by

Serial TV : Sinopsis Mahaputra Episode 202

-Debroo-68 views

Debroo.com. Serial TV : Sinopsis Mahaputra Episode 202. Di sebuah pasar masih di daerah kekuasaan kerajaan Bijolia, nampak Pangeran Mahaputra dan Jalal berada pada satu tempat yang sama, saat itu ketika Pangeran Mahaputra dan teman-temannya sedang berjalan-jalan di dalam pasar, Pangeran Mahaputra merasa ada yang mengikutinya dibelakang.

Pangeran Mahaputra mencoba menengok kesana kemari namun tidak menemukan apa-apa, tanpa sepengetahuan Pangeran Mahaputra, Gohar masih terus membuntuti Pangeran Mahaputra dan bermaksud hendak membunuhnya setelah semua rencana nya gagal, ketika mereka berdua bersama-sama berada di istana “Benidas, rasanya ada yang tidak beres disini!” Pangeran Mahaputra mulai merasa curiga dengan keadaan disekelilingnya”

sinopsis mahaputra antv - episode 202
sinopsis mahaputra antv – episode 202

Sementara itu para prajurit Afghanistan mendatangi sebuah desa dimana orang tua Saubhagyawati tinggal disana, pasukan Mahmud Shah itu membuat kekacauan disana dengan membunuh dan mengusir orang-orang desa tersebut

Di Pasar, prajurit Jalal mulai mendirikan tenda untuk beristirahat untuk Jalal dan Bairam Khan, salah satu prajurit mengibarkan bendera Mughal namun langsung dicegah oleh Bairam Khan “Beraninya kau mengibarkan bendera ini? Apakah kau tidak tahu kalau ada seseorang yang melihat bendera ini maka mereka akan membunuh kita semua! Mengerti kau? Masukkan bendera ini ke dalam! Cepat!”

Akhirnya bendera itu tidak jadi dikibarkan “Aku sangat bersemangat dan tertarik untuk mengambil alih Mewar!” ujar Jalal, tanpa sepengetahuan Jalal, ternyata Pangeran Mahaputra melihat Jalal dan tendanya, Pangeran Mahaputra teringat pada kenangan manis mereka berdua

Sementara itu pasangan pengantin baru yang baru saja menikah, Chakrapani dan Shobagyawati nampak pulang kedesa Shobagyawati menggunakan gerobak sapi, sesampainya di desa ternyata desa itu telah sepi yang ada hanya para prajuit Mahmud Shah, mereka rupanya sengaja menjebak Chakrapani.

Chakrapani mencoba melawan serangan prajurit Mahmud Shah sambil berteriak pada istrinya untuk pergi dari sini, Shobagyawati merasa bingung dan gelisah akhirnya dia berbalik menuruti ucapan Chakrapani, berlari menuju ke kerajaan Bijolia sambil berteriak memanggil-manggil nama Pangeran Mahaputra.

Dikerajaan Bijolia, Ajabde diantar oleh ibunya untuk menghadap kehadapan ayahnya yang saat itu sedang menimang-nimang adik bayi Ajabe dengan senyum sumringah diwajahnya, awalnya Ajabde ragu-ragu hendak menemui ayahnya namun ibunya menguatkan Ajabde untuk menceritakan kepada ayahnya kenapa dia meminta Pangeran Mahaputra pergi.

Raja Mamrat Ji merasa tidak suka dengan kehadiran Ajabde dan belum juga Ajabde menyampaikan maksud kedatangannya, dari arah luar istana, Ajabde mendengar dari arah luar istana ada suara yang memanggil-manggil Pangeran Mahaputra “Pangeran Mahaputra! Pangeran Mahaputra! Pangeran Mahaputra!” Ajabde dan Raja Mamrat Ji merasa heran, Ajabde mengenal suara itu suara Shobagyawati temannya

Ajabde segera melihat dari balik jendela dan dilihatnya Shobagyawati sedang berlari-lari seperti orang yang ketakutan, bergegas Ajabde segera menghentikan Shobagyawati yang masih terus berlari “Shobagyawati, ada apa?”, “Putri Ajabde, maafkan aku tapi dimana Pangeran Mahaputra? Dimana Pangeran Mahaputra?” Shobagyawati nampak cemas dan ketakutan yang amat sangat sambil menceritakan situasi yang terjadi didesanya, Raja Mamrat Ji hanya mendengarkan saja dibelakang Ajabde

“Shobagyawati, Pangeran Mahaputra sudah tidak ada di Bijolia, dia sudah pulang ke Mewar” Shobagyawati panik begitu mendengar ucapan Ajabde dan langsung jatuh pingsan tidak sadarkan diri, Raja Mamrat Ji segera meminta prajuritnya untuk berkumpul sekarang juga.

Diruang pribadi raja, Raja Mamrat Ji sedang memberikan pengarahan pada para prajuritnya kalau mereka akan berperang melawan pasukan Mahmud Shah, orang-orang Afghanistan, Ajabde memasuki ruangan itu seraya berkata “Ayah, kita bisa memanggil Pangeran Mahaputra dengan surat ini” ujar Ajabde sambil memberikan selembar surat pada ayahnya namun Raja Mamrat Ji menolaknya “Tidak ada seorangpun yang bisa mengirimkan surat ini ke Pangeran Mahaputra” ujar Raja Mamrat Ji kesal sambil menyobek-nyobek surat yang dibuat oleh Ajabde

kemudian berlalu dari sana di ikuti oleh para prajuritnya, Ajabde merasa sedih melihat situasi yang terjadi saat ini, tiba-tiba Ajabde teringat pada Laksmi sapi piarannya “Aku punya ide, Laksmi, dia pasti bisa memberikan pesan ini ke Pangeran Mahaputra!” Ajabde segera menghampiri Laksmi dan memintanya agar menemui Pangeran Mahaputra, Ajabde mengikatkan dupattanya dileher Laksmi kemudian melepas tali yang mengikat leher Laksmi dan menyuruh Laksmi pergi mencari Pangeran Mahaputra dimanapun dia berada

Dipasar, teman-teman Pangeran Mahaputra ingin membeli Jalebi (makanan ringan yang dijual dipasar) “Pangeran Mahaputra, aku ingin membeli jalebi, apakah kau juga mau membelinya?”, “Tidak, tidak, aku tidak mau membelinya” kedua teman Pangeran Mahaputra nampak sedih “Ayolah, pangeran, aku mohon, ayoo kita beli makanan itu”, “Baiklah” akhirnya mereka bertiga menghampiri penjual jalebi tersebut, saat itu Gohar masih terus mengikuti Pangeran Mahaputra dibelakang.

Ditenda Jalal, Jalal saat itu juga sedang mencicipi jalebi “Sekarang aku ingin pergi untuk membeli makanan ini sendiri dan mencicipinya” ujar Jalal kemudian berlalu keluar tendanya, sedangkan Pangeran Mahaputra yang sedang menuju kepenjual jalebi kembali merasa ada orang yang mengikutinya dibelakangnya.

Pangeran Mahaputra segera berbalik kebelakang namun Gohar kembali bersembunyi, tepat pada saat itu ketika Gohar sedang menghindar dari tatapan Pangeran Mahaputra, Gohar hampir saja menabrak Jalal dan Bhairam Khan yang juga sedang berjalan-jalan dipasar

“Yang Mulia, maafkan aku, aku kesini mengikuti Pangeran Mahaputra dan dia telah sampai disini, dipasar ini” ujar Gohar, Jalal marah dan geram mendengar ucapan Gohar “Yang Mulia, lebih baik kita kembali ketenda kita saja” Bhairam Khan langsung menggeret lengan Jalal “Aku tidak takut dengan Pangeran Mahaputra, Khan Baba (panggilan Jalal ke Bhairam Khan)! Aku ingin mencicipi jalebi!” Jalal bersikeras hendak menuju ketempat Pangeran Mahaputra namun Bhairam Khan terus mencegahnya.

Didesa, Chakrapani akhirnya bisa dilumpuhkan oleh para prajurit Afghanistan, Chakrapani menjadi bual-bualan para prajurit itu, Chakrapani dilempar kesana kemari, tubuh Chakrapani lemas dan tidak memberikan perlawanan apapun, para prajurit Afghanistan merasa senang, apalagi ketika Chakrapani jatuh terkulai lemas ditanah, mereka tertawa terbahak-bahak melihat Chakrapani yang sudah tidak berdaya.

Kemudian mereka menginjak-injak tubuh Chakrapani, tak lama Mahmud Shah datang menghampiri para prajuritnya, salah satu orang kepercayaan Mahmud Shah mengabarkan kalau Chakrapani adalah teman Pangeran Mahaputra, tak lama kemudian ayah mertua Chakrapani menghampiri Chakrapani bermaksud hendak menolongnya namun para prajurit Afghanistan itu malah menghajar ayah mertua Chakrapani dan Chakrapani hingga babak belur.

Dikerajaan Bijolia, Shobagyawati terbangun dari pingsannya sambil berteriak ketakutan, Ajabde, Ratu Hansa Bai dan Phool berusaha menenangkan Shobagyawati “Lalu siapa yang akan menyelamatkan kita dari prajurit Afghanistan itu, Ajabde, mereka datang dengan pasukan yang sangat besar” Shobagyawati semakin ketakutan “Shobagyawati, berdoalah pada Dewa”

Dipasar, ketika Pangeran Mahaputra sedang melihat kesekelilingnya, tiba-tiba Pangeran Mahaputra melihat Jalal sedang ngobrol dengan seseorang yang sebenarnya itu adalah Bhairam Khan yang berdiri membelakangi Pangeran Mahaputra.

Jalal dan Bhairam Khan sedang membahas tentang kehadiran Pangeran Mahaputra dipasar itu, sementara Pangeran Mahaputra merasa senang karena bisa ketemu dengan Jalal, teman lamanya yang dulu bertemu di kuil Meera Bai, dengan perasaan senang karena akan bertemu dengan teman lama, Pangeran Mahaputra segera menghampiri Jalal dengan senyumnya yang mengembang diwajahnya, dari kejauhan Gohar yang melihat Pangeran Mahaputra menghampiri Jalal merasa kebingungan dan heran, sedangkan Jalal masih terus berdebat dengan Bhairam Khan.

Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *