by

Generasi Muda Indonesia Alami Krisis Identitas

-Debroo-289 views

pemuda1

Ada apa dengan negeriku? Pertanyaan itu seringkali terlintas ketika melihat kondisi moralitas pemuda indonesia yang mulai terkikis oleh budaya modernitas. Tidak sedikit dari mereka yang terhipnotis oleh euforia masa muda yang membuatnya hanyut dalam dunia fantasi semu. Kekhawatiran selalu muncul ketika memikirkan masa depan bangsa indonesia. Generasi muda merupakan generasi emas harapan bangsa sebagai penerus tongkat estafet kepemimpinan. Kesuksesan bangsa Indonesia dimasa mendatang bertumpu pada optimisme generasi muda dalam membangun negerinya. Moralitas merupakan indikator penting untuk menilai kualitas generasi muda, karena kepribadian seseorang tercermin dari perilakunya.
Generasi muda indonesia telah mengalami degradasi moral, kondisi ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan kualitas generasi muda pada masa ore lama maupun pada masa orde baru. Saat ini pemuda cenderung apatis terhadap isu-isu politik dan kondisi sosial masyarakat. Bahkan tidak sedikit yang diperbudak oleh prinsip hedonisme yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Penganut paham ini beranggapan bahwa hidup hanya sekali, sehingga mereka ingin menikmati hidup dengan bersenang-senang. Hidup mereka dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tak terbatas.
Gaya hidup pemuda tidak lepas dari konsumerisme yang menjadikannya pecandu belanja. Rasa gengsi yang tinggi dengan menonjolkan merek-merek terkenal dan mahal merupakan fenomena gaya hidup yang sering kita jumpai. Fenomena ini turut berkontribusi dalam menciptakan kesenjangan sosial di masyarakat. Kebutuhan akan penghargaan, pengakuan dan status memotivasi orang untuk menyesuaikan dengan lingkungannya agar dapat diterima dalam suatu kelompok. Perasaan ini terkadang membuat pemuda kehilangan akal sehat hingga berani bertindak nekat dengan melakukan tindakan melawan hukum untuk dapat memenuhi keinginannya.
Dalam suatu acara di stasiun tv swasta, mengadakan wawancara pada beberapa pengunjung di salah satu cafe di Jakarta. Wawancara tersebut berkenaan dengan style, pengunjung diminta menyebutkan satu-persatu atribut (baju,celana,sepatu,tas,jaket) yang mereka kenakan beserta brand dan lokasi pembelian. Saya sangat tercengang melihat jawaban-jawaban dari mereka yang sebagian besar mengenakan produk-produk impor sebagai penunjang penampilannya. Mereka dengan bangganya menyebutkan produk-produk impor tersebut, seakan lupa dimana tanah yang saat itu ia pijak. Jika pemuda tidak lagi tertarik dan mencintasi produk-produk dalam negeri, sangat dikhawatirkan jika produk-produk impor akan menguasai pasar Indonesia. Jika kita membeli produk lokal, maka akan berdampak pada surplus pendapatan produsen dan pedagang dalam negeri. Jika permintaan produk meningkat, maka permintaan akan tenaga kerja juga akan mengalami peningkatan, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran. Hal ini akan berpengaruh pada roda perekonomian secara nasional.
Pemuda membuat negeri ini terkesan seperti tempat sampah, yaitu tempat dimana negara-negara asing membuang produk-produknya. Pemuda menjadi target pasar yang sangat menjajikan bagi produsen luar negeri, karena gaya hidupnya yang konsumtif. Yang sangat disayangkan, tidak semua produk yang di impor merupakan produk yang berkualitas dan memiliki nilai guna. Indonesia merupakan salah satu target pemasaran rokok, minuman keras atau alkohol dan narkoba dari luar negeri. Hal ini sangat berdampak negatif bagi pemuda, karena produk tersebut sejatinya merusak kesehatan. Bukan hanya kesehatan fisik yang terganggu, melainkan juga kesehatan psikologi. Ketiga produk tersebut pada dasarnya memberikan efek tenang dan menyebabkan ketergantungan.
Alkohol dan narkoba memberikan efek melayang hingga penggunanya kehilangan kesadarkan diri. Produk tersebut seringkali dijadikan sebagai pelarian disaat seseorang mengalami tekanan hidup yang tinggi dan tak kuasa untuk menerima kenyataan yang dialami. Hal ini mengakibatkan rusaknya moralitas dan mentalitas pemuda. Pecandu alkohol maupun narkoba tidak mampu berfikir positif dan seringkali bertindak reaktif.
Bisa dibayangkan bagaimana masa depan negeri ini jika generasi mudanya telah menjadi budak dari alkohol dan narkoba? Untuk menepis segala kecemasan tersebut, perlu adanya proteksi dari pemerintah melalui regulasi dan kebijakan agar barang haram tersebut tidak lagi menjadi benalu bagi generasi muda. Negeri ini sangat rindu dengan sosok pemuda yang berkomitmen dan berdedikasi tinggi pada kemajuan bangsa. Seperti halnya pada zaman penjajahan, pemuda rela mengorbankan hidupnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tapi setelah berhasil merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, sekarang kita seakan lupa arti nasionalisme itu sendiri. Justru sekarang terkesan kita sendiri yang telah menjajah negerinya dengan adanya aksi penipuan, pencurian, pembegalan, perampokan, pembunuhan, perang saudara, perang antar suku, tawuran pelajar, geng motor, dan tawuran antar supporter bola. Ironi sekali jika melihat kenyataan ini, pemuda yang diharapkan dapat menjadi agen perubahan justru menjadi bumerang untuk negerinya sendiri.
Gaya hidup pemuda yang sangat menggilai budaya asing juga turut menjadi ancaman serius bagi nasionalisme yang terus terkikis dengan derasnya arus globalisasi. Tidak sedikit dari mereka yang beranggapan bahwa kebudayaan Indonesia kuno dan membosankan, sehingga tidak banyak yang tertarik dalam mempelajari dan melestarikan kebudayaan Indonesia. Penggunaan bahasa daerah juga dianggap kampungan, sehingga mereka lebih tertarik untuk mempelajari bahasa asing. Kemajuan teknologi membuat pemuda terjebak dalam kehidupan yang serba instant dan anti sosial. Pemuda menjadi kurang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya dan lebih tertarik dengan dunia maya.
Seringkali kita jumpai dalam suatu tempat terdapat beberapa orang yang duduk berdekatan, namun masing-masing dari mereka justru asik memainkan gadget-nya dan hanya sesekali berbicara dengan lawan bicaranya. Hal ini merupakan masalah sosial yang cukup serius, karena dapat menimbulkan sikap apatis terhadap lingkungan sosialnya. Seperangkat aturan saja tidaklah cukup untuk merubah keadaan. Perlu adanya revousi mental agar pemuda mampu menyadari betapa pentingnya peranannya dalam menentukan arah masa depan negerinya. Pengawasan dari pemerintah, masyarakat dan stake holder sangat diperlukan agar pemuda tidak kehilangan kendali.
Peran pemerintah maupun swasta sangat diperlukan dalam menciptakan program pengembangan potensi pemuda, agar bakat-bakat yang dimiliki dapat disalurkan sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Pemerintah seharusnya menyediakan anggaran untuk pemberian bantuan dana penelitian bagi pemuda yang berkeinginan untuk mengeksplor kreativitasnya. Karena kendala utama yang dihadapi pemuda dalam mengembangkan potensinya adalah mengenai keterbatasan dana yang dimiliki untuk melakukan penelitian. Ketidakresponsifan sikap pemerintah seringkali membuat pemuda indonesia yang berbakat merasa tidak dihargai potensinya dan memilih pergi ke luar negeri untuk mengembangkan potensinya.
Sebenarnya kualitas pemuda Indonesia sangat mengagumkan, namun kemampuan ini tidak didukung oleh sumberdaya yag lain. Justifikasi negatif yang selalu melekat pada pemuda dinilai sebagai pembunuhan karakter. Sebab tidak semua pemuda Indonesia mengidap krisis identitas seperti pada umumnya. Masih ada bibit-bibit unggul yang dimiliki negeri ini, seperti kaum pemuda akademisi, atlet nasional, musisi, maupun wirausaha mandiri yang sukses menjalani bisnisnya. Peningkatan kualitas mutu pemuda harus menjadi prioritas utama pemerintah Indonesia untuk meningkatkan daya saing dalam mengahadapi Masyarakat Ekonomi Asean. Jika kualitas pemuda Indonesia jauh lebih rendah dari kualitas pemuda di negara-negara ASEAN, dikhawatirkan jika orang-orang asing tersebut justru dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan di Indonesia. Sedangkan banyak pemuda Indonesia yang menjadi pengangguran. Jangan sampai lapangan kerja di indonesia justru banyak di duduki oleh orang asing dan kita cuma menjadi budak di negeri sendiri.

Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *