by

Inilah Sinopsis Jodha Akbar Episode 371

-Debroo-51 views
Debroo.com – Inilah Sinopsis Jodha Akbar Episode 371. Pada Kisah dalam Sinopsis Jodha Akbar Episode 370 sebelumnya, Debroo menuliskan tentang Bagaimana Pangeran salim yang diberikan pelajaran oleh ayahnya tentang arti sebuah tanggung jawab. Pelajaran itu diberikan saat mereka masih dihutan, dimana raja jalal berpura-pura menjadi perampok dan mengancam menyakiti ratu jodha namun dengan keberaniannya pangeran salim mampu mengalahkan perampok itu dan ternyata itu adalah ayahnya. Mari simak kelanjutanya.

Inilah Sinopsis Jodha Akbar Episode 371

Cerita-Jodha-Akbar-Episode-371-1
Pada Malam itu dikamar Raja Jalal, ia sedang terbaring dengan tubuh yang teluka pedang, sementara itu Ratu Jodha sedang mengoleskan krim pada luka Raja Jalal dgn tampang yang masam, Ratu Jodha sangat marah sekali pada Raja Jalal, setelah selesai membalut luka Raja Jalal, Ratu Jodha menggerutu terus “Jadi dgn cara seperti ini kau mengajarkan sesuatu pada anakmu, Yang Mulia? bagaimana kalau nanti kau terluka parah? bagaimana kalau bukan Pangeran Salim? aku pasti akan menyerangmu, kau seharusnya menceritakan terlebih dahulu padaku tentang rencanamu itu, Yang Mulia” ujarnya ketus, sementara itu Raja Jalal hanya diam saja sambil terus memperhatikan istrinya yang sedang kesal padanya,Ratu Jodha semakin jengkel ketika Raja Jalal tidak menanggapi perkataannya, akhirnya setelah merapikan semua ramuan obatnya Ratu Jodha langsung berdiri hendak beranjak pergi dari kamar Raja Jalal tapi Raja Jalal langsung menyambar tangannya, “Ratu Jodha, masih ada banyak luka ditubuhku yang membutuhkan obatmu itu” ujar Raja Jalal. “Oh yaa, dimana? ” Ratu Jodha langsung panik begitu tahu kalau Raja Jalal punya luka lagi,
“yang mana, Yang Mulia, aku harus mengoleskan obat ini disemua luka yang ada” kata Ratu Jodha, “Kau tidak akan menemukannya kalau kau jauh seperti itu, mendekatlah padaku, kau pasti akan menemukannya” ujar Raja Jalal, Ratu Jodha pun menuruti kata-kata Raja Jalal, dia duduk persis disebelah Raja Jalal diatas tempat tidur “Aku tidak menemukan luka apapun ditubuhmu ini? ” kata Ratu Jodha sambil melihat-lihat dgn seksama di wajah dan tubuh Raja Jalal sambil membolak balik wajah Raja Jalal,
“Lukanya itu ada didalam sini, Ratu Jodha” ujar Raja Jalal sambil memegang tangan Ratu Jodha lalu ditaruhnya didadanya sebelah kiri, Ratu Jodha mulai paham maksud Raja Jalal, Raja Jalal mulai lagi ingin menggodanya “Bagaimana, kau bisa merasakan lukaku sekarang?” tanya Raja Jalal, Ratu Jodha hanya tesenyum sambil memperhatikan tingkah laku suaminya yang suka sekali menggodanya ini,
“Ratu Jodha, kau tahu, luka yang pertama ini kau berikan ketika aku melihatmu pertama kali” ujar Raja Jalal lalu digesernya tangan Ratu Jodha dan ditaruhnya didadanya yang sebelah kanan, “Dan luka yang ini kau berikan ketika aku melihatmu pertama kali dipantulan air dikolam, ketika kau juga melihatku untuk yang pertama kali, kemudian aku melihatmu pergi didalam sebuah tandu” ujar Raja Jalal, Ratu Jodha masih diam saja menuruti gerakan tangan suaminya lalu Raja Jalal menggeser kembali tangan Ratu Jodha kearah leher
“Sedangkan luka yang ini, kau berikan ketika kau mengambil sebilah pedang dan kau taruh dileherku” ujar Raja Jalal lagi lalu Raja Jalal kembali menggeser tangan Ratu Jodha kearah dadanya kembali “Dan luka yang ini, kau berikan ketika kau tidak mengijinkan aku untuk menyentuhmu” ujar Raja Jalal sambil membelai wajah Ratu Jodha dgn lembut,
“Ratu Jodha, kau juga telah memberikan aku luka ketika kau memberikan hatimu untukku” goda Raja Jalal, Ratu Jodha hanya senyum-senyum saja digoda seperti itu oleh suaminya “Jadi, sekarang kau harus memberikan obat juga untuk luka luka ini” goda Raja Jalal,
“Kau nakal, Yang Mulia!” Ratu Jodha merasa gemas sekali dgn perlakuan suaminya lalu ditinjunya dada kiri Raja Jalal dan Raja Jalalpun berteriak kesakitan, Ratu Jodha langsung panik, “Aduuuh, maaf sakit yaaa? ” tanya Ratu Jodha, “tidak, tidak apa-apa, tapi jangan pergi, jangan tinggalkan aku, tetaplah disini, aku ingin malam ini bersamamu, Ratu Jodha” pinta Raja Jalal, Ratu Jodha pun tersenyum memandang suaminya lalu dicubitnya dagu Raja Jalal dgn gemas, Raja Jalal tersenyum memandang istrinya yang cantik, lalu Ratu Jodha berbaring disebelah Raja Jalal diatas tempat tidur, kedua tangan mereka bertautan satu sama lain, kemudian Raja Jalal mencium tangan Ratu Jodha dgn lembut, Ratu Jodha pun membelai wajah Raja Jalal dgn lembut dan lagu in ankhoon main, pun mulai terdengar berkumandang. Mereka berdua tampak saling memandang satu sama lain sambil tersenyum dgn penuh cinta.
Disebuah ruang keluarga istana, Raja Jalal sedang mengobrol bersama kedua istri spesialnya Ratu Jodha dan Ratu Salima, “Ratu Salima, Murad adalah anak yang pintar dan kuat, dia pasti akan menjadi ksatria yang besar suatu hari nanti” ujar Raja Jalal, “Yaa, semuanya itu karena dia adalah anak anda, Yang Mulia” kata Ratu Salima, “Oooh bukan, bukan, kau adalah ibu sejatinya, Ratu Salima, ibunya telah meninggal dan kau merawatnya, kau telah menganggapnya sebagai anakmu sendiri” kata Raja Jalal lagi, “Perhatian Ratu Salima yang begitu besar ketika membesarkan Rahim, sama besarnya ketika Ratu Salima membesarkan Murad, Yang Mulia” timpal Ratu Jodha tepat pada saat itu Ratu Ruqayah datang menemui mereka bersama seorang pelayan. “Yang Mulia, aku ingin bicara empat mata dgnmu sekarang” kata Ratu Ruqayah, “Kau seharusnya tidak punya masalah dgn kedua wanita yang duduk bersamaku saat ini, Ratu Ruqayah” tegas Raja Jalal,
“Oh iyaa, tentu tidak, bagaimanapun juga mereka juga istri spesialmu” kata Ratu Ruqayah kemudian Ratu Ruqayah membuka kotak yang dibawanya tadi, dikotak tersebut terdapat berbagai macam stempel, “Ini semua adalah stempel Kerajaan Mughal yang kau berikan padaku sebagai penguasa Istana Ratu tapi kali ini aku kembalikan semuanya padamu” kata Ratu Ruqayah, “Apa maksudmu, Ratu Ruqayah? ” tanya Raja Jalal, “Aku pikir Istana Ratu adalah dibawah kekuasaanku, apapun yang telah aku putuskan pasti akan kau terima, tetapi dalam kasus Rashid, aku telah memecat dia dan kau malah memberinya pekerjaan lagi tanpa memberitahu padaku terlebih dahulu, kau telah menyakiti perasaanku, aku tidak terima dgn keputusanmu maka aku pikir lebih baik aku mengundurkan diri dari jabatan ini” kata Ratu Ruqayah, “Ratu Ruqayah, jangan mengambil keputusan dalam keadaan marah, itu tidak baik” ujar Ratu Salima,
v
“Aku menghormatimu, Ratu Ruqayah, tapi pernahkah kau berfikir bahwa hanya karena pertengkaran anak-anak, maka orang tuanya harus ikut dihukum?” tanya Raja Jalal, “Tapi Pangeran Salim itu bukan anak yang biasa, Yang Mulia, jadi siapapun pasti bisa menghinanya, aku akan menjatuhkan hukuman pada mereka dan jika kau mengira keputusanku ini salah, aku akan mengundurkan diri dari semua tanggung jawabku didalam istana ini” kata Ratu Ruqayah lagi. Mendengar penuturan Ratu Ruqayah, Raja Jalal langsung berdiri diikuti oleh Ratu Jodha dan Ratu Salima, sementara Ratu Ruqayah masih berdiri didepan mereka dgn angkuhnya,
“Yaaa, kau benar, Ratu Ruqayah, jika orang yang bertanggung jawab melakukan beberapa kesalahan maka dia harus meninggalkan jabatannya, aku setuju, dan aku juga telah melakukan kesalahan, jadi aku harus mengundurkan diri dari jabatanku juga” ujar Raja Jalal sambil melepaskan turbannya dan diletakkannya disebelah kotak yang dibawa oleh Ratu Ruqayah tadi, Ratu Jodha dan Ratu Salima sangat terkejut melihat Raja Jalal melepaskan turbannya, “Apa yang kau lakukan, Yang Mulia?” tanya Ratu Jodha, “Tenang, Ratu Jodha, tadi Ratu Ruqayah mengatakan bahwa jika orang yang bertanggung jawab melakukan beberapa kesalahan maka dia harus meninggalkan jabatannya” kata Raja Jalal,
“Lalu kesalahan apa yang telah kau lakukan, Yang Mulia?” tanya Ratu Salima, “Apa kalian ingat ketika Pangeran Salim pergi keluar dari istana? aku telah memberikan hukuman kepada para prajurit tapi Ratu Ruqayah tadi mengatakan untuk kesalahan anak-anak, orang tua harus dihukum jadi aku mengundurkan diri dari jabatanku” jelas Raja Jalal, “Tapi, bagaimana kau bisa melakukan itu, Yang Mulia?” tanya Ratu Jodha,
“Mengapa tidak, Ratu Jodha, jika Rashid bisa menggantikan kesalahan Nadira, maka aku juga bisa menggantikan kesalahan Pangeran Salim, peraturan itu dibuat untuk semua orang, baik itu rakyat biasa ataupun seorang Raja, Ratu Jodha” terang Raja Jalal, “Ratu Ruqayah, kita semua ini sama, kita hanyalah manusia biasa, kita seharusnya tidak lari dari permasalahan yang ada, kita harus bisa menghadapinya dan memperbaiki semua itu” terang Raja Jalal, “Aku mengerti, Yang Mulia, aku bisa menerimanya, maafkan semua kesalahanku tadi” kata Ratu Ruqayah,
“Ratu Ruqayah, kau adalah sahabat terbaik dan teman kecilku, aku selalu menghormati semua keputusanmu dan itu akan berlaku selamanya tapi jika kita membuat sebuah kesalahan dan yang lain bisa memperbaikinya, kenapa tidak?” kata Raja Jalal, “Yaaa, aku sudah mengerti semua kesalahanku, Yang Mulia, aku tarik kembali semua perkataanku tadi” ujar Ratu Ruqayah, Ratu Jodha dan Ratu Salima sangat senang mendengarnya.
Di dalam ruang permainan catur, Pangeran Salim dan Murad sedang bermain catur yang menggunakan biduk sungguhan yaitu para prajurit dan pelayan istana, Murad melanggar permainan catur, “Aku bisa menjalankan prajuritku kemanapun aku suka” kata Murad, “Kau tidak boleh melakukan yang sesuai keinginanmu, kau harus mengikuti peraturannya” ujar Pangeran Salim, tak berapa lama kemudian Pangeran Salim dan Murad terlibat perkelahian, dari yang sekedar pertengkaran mulut berujung ke perkelahian fisik diantara mereka tepat pada saat itu Raja Jalal sedang melewati ruangan tersebut dan tampak sekilas melihat perkelahian Pangeran Salim dan Murad, menyadari keberadaan Raja Jalal, Murad dan Pangeran Salim langsung menghentikan perkelahian mereka dan saling berpelukan satu sama lain, sementara itu Raja Jalal hanya bisa tersenyum bingung melihat tingkah laku anak-anaknya, “Waah, ada debu dipundakmu, Pangeran Salim” kata Murad, “Iyaa, terima kasih, Murad, kau sudah membersihkannya”, ujar Pangeran Salim tak lama kemudian Raja Jalal menemui mereka dan anak-anak langsung memberi salam, “Salam, Yang Mulia “ kata anak-anak serempak,
“Hmm, siapa saya? ” tanya Raja Jalal, “Salam abbujan(ayah)” jawab anak-anak lagi kompak, “Hmmm, Jangan coba-coba untuk berpura-pura didepan saya, saya tau apa yang kalian lakukan, kalian telah melakukan perkelahian yang memalukan, perkelahian yang bodoh dan tidak berkelas, jika kalian menghabiskan waktu dgn belajar, kalian akan menjadi seorang ksatria besar suatu hari nanti, sekarang pergilah ke Rahim dan belajarlah bertarung menggunakan pedang dgnnya” ujar Raja Jalal sambil mnenyuruh anak-anak itu, anak-anakpun berlalu dari sana.
Cerita-Jodha-Akbar-Episode-371-2
Rahim sedang mempersiapkan senjata-senjata untuk berperang seperti pedang, panah, tombak dan lain sebagainya, bersama para pelayan, Rahim sedang mempersiapkan tempat latihan untuk bertarung.
Sementara itu dihalaman istana, Ratu Jodha sedang berada disana ditemani oleh para pelayan setianya, Moti, Zakira dan Shamshad. Ratu Jodha tampak duduk dibawah membuat ‘rangoli’ (hiasan dari kelopak kelopak bunga), Tak lama kemudian Raja Jalal datang menemuinya dan para pelayan itupun pergi meninggalkan mereka berdua. “Kau sedang membuat apa, Ratu Jodha? untuk apa ini?” tanya Raja Jalal, “tidak ada yang special, Yang Mulia, aku suka saja membuat ‘rangoli’” jawab Ratu Jodha, “Kau telah membuat sebuah ‘rangoli’ yang indah, aku suka” kata Raja Jalal, “Yaaa, aku cuma bisa membuat sebuah rangoli yang indah, Yang Mulia, tapi suamiku telah melakukan sesuatu dgn sangat baik” kata Ratu Jodha,
“Apa maksudmu, Ratu Jodha?” tanya Raja Jalal penasaran sambil menghampiri Ratu Jodha yang masih duduk bersimpuh dibawah, Ratu Jodha langsung berdiri begitu suaminya mendekatinya, “Cara kau mengatasi Ratu Ruqayah tadi, sangatlah menakjubkan” kata Ratu Jodha kemudian Ratu Jodha menggunakan bahasa Urdu, tapi Raja Jalal menggodanya kembali “Ratu Jodha, kau harus belajar bahasa Urdu lebih baik lagi, bahasa Urdu masih belum benar” goda Raja Jalal, “Oooh yaa? ya sudah tinggalkan saya, sekarang kau harus memikirkan tentang anak-anak” ujar Ratu Jodha, “Aku sudah memutuskan bahwa Rahim yang akan memberikan pelajaran pada anak-anak tentang pertarungan dalam berperang, hari ini adalah hari pertama Pangeran Salim untuk berlatih berperang, Ratu Jodha” kata Raja Jalal.
Anak-anak sedang berada dikebun istana dgn senjata busur dan panah mereka, “Kau tahu Haidar, Pangeran Salim mempunyai peralatan panah yang lebih bagus dari pada kita, itu semua karena dia adalah pewaris tahta kerajaan” kata Murad dari arah kejauhan sementara itu Pangeran Salim bersama Danial dan Qutub berada jauh didepan mereka. “Kau sebenarnya yang lebih pantas mempunyai peralatan panah seperti itu, Murad, Pangeran Salim tidak pernah tahu bagaimana caranya mengenai sasaran” ujar Haidar sambil memanasi-manasi Murad. Lalu mereka berdua berjalan mendekati Pangeran Salim, “Pangeran Salim, apakah kau tahu bagaimana caranya mengenai sasaran yang kita inginkan?” ejek Murad, “Aku tahu dgn baik!” jawab Pangeran Salim,
“Baiklah, kalau begitu mari kita adakan kompetisi, itu didepan sana ada pohon mangga, salah seorang yang bisa memanah buah mangga itu, itulah pemenangnya, bagaimana?” kata Murad, “Baik! aku terima!” jawab Pangeran Salim, “Kalau begitu kau duluan karena kau adalah pewaris tahta kerajaan!” tegas Murad, “Karena aku pewaris tahta kerajaan, aku memberikan perintah padamu untuk memulai terlebih dahulu, silahkan!” ujar Pangeran Salim, “Baiklah, dgn restumu pewaris tahta kerajaan” kata Murad sambil mengambil anak panahnya dan bersiap untuk memanah salah satu buah mangga yang ada, kemudian anak panah Murad berhasil mencapai sasaran, buah mangga yang hijau itu jatuh kebawah,
“Bagus! pekerjaan yang bagus Murad!” kata Haidar, sesaat kemudian giliran Danial, ternyata dia tidak bisa memanah buah mangga itu, lalu giliran Haidar, dia bisa memanah buah mangga yang ranum yang berwarna merah, buah mangga itu jatuh juga kebawah, sampai akhirnya giliran Pangeran Salim, Pangeran Salim berusaha mempersiapkan anak panah dan busurnya dan melesatkannya ke buah mangga yang dituju tapi ternyata anak panah Pangeran Salim tidak mencapai sasaran, Pangeran Salim sangat sedih. “Jangan khawatir, kau bisa mencobanya lagi, Pangeran Salim” ujar Murad, kemudian Pangeran Salim mencobanya membidik lagi buah mangga yang merah ranum tapi kembali anak panah Pangeran Salim gagal mencapai sasaran,
“Pangeran Salim, kau ini seorang pewaris tahta kerajaan tapi kenapa kau tidak bisa mencapai sasaranmu ke buah mangga itu?” ejek Murad, “Pangeran Salim, kau itu tidak pantas mendapatkan peralatan panah yang bagus itu, kau seharusnya memberikannya ke Murad” ejek Haidar, “tidak! ibuku yang memberikan peralatan panah ini! aku tidak akan memberikannya padamu!” bentak Pangeran Salim tapi Murad berusaha untuk merenggut peralatan panah Pangeran Salim tapi Pangeran Salim menariknya sampai akhirnya salah satu prajurit datang menemui mereka dan memberitahukan kalau Rahim memanggil mereka semua,
“Baiklah, ayoo kita kesana, jangan lupa Pangeran Salim kau juga harus kesana, kita akan berlatih bersama” kata Haidar sambil berlalu dari sana diikuti oleh anak-anak yang lain, sementara itu Pangeran Salim diam saja, dia hanya memperhatikan pohon mangga yang ada didepannya. Dengan Inilah Sinopsis Jodha Akbar Episode 371 pun berakhir. Ayo simak terus Kisah selanjutnya pada Episode 372 berikutnya Hanya di Debroo.com
Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *