by

Inilah Sinopsis Jodha Akbar Episode 368

-Debroo-78 views
Debroo.com – Inilah Sinopsis Jodha Akbar Episode 368. Pada Kisah dalam Sinopsis Jodha Akbar Episode 367 sebelumnya, Debroo menuliskan tentang Bagaimana Pangeran Salim dikenakan Mahkota Kerajaan sebagai lambang bahwa Kini sang Pangeran telah Resmi menjadi Pewaris Kerajaan Mughal, dan kelak Tanggung Jawab Kerajaan Mughal ada dipundak Pangeran Salim. Semakin seru saja, Mari simak kelanjutanya.

Inilah Sinopsis Jodha Akbar Episode 368

Cerita-Jodha-Akbar-Episode-368-pangeran-salim

Didalam Pengadilan Kerajaan Mughal, setelah selesai penobatan Pangeran Pangeran Salim sebagai pewaris tahta Kerajaan Mughal, semua yang hadir disana kembali ketempat duduknya masing-masing, sementara itu Pangeran Salim merasa mahkota yang dia kenakan itu terlalu berat, “Ayah, mahkota ini rasanya terlalu berat untuk kepalaku, aku tdak bisa mengenakannya, ayah” kata Pangeran Salim sambil memegangi mahkotanya terus.
Raja Jalal yang duduk disebelahnya tersenyum melihat ulah anaknya, “Mahkota ini memang sengaja dibuat berat, supaya kau selalu mengingat tanggung jawab yang harus kau emban” ujar Raja Jalal, kemudian Raja Jalal menyuruh Pangeran Salim untuk memegang pedangnya, Pangeran Salim berupaya mengambil pedangnya dengan hati-hati tapi tiba-tiba mutiara yang mengelilingi pedang tersebut jatuh tercerai berai, Pangeran Salim sangat terkejut, dia sangat takut kalau nanti ayahnya akan marah padanya tapi Raja Jalal cuma memandangnya sambil tersenyum, “Suatu hari nanti, kau bisa memainkan pedang itu, nak” ujar Raja Jalal, kemudian Raja Jalal mengumumkan kesemua hadirin yang hadir disana, “Mulai sekarang aku umumkan, Pangeran Salim akan menjadi menteri dari daerah Punjab dan gajinya 500 rupee, Murad akan mendapatkan gaji 300 rupee, sedangkan Danial akan mendapatkan 200 rupee.
Sementara Haidar anak Javeda akan mendapatkan 500 rupee, Qubutdin anak Shamshad akan mendapatkan 250 rupee” ujar Raja Jalal. Semua yang hadir disana merasa senang dengan kabar berita tersebut terutama para ibu-ibu anak-anak tersebut. “Pewarisku akan menduduki tahtanya untuk pertama kali mulai hariini dan mulai sekarang Pangeran Salim akan duduk disebelahku dipersidangan ini dan akan menyelesaikan semua permasalahan yang ada bersamaku!” jelas Raja Jalal.
“Baiklah, sekarang kita buka persidangan hari ini, silahkan” kata Raja Jalal, tak berapa lama kemudian para prajurit membawa dua orang pemborentak kehadapan Raja Jalal, Raja Jalal tampak marah melihat mereka berdua, “Jadi kaulah orangnya yang suka memprovokasi orang-orang untuk melawan kesultanan Mughal, kalian adalah pemborentak dan aku tdak akan memaafkan kalian” ujar Raja Jalal, semua yang hadir disana hanya bisa diam memandang para pemborentak, “Hukuman yang pantas untuk mereka berdua adalah hancurkan tubuh mereka dibawah kaki gajah!” ujar Raja Jalal lantang, Pangeran Salim sangat terkejut mendengar keputusan ayahnya, segera dia mendekati ayahnya “Tdak, Yang Mulia, jangan ayah jangan lakukan itu! jika tubuh mereka dihancurkan dibawah kaki gajah, mereka akan mati, ayah, kau sendiri mengatakan bahwa seorang penyelamat lebih mulia daripada seorang pembunuh, mereka mungkin memang jahat tapi kau tdak, ayah “ ujar Pangeran Salim.
Raja Jalal terus memperhatikan apa yang diucapkan oleh putranya, Raja Jalal sungguh sangat terharu lalu dibelainya wajah anak tercintanya dan menyuruh Pangeran Salim untuk duduk kembali ketahtanya. Saat itu ruang sidang sangat hening, semua orang terdiam menunggu keputusan Raja Jalal, setelah merenung cukup lama, akhirnya Raja Jalal buka suara ,”Baiklah, aku akan mengubah keputusanku, sekarang mereka akan dihukum seumur hidup!” ujar Raja Jalal, “Hari ini pewarisku telah membuat keputusannya yang pertama dan hal itu membuat aku sadar bahwa aku hanyalah seorang manusia biasa, dan penyelamat lebih mulia dari pada seorang pembunuh, aku sungguh bangga” ujar Raja Jalal lagi. Sementara itu dari tempat para Ratu berada, Ratu Jodha berkata dalam hati: “Apa yang dikatakan oleh Syeh Salim Chisti memang benar, Pangeran Salim berfikir hanya menggunakan hatinya saja, dia pasti akan membawa perubahan diistana ini” bathin Ratu Jodha.
Malam itu, Nadira sedang berkumpul dengan kedua orang tuanya dirumah mereka, “Bu, hari ini adalah perayaan pewaris baru diKerajaan, dan aku mendapat undangan kesana” kata Rashid pada Zil Bahar istrinya, Nadira yang ikut mendengarkan tampak antusias sekali, sementara itu Zil Bahar teringat pada ucapan Shaguni Bai ketika Nadira masih dalam kandungannya, dimana Shaguni Bai meramalkan bahwa nasibnya akan segera berubah dan dia akan segera memasuki istana.
Di kamar Ratu Salima, malam itu Ratu Salima sedang berkumpul dengan kedua anaknya Rahim dan Murad, “Ibu, kenapa negara bagian Punjab tdak diberikan padaku? apakah Pangeran Salim lebih bagus dariku?” tanya Murad, “Kau juga akan mendapat bagian kalau kau sudah besar nanti, Murad” jawab Rahim kakaknya, “Kenapa kau tdak pernah mendengarkanku? apakah karena kau pendamping Yang Mulia, maka kau lebih condong ke dia saja?” tanya Murad.
Dikamar Javeda, “Haidar, selamat yaaa, akhirnya kau mendapat pekerjaan diistana ini” ujar Javeda, “Aku tdak akan berhenti sampai disini saja, bu! aku menginginkan daerah, provinsi, yaaa, aku akan memenangkan provinsi demi provinsi dan aku akan menjadi raja seperti Pangeran Salim!” kata Haidar, “Haidar, jangan pernah kau mempunyai niat untuk melawan Yang Mulia, nak” ujar Javeda.
Sementara itu dikamar Danial, saat itu Danial sedang asyik menyantap makanannnya, “Danial, kau jangan makan terlalu banyak sekarang, kau sekarang seorang menteri dan kau seharusnya berfikir untuk bekerja, jangan makan terus” ujar ibu Danial, “Lalu, seharusnya aku berhenti makan begitu, bu?” tanya Danial, ditanya seperti itu ibu Danial langsung mengambil piring Danial dan Danial langsung pergi begitu saja darisana.
Dikamar Ratu Jodha, Ratu Jodha sedang asyik memijat-mijat kepala anaknya, sementara Pangeran Salim duduk dibawah sambil terus menggerutu, “Ibu, sebenarnya aku itu lebih suka bermain tapi ayah malah menyuruhku untuk duduk didalam istana!” gerutu Pangeran Salim, “Kau telah melakukan keadilan hari ini dipengadilan istana tadi, sayang” kata Ratu Jodha, “Ibu, bagaimana bisa ayah menyuruh untuk menghancurkan setiap orang yang bersalah?” tanya Pangeran Salim, “Coba kau gunakan mahkota ini lagi” ujar Ratu Jodha sambil mengambil mahkota Pangeran Salim dan mengenakan ke kepala Pangeran Salim, tepat saat itu Raja Jalal masuk kekamar Ratu Jodha menemui mereka tapi Ratu Jodha dan Pangeran Salim tdak menyadari kehadiran Raja Jalal dibelakang mereka. “Ibu, aku tdak mau memakainya, aku tdak mau memakainya, ibu, mahkota ini berat!” ujar Pangeran Salim sambil berusaha untuk mencopot mahkotanya, “Pangeran Salim, kau harus memakainya, paling tdak sampai perayaan Jashn, sayang” bujuk Ratu Jodha, “Hmmm, suatu hari nanti kalau aku jadi raja, aku akan membuat mahkota yang besar yang terbuat dari besi dan ayah harus memakainya, biar ayah tahu bagaimana rasanya memakai mahkota yang berat tapi aku akan membuatkan ibu mahkota yang empuk dan lembut” gerutu Pangeran Salim lagi,
sementara itu Ratu Jodha tertawa mendengarkannya, sedangkan Raja Jalal hanya tersenyum-senyum mendengarkan percakapan kedua orang yang dicintainya itu dari belakang. “Hmmm, Bagaimana kalau ibu katakan semua ini pada ayah?” goda Ratu Jodha, Pangeran Salim yang masih membelakangi Raja Jalal langsung menjawab, “Aku tdak takut sama ayah! pada kenyataannya ayahlah yang takut sama aku, ibu, ibu lihat sendiri kan bagaimana ayah langsung setuju dengan keputusanku dipengadilan tadi” ujar Pangeran Salim lagi,
Ratu Jodha masih terus tertawa mendengarkan gerutuan anaknya sampai akhirnya dia menyadari kehadiran Raja Jalal diantara mereka tapi dia sengaja tdak memberitahu Pangeran Salim. “Ibu, suatu saat nanti, kalau aku menjadi raja, aku akan mengubah peraturan diistana ini dan aku akan membiarkan anak-anak untuk bebas bermain” kata Pangeran Salim, sesaat kemudian Raja Jalal mulai membuka suaranya “Shekhu Baba!” panggil Raja Jalal, begitu mendengar suara ayahnya, Pangeran Salim langsung berdiri ketakutan memandang ayahnya,
“Tadi, apa yang kau bilang? jadi ayah yang takut sama kau yaaa?” tanya Raja Jalal, Pangeran Salim tdak menjawab pertanyaan ayahnya, “Waaah, itu nenek memanggilku, aku pergi dulu ibu” ujar Pangeran Salim sambil berlari darisana menghindari pertanyaan ayahnya, Ratu Jodha hanya bisa tertawa melihat ulah anaknya, sementara itu Raja Jalal cuma tersenyum saja lalu mendekati Ratu Jodha dan duduk disebelahnya,
“Kau tahu Ratu Jodha, kenapa aku tdak pernah bisa marah dengan Pangeran Salim?” tanya Raja Jalal, “Tdak! kenapa memangnya, Yang Mulia?” tanya Ratu Jodha sambil masih tersenyum, “Karena aku melihat dirimu dalam dirinya, dia persis sekali seperti dganmu dan aku tdak bisa marah karenanya” jawab Raja Jalal sambil tersenyum, “Oooh yaa? sedangkan rambut serta kulitnya sama sepertimu, Yang Mulia dan juga kemampuannya bercerita tentang cara memasak itu juga sama sepertimu, Yang Mulia” kata Ratu Jodha sambil menyubit pipi Raja Jalal dengan gemas dan tertawa bahagia, Raja Jalal juga tertawa mendengarnya sambil mengulurkan tangannya memeluk Ratu Jodha, sedangkan Ratu Jodha meletakan kepalanya dibahu Raja Jalal.
Setelah keluar dari kamar Ratu Jodha, Pangeran Salim mendatangi Bariamminya (Ratu Ruqayah) saat itu Ratu Ruqayah sedang menghias dirinya, sementara Reesham sedang memberikan wangi-wangian kerambut Ratu Ruqayah, “Heiii, Pangeran Salim, apa yang kau lakukan disini?” tanya Ratu Ruqayah, “Aku haus, Bariammi, bolehkah aku minta minum?” tanya Pangeran Salim, Ratu Ruqayah langsung menyuruh semua pelayannya pergi meninggalkan mereka berdua lalu diambilnya segelas air putih untuk Pangeran Salim, Pangeran Salim langsung meminumnya sampai habis. Setelah minum, matanya langsung tertuju pada kotak kinang Ratu Ruqayah,
“Apa itu, Bariammi?” tanya Pangeran Salim, “Ooooh itu, itu kinang, kau mau memakannya?” kata Ratu Ruqayah, “Tdak! bagaimana bisa aku memakannya?” ujar Pangeran Salim, “Kenapa tdak? kau adalah pewaris kerajaan, kau bisa melakukan semuanya, makan, minum, semua maumu bisa kau lakukan” kata Ratu Ruqayah dan dalam hatinya berkata “Aku telah mencampur ganja itu kedalamnya, aku ingin lihat bagaimana pengaruhnya kePangeran Salim, dan ketika Pangeran Salim menginginkan ganja, dia pasti akan datang padaku dan aku akan membuatnya kecanduan” bathin Ratu Ruqayah.
Sementara itu, mengetahui kalau dirinya bisa berbuat semua yang dia inginkan, Pangeran Salim kelihatan bahagia sekali, “Yess! aku bisa berbuat apapun!” katanya sambil mengambil kinang itu dari tangan Ratu Ruqayah, ketika sedang hendak memakannya tiba-tiba Pangeran Salim mendengar ada suara gaduh ditaman istana, lalu Pangeran Salim berusaha mencari tahu suara apakah itu?, kemudian Pangeran Salim beranjak kebalkon kamar Ratu Ruqayah, dari balkon kamar Ratu Ruqayah, Pangeran Salim melihat Nadira masuk kedalam istanannya, “Mau apa anak jelek itu kesini?” tanya Pangeran Salim, “Barriammi, Nadira sudah berani masuk kedalam istana, aku akan pergi menemuinya dulu” ujar Pangeran Salim kemudian diletakkannya kembali kinang itu ketempatnya, Ratu Ruqayah sangat tdak senang dengan perbuatan Pangeran Salim dan bertanya dalam hati “Siapa itu Nadira? berani beraninya dia mengganggu pekerjaanku!”
Dihalaman istana, Pangeran Salim sedang berusaha mencari-cari Nadira dihalaman istana, ketika dia sedang berdiri sambil membetulkan mahkotanya, Nadira melihatnya, Nadira langsung tertawa terbahak-bahak, “Heiii, kenapa kau tertawa seperti itu?” tanya Pangeran Salim, “Hahahaha, Mahkotamu lebih besar dari padamu! bagaimana kau bisa mengaturnya?” kata Nadira sambil tertawa, “Apa yang kau lakukan didalam istanaku ini?” tanya Pangeran Salim, “Aku kesini hanya untuk melihat-lihat saja” jawab Nadira, “Keamanan adalah pekerjaanku, kau tdak bisa masuk begitu saja!” ujar Pangeran Salim,
“Yang Mulialah yang mengundang kami kesini!” kata Nadira, “Yang Mulia adalah ayahku!” jelas Pangeran Salim, “Aku akan mengatakan padanya bahwa kau tdak menuruti perintahnya” ujar Nadira, mendengar hal itu Pangeran Salim sangat ketakutan , “Huh! aku tdak mau berbicara denganmu! kau pergi saja dari sini! aku masih punya banyak pekerjaan yang harus aku urus!” jelas Pangeran Salim, “Hmmm, aku yakin kau hanya bisa mengurus mahkotamu saja” kata Nadira masih dengan tertawa.
Perayaan Jashn dimulai diistana Mughal, semua orang hadir disana termasuk Pangeran Salim yang tampak duduk disebelah ayahnya. Tansen Raam Tanu mulai memainkan lagunya dengan band musiknya, salah satu penyanyi band tersebut mulai melantunkan nada-nadanya, semua yang ada disana merasa terbuai dengan lantunan tembangnya tapi tiba-tiba ketika sedang asyik mendengarkan suaranya yang merdu, sipenyanyi tersebut kehilangan suaranya dan terbatuk-batuk, semuanya panik,
Tapi tiba-tiba dari arah belakang dari balik tirai, terdengar suara Nadira melanjuntukan lagu yang sempat terhenti tadi, suaranya merdu sekali sehingga mampu memukau Raja Jalal dan Raja Jalal menyuruhnya untuk berdiri dihadapannya, Nadirapun menuruti perintah Raja Jalal. “Siapa namamu?” tanya Raja Jalal, “Nama hamba Nadira, Yang Mulia” jawab Nadira “Ayah saya Rashid” lanjut Nadira, “Oooh, iya aku tau kau, akulah yang memberimu nama” kata Raja Jalal, “Aku suka suaramu, tolong nyanyikan lagi untuk kami” pinta Raja Jalal,
Nadirapun menurut lalu dia pun mulai menyanyikan lagu tersebut dengan sangat merdu dan indah. “Suaramu sangat menakjubkan sekali diusiamu yang masih belia seperti ini” kata Rahim, sementara itu Pangeran Salim tdak berkedip memandang kearah Nadira dalam hatinya berkata: “Kenapa semua orang memuji dia?” , setelah selesai menyanyikan sebuah lagu, semua yang hadir disana merasa senang sekali terutama Raja Jalal, “Bagus, bagus sekali Nadira! Raam Tanu kau harus cemburu dengan suaranya, suaranya bagus sekali! baiklah, hadiah apa yang kau inginkan, Nadira?” tanya Raja Jalal, dengan nada malu-malu Nadira mengatakan: “Saya ingin melihat-lihat keseluruhan istana, Yang Mulia” ujar Nadira, “Kalau begitu kau bisa melakukannya, Nadira” kata Raja Jalal, “Aku sudah mencobanya tapi ada seseorang yang menghentikan langkah hamba, Yang Mulia” ujar Nadira, “Oooh ya, siapa dia?” tanya Raja Jalal, “Dia orang yang tdak punya sopan santun, dia orang yang kurang ajar, Yang Mulia” kata Nadira lagi, “Oooh iyaa? siapa namanya?” tanya Raja Jalal, tepat pada saat itu Pangeran Salim berkata dalam hati: “Awas yaaa, kalau kau sebuntukan namanya!” bathin Pangeran Salim, “Saya tdak tahu namanya, Yang Mulia” kata Nadira. Dengan Inilah Sinopsis Jodha Akbar Episode 368 pun berakhir. Ayo simak terus Kisah selanjutnya pada Episode 369 berikutnya Hanya di Debroo.com

–> Urutan Sinopsis Sesuai Jadwal Harian ANTV

–> Urutan Sinopsis Jodha Akbar Terbaru

Advertisements

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *