaji, namun belum sempat menjawab salah seorang yang bernama Hakimpur datang menghampiri mereka dan mengajukan diri sebagai pemimpin. Hakimpur mengatakan, “aku akan pergi kesana. Tak tinggl diam ratan singh ji mengatakan, “aku akan menghentikannya.”

Namun hakimpur tetap pada pendiriannya untuk memimpin pasukan. Hakim pur segera menunggangkan kudanya menghadapi pasukan mughal sendirian sebagai seorang pemimpin. Ratan sing ji pamit pada Guru kheeta, dan juga ikut bergabung dengan hakimpur.

Kedua teman Pangeran Mahaputra salah satunya cakrapani juga mengajukan dirinya, namun Guru ji mencegahnya. Kheeta ji tampak membicarakan Pangeran Mahaputra, mereka ingin meminta bantuan dengan Pangeran Mahaputra, namun guruji tidak tahu caranya. Salah seorang murid langsung menunjukkan idenya untuk menghidupkan kembang api, maka Pangeran Mahaputra pasti datang seperti sakaveer dulu.

Di mewar, tepat diupacara johar, keluarga mewar bersiap-siap melakukan upacara, dan saat mereka mulai berdoa dengan mengatupkan kedua tangan mereka Saat itu jugalah Pangeran Mahaputra mendapat petunjuk dari guru dev dari kembang api dan lampion.

Pangeran Mahaputra tampak berpikir tentang lampion itu, dan saat ia memejamkan matanya Pangeran Mahaputra teringat tentang krishna yang meminta bantuan lewat petasan, barulah Pangeran Mahaputra sadar dan terhenyak kaget. Dan ia merasa jika seseorang saat ini membutuhkan bantuanya.

Pangeran Mahaputra segera berlalu dari upacara, sedangkan keluarganya yang baru selesai melakukan doa terkejut melihat Pangeran Mahaputra sudah tidak ada ditempatnya. Raja Uday menanyakan Pangeran Mahaputra pada ratu jaywanta namun ratu jaywanta hanya diam saja

Sekali lagi raja uday bertanya, “jawab aku, dimana Pangeran Mahaputra.” Sedangkan Pangeran Mahaputra sendiri sedang bersiap-siap hendak pergi dari benteng. Sementara itu hukum singh melihatnya dan berpikir Pangeran Mahaputra hendak pergi kemana.

Disisi lain, tampak pasukan mughal bersiap-siap hampir mencapai benteng, Paras (hakimpur) dan ratan singh juga hendak mendekati pasukan Mughal. Ratan singh berusaha menghentikan Hakimpur, namun hakimpur tidak menghiraukan peringatan Ratan singhji. Pemimpin pasukan Mughal yang melihat keduanya, mereka tampak mengejeknya.

Dari kejauhan, jalal dan bhairam khan menyaksikannya dari atas bukit. pasukan mughal dan hakimpur melihat kearah bendera mereka akhirnya hakim pur sedikit merasa lega kalau mereka bukan musuhnya. Kemudian hakimpur yang dengan lantangnya memperkenalkan diri kalau ia adalah hakimpur dan memperingati kepada pasukan mughal, namun ia segera tersadar melihat lambang mughal yang ada dileher kuda pasukan.

Hakimpur tampak marah melihat mereka, saat itulah pemimpin pasukan mughal menyuruh prajuritnya menyerang mereka. Ratan sing tampak tegang, Saat seorang prajurit mughal ingin menyerang mereka, Ratan sing menangkis pedang dari salah seorang prajurit yang hendak menyerang mereka, Ratan singh segera memanggil Hakimpur agar cepat menjauh, kemudian pasukan mughal segera mengejar mereka.

Bhairam khan masih menyaksikan pertunjukan dari atas bukit bersama Jalal. Sedangkan dibenteng tampak guru Raghvendra mengintip situsi dari balik celah kayu. Kemudian ia menyuruh murid-muridnya untuk mempercepat persiapan senjata mereka.

Paras (hakimpur) dan ratan singh masih berlari ke benteng guruji dan pasukan Mughal juga mengikuti mereka. Guru ji mengatakan kepada kheta ji, “aku berdoa kepada dewa untuk mereka berdua, semoga Ratan singh dan paras bisa kembali.”

Sementara itu di chittor dimana Pangeran Mahaputra menanyakan kudanya pada pengawal, namun tidak seorangpun yang berbicara. kemudian hukum singh datang dengan kuda dan mengatakan kepada Pangeran Mahaputra, “disini, aku membawa kuda untukmu, pangeran?.

Pangeran Mahaputra segera menaiki kuda yang sudah disediakan oleh hukum singh, setelah Pangeran Mahaputra pergi, hukum singh tampak berpikir licik, dimana kuda itu sudah dirancang sedemikian mungkin untuk mencelakai Pangeran Mahaputra.

Kembali keperbatasan dimana Paras dan ratan singh masih berlari kebenteng guru ji, mereka sudah hampir sampai. Guru ji mengatakan kepada mereka, “cepatlah datang.” Semua pasukan guru Raghvendra tampak tegang melihat pasukanya dari balik pintu rahasia mereka.

Sinopsis Mahaputra Episode 228. Pangeran Mahaputra yang sedang berjalan menuju ketempat guruji. Sedangkan dibenteng semakin tegang, seluruh pasukan Guru Raghvendra berteriak pada mereka berdua agar segera cepat datang kebenteng. Sementara itu ditempat Pangeran Mahaputra, kudanya tiba-tiba saja berhenti karena ia menemukan jalan yang tertutup oleh pohon besar yang tumbang.

Di Chittor, Raja Uday yang masih berada ditempat upacara pemujaan tampak marah pada Ratunya. Raja Uday marah pada Pangeran Mahaputra yang pergi begitu saja saat pemujaan berlangsung dan dalam hati Ratu Jaywanta berdoa agar dewa menyelamatkan anaknya. Sedangkan di Bijolia, Tampak Ajabde melakukan pemujaan pada dewa krisna.

Kembali kehutan, dimana Pangeran Mahaputra memutuskan untuk berjalan melalui jalan lain. Sementara itu diperbatasan, Para tentara Mughal masih mengejar paras dan ratan singh. Ratan singh mengingat semua ucapan jalal yang menyuruhnya untuk menjadi budaknya.

Ratan singh akhirnya berhasil mencapai benteng, dan mereka masih meneriaki paras agar lebih cepat, dia masih ketinggalan. tapi tiba-tiba saja paras berhenti didepan benteng, pasukan mughalpun juga ikut berhenti mengejar paras, Guru Raghvendra berteriak memanggil paras. kemudian paras mengatakan dengan lantang, “aku akan memberi pelajaran untuk Mughal.”

Guru Raghvendra tampak marah dan menyuruhnya untuk minggir, namun Paras bersikeras untuk menghadapi pasukan mughal. Paras melayangkan sebilah pisaunya ketentara mughal, hingga tewas. Setelah kedua kalinya ia melayangkan pisaunya keprajurit mughal, paras beralih mengambil pedangnya.

Namun pedang itu sulit untuk dikeluarkan. Salah satu pemimpin mughal berteriak memanggil paras dan melempar tombak kearah paras. Pasukan Raghvendra tegang melihat paras terluka ditangan musuh mereka. Dengan langkah gontai, Paras segera menuju pintu benteng dan guru Raghvendra langsung merangkul tubuh paras yang terluka parah menuju pintu masuk. Saat berada didalam benteng, Paras mengatakan ia telah berjuang untuk mewar. Pasukan Guru Raghvendra tampak sedih melihat kepergian Paras. dan guruji memuji keberanian paras.

Dihutan, Pangeran Mahaputra masih berjalan menuju keperbatasan. Sementara itu Kembali keperbatasan dimana pasukan mughal sudah berdiri didepan benteng. Kheta ji bertanya kepada guru ji, “bagaimana kita akan menghadapi pasukan Mughal.”

Guru ji kemudian mengatakan kepada kheta ji tentang dewa rama. Kita semua akan berjuang bersama-sama dari serangan Mughal.” Guruji mengatakan semua pendapatnya, kemudian guruji beralih kemurid-muridnya dan memberi mereka perintah. Guru ji mengatakan, “kita akan berjuang dengan strategi.”

Pasukan mughal mulai menyerang benteng dengan anak panah, murid-murid Raghvendra tampak tegang melihat anak panah sudah sampai ditanah mereka. Ketika murid-muridnya hendak Menyerang Pasukan mughal, Guru Raghvendra segera menghentikan mereka dan mengatakan “Kita akan menyerang dengan melakukan strategi.”

Diluar benteng pemimpin mughal tampak kaget melihat hasil penyerangan mereka yang tidak ada balasannya dari dalam benteng. Beralih pada Guru ji yang mengatakan pada pasukannya, “kita harus menyerang Mughal dengan setiap anak panah. Guruji memperbaiki posisi Cakrapni yang tengah memegang anak panah, dan guruji memberi slogan untuk mereka “Hidup mewaaarr..!! Saat itulah panah kedua masuk kebenteng mereka, Guru ji langsung memerintahkan untuk melesatkan anak panah mereka kepasukan mughal.

Suasana peperangan semakin memanas kedua kubu saling melemparkan anak panah mereka. Jalal dan bhairam khan masih menyaksikan peperangan itu dari atas bukit, terlihat pasukhan Mughal banyak yang tewas. Hingga panah yang berapi dilesatkan para murid-murid guruji kepasukan mughal, mereka tampak kwalahan menerima serangan dari murid-murid guru Raghvendra., dari atas bukit jalal, memuji pasukan guru Raghvendra sambil berkata, “mereka benar-benar berani.”

Namun kemudian Jalal menjadi frustrasi melihat pasukannya banyak yang tewas. dan mengatakan, “berpikirlah sesuatu nasir.” Ucap jalal geram melihat kekalahan pasukanya. Nasir membuat rencana dengan beberapa prajuritnya, mereka segera berjalan mendekati depan pintu gerbang hingga mereka berhasil melukai pasukan Guru Raghvendra. Peperangan semakin memanas, dimana nasir memerintahkan prajuritnya untuk membuka pintu gerbang, murid-murid guru Raghvendra tampak tegang melihatnya.

Pangeran Mahaputra yang masih berada diperjalanan, tiba-tiba kuda yang dinaikinya tersandung tali dan Pangeran Mahaputrapun terjatuh diparit dan Ratu Jaywanta mendapatkan firasat buruk, Raja Uday dan kedua ratunya menatap heran kearah Ratu Jaywanta. Sedangkan dibijolia, Ajabde masih berdoa untuk keselamatan Pangeran Mahaputra dan Pangeran Mahaputra tampak kesulitan menyelamatkan dirinya dari parit itu.

Hakimpur dan 2 orang prajurit mughal tampak senang melihat Pangeran Mahaputra terjebak. Pangeran Mahaputra berusaha meminta pertolongan dengan kudanya yang bernama sarang.

Diperbatasan murid-murid guru Raghvendra tampak berusaha menahan pintu gerbang, sementara itu dari luar benteng, pasukan Mughal mendapat serangan batu besar dari murid-murid guru Raghvendra. Guruji menghampiri kheeta ji. Mereka tampak berunding strategi untuk menghadapi pasukan mughal. Chakrapani dan benidas segera pergi kegerbang. Untuk menahan pintu gerbang dengan batu-batu besar yang mereka miliki.

Ditempat lain Pangeran Mahaputra masih terjebak dalam parit (berlumpur) ia berusaha memanggil sarang untuk meminta bantuan pada kudanya tersebut. Sarang tampak panik melihat Pangeran Mahaputra hendak tenggelam, ia perlahan-lahan mendekati Pangeran Mahaputra.

Diperbatasan pasukan kheetaji masih berusaha untuk menyerang mughal dengan menggunakan batu besar. Pasukan mughal tampak panik mendapat serangan tersebut. guru ji memerintah cakrapani dan benidas untuk menjauh dari pintu gerbang, mereka menuriti ucapan guru Raghvendra, anaj, chakrapani dan benidas hendak kembali ke guru ji tapi anaj yang merupakan murid kesayangan guru Raghvendra masih tertinggal disana untuk pemeriksaan terakhir dan sayangnya dia terbunuh oleh anak panah.

Semua tampak tegang melihatnya, guru Raghvendra berteriak memanggil Anaj yang terluka parah , sedangkan Pangeran Mahaputra sudah mulai tenggelam dilumpur hisap. Hakim singh tersenyum melihatnya, sarang tampak panik, dimana dilumpur tersebut hanya tangan Pangeran Mahaputra yang masih terlihat.

Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *