by

Sinopsis Chandra Nandini Episode 39 – Rencana Pembunuhan Nandini

927 views

Debroo.net.  Sinopsis Chandra Nandini Episode 39 – Rencana Pembunuhan Nandini. Dadima berbicara pada Moora mengenai Nandini yang mempertaruhkan nyawanya untuk Chandra. Moora membenarkan ucapan Dadima dan menyadari kesalahannya

Sinopsis Chandra Nandini Episode 39
Adegan Romantis Chandra Nandini

Moora pun berkata akan berterimakasih pada Nandini secara pribadi. Dadima mengajaknya menemui Nandini tapi Moora berkata bahwa dia harus beristirahat sekarang dan dirinya akan berterimakasih pada Nandini besok saat di aula.

Padmananda diberi informasi oleh prajuritnya mengenai lolosnya Nandini dan Vishaka, Padmananda pun menghabisi prajuritnya. Setelah itu Amartya mendapat surat dari mata2nya yang dibawa seorang prajurit.

Chanakya masuk bersama Malayketu lalu Malayketu mengatakan bahwa pasukan mereka membutuhkan senjata. Amartya memberikan kabar kalau mata2 mereka di Magadha telah tewas.

Padmananda menganggap Vishaka yang tiada tapi Amartya menjawab bukan Vishaka yang tiada tapi Parvatak, Amartya menambahkan Chandra yang menghabisi Parvatak karena Chandra tau kalau Parvatak berada di pihaknya (Padmananda).

Padmananda, Malayketu dan Chanakya terkejut mendengarnya. Malayketu pun geram dan berniat menghabisi Chandra tapi Amartya menghentikannya dan mengatakan agar dia bersabar karena mereka akan menyerang Chandra di saat yang tepat.

Padmananda lalu menyemangati Malayketu agar api balas dendamnya tidak boleh padam karena itu bisa dipergunakan untuk melawan Chandra. Chanakya pun berpikir bahwa Chandra telah melakukan tugasnya dengan baik.

Daftar Lengkap Sinopsis Chandra Nandini

Chandra mendatangi Nandini yang sedang mengayun Bindusara. Lalu Chandra memakaikan selendang Nandini kekepalanya. Chandra lalu berbicara dengannyabagar meminta apa yang di inginkan karena dia sudah menyelamatkan raja Magadha hari ini.

Nandini pun menjawab, “kau sudah memberikan semuanya Yang Mulia..kau menyalahkanku atas kematian Dhurdhara”. Chandra berkata akan membebaskannya dari hukuman tersebut karena dia bukan pembunuh Dhurdhara. Nandini pun meminta bukti kalau bukan dirinya yang melenyapkan Dhurdhara.

Nandini menambahkan bahwa jika dia (Chandra) ingin memberinya sesuatu maka Nandini meminta dia menemukan pembunuh yang sebenarnya. Chandra pun berjanji akan mengembalikan semua yang telah hilang dan martabat Nandini lalu Chandra beranjak pergi.

Keesokan harinya di ruangan ratu, Moora memberikan berbagai macam hadiah pakaian dan perhiasan untuk Nandini, Moora berbicara dengannya bahwa semua hadiah itu diberikannya pada seorang pelayan yang telah menyelamatkan kehidupan putranya.

Nandini membalas bahwa sebagai seorang pelayan dirinya tidak bisa menolak apa yang diberikannya dan berterimakasih. Helena pun membahasnya dengan ibunya. Moora lalu memberi perintah pada pelayannya agar membawa semua hadiah ke kamar Nandini.

Nandini tengah merias diri di kamarnya, Chandra datang dan menatapnya dari cermin seraya mengingat saat mereka bersama dulu

(kilas balik saat Nandini merias diri dan Chandra mendatanginya lalu memberi saran agar rambutnya tetap terurai karena itu yang disukainya dan Nandinipun berkata bahwa dia juga tau apa yang disukainya kemudian Nandini menaburkan pewarna ke wajah Chandra dan berkata dirinya suka melihat wajahnya berwarna merah seperti kera),

Nandini melihat Chandra, lalu Chandra berbicara dengannya mengenai hadiah2 dari Moora.

Chanakya membawa Malayketu ke tengah hutan dan berbicara padanya bahwa yang melenyapkan ayahnya bukan Chandra tapi Padmananda. Malayketu bertanya dia berada dipihak Chandra atau Padmananda.

Chanakya menunjukkan surat dari Vishaka dan menyuruh Malayketu menggunakan otaknya untuk berpikir. Tapi Malayketu bersikeras akan tetap berada di pihak Padmananda.

Chanakya mencoba membujuknya, “mereka juga akan menghabisi kita jika pekerjaan sudah selesai..dia menipumu dan aku akan segera dihabisi tapi aku ingin muridku yang memimpin Magadha setelah Chandra yaitu kau..”,

Malayketu pun luluh dan setuju lantas beranjak pergi. Chanakya pun berbicara sendiri bahwa tanpa senjata dirinya akan memisahkan Malayketu dari Padmananda.

Saat diruangan ratu, seluruh anggoga kerajaan sedang memilih2 perhiasan lalu mereka mendengar nama Bindusara dielu2kan rakyat. Chandra yang tengah berjalan bersama Megasthenes juga mendengarnya. Mereka semua bergegas memeriksa apa yang terjadi dan mereka melihat Nandini tengah membagi2kan semua hadiah Moora pada rakyat Magadha.

Apama berbicara pada Helena bahwa dengan bantuan rakyat Nandini mencoba membuat tempat di Magadha untuknya. Chandra lalu menghampiri Nandini dan mengambil alih Bindusara dari gendongan Nandini. Dadima sendiri mengatakan pada Moora bahwa Nandini bukan orang yang serakah.

Semua rakyat memberkati Bindusara dan Chandra Nandini. Chandra lalu melihat wanita yang dengan wajah aneh (separuh wajahnya berbintik2) ikut mengantri hadiah dari Nandini, Chandra pun bertanya2 apa yang dilakukan wanita itu di istananya.

Chandra mendatangi Nandini dikamarnya dan berbicara dengannya mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah dia lakukan tadi. Nandini menjawab dirinya melakukan semua ini untuk Bindusara lalu Nandini hendak beranjak keluar kamar.

Tapi Chandra memegang tangannya menghentikannya dan bertanya pada Nandini apakah dia memaafkannya. Nandini menjawab, “aku hanya seorang pelayan..siapa aku ini yang harus memaafkan seorang raja..jika kau menyuruhku tertawa aku akan tertawa dan jika kau menyuruhku menangis..aku pun akan menangis”,

Baca Juga :  Sinopsis Chandra Nandini Episode 28 – Kelahiran Bindusara yang Menyedihkan, Nandini Keluar Istana

Nandini melepaskan tangannya dari Chandra dan beranjak pergi.

Dadima tengah berbicara dengan Moora agar memaafkan Nandini. Moora berkata, “aku tidak tau kebenarannya tapi semua bukti terarah pada Nandini..jika suatu hari Nandini terbukti tidak melenyapkan Dhurdhara maka aku akan menerimanya kembali sebagai putriku tapi untuk saat ini aku tidak bisa karena setiap kali aku melihat Bindusara aku melihat rasa sakit itu bu..”,

Moora lalu beranjak pergi. Dadima pun berkata sendiri berharap Moora akan melihat bahwa Bindusara memiliki ibu yaitu Nandini sebelum semuanya terlambat.

Chandra di kamarnya memperhatikan lukisan wanita aneh tadi dan memikirkan sesuatu. Nandini datang membawa Bindusara dan Chandra pun menutupi lukisan wanita aneh tadi dengan lukisan Dhurdhara-Nandini. Nandini menghampirinya dan membicarakan Dhurdhara karena mengira Chandra sedang merindukannya.

Lalu Nandini memperlihatkan semua barang2 kesukaan Dhurdhara sembari berkata bahwa Dhurdhara akan selalu ada dihati mereka. Chandra pun memeluk Bindusara dan berpikir kalau dirinya tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah melenyapkan ibu dari putranya.

Kemudian Bindusara buang air kecil dan pakaian Chandra pun basah. Nandini tertawa seraya berkata bahwa bayi akan melakukan hal tersebut pada orang yang sangat disayanginya lalu Nandini mengambil Bindusara dan mengganti pakaiannya.

Chandra mendekat pada Nandini dan Nandini mundur teratur tapi ternyata Chandra hanya mengambil selendangnya yang diduduki Nandini seraya berkata akan pergi mandi kemudian Chandra beranjak pergi sambil berpikir dirinya harus menemukan wanita aneh yang ada dilukisannya.

Chandra menyamar dan mendatangi pasar, dia lalu melihat wanita aneh yang dicarinya dan mengejarnya. Wanita itu menyadari kalau sedang di ikuti dan berusaha melarikan diri.

Chandra pun kehilangan jejaknya dan malah penyamarannya terbongkar karena selendang yang menutupi wajahnya terjatuh hingga rakyat mengenalinya sebagai Raja Magadha.

Chandra lalu memberikan alasan bahwa kehadirannya untuk berterimakasih pada mereka semua karena sudah memberikan berkat pada Bindusara. Rakyat pun mengelu2kan nama Chandra.

Wanita aneh yang dicari Chandra bergerak ke tengah hutan dan ternyata menemui Apama yang menunggu didalam tandu kerajaannya. Apama berbicara dengannya meminta racun yang sama seperti yang terakhir kali di buatkannya, wanita itu berkata kalau membutuhkan waktu untuk membuatnya karena terbuat dari ramuan khusus.

Apama tidak mempermasalahkan tapi memintanya untuk berhati2. Wanita itu mengiyakan dan beranjak pergi.

Pagi harinya Nandini membawa Bindusara ke taman belakang dan melihat mangga yang sudah mulai berbuah. Nandini lalu memberikan Bindusara pada pelayan dan Nandini hendak mengambil mangga tersebut. Chandra datang dan melempari mangga2 tersebut tapi tidak ada satupun yang terjatuh.

Nandini mentertawakannya. Chandra menyuruhnya melakukannya juga dan Nandini juga tidak berhasil melempari mangga tersebut. Lalu Nandini mencoba memanjat pohon mangga tersebut dengan bantuan Chandra yang mendorongnya dari bawah. Lalu Nandini mulai memetik mangga2 tadi dan melemparnya pada Chandra yang menangkapnya dari bawah.

Saat akan turun Chandra membantu Nandini dan membuat keduanya saling berdekatan lalu berpandangan. Helena kemudan muncul dan Chandra melihatnya, Chandra pun menjauhkan Nandini dan memakinya.

Nandini pun beranjak pergi dan Helena tersenyum senang. Chandra pun berbicara dalam hati meminta maaf pada Nandini karena dirinya harus tetap menunjukkan kebenciannya agar pembunuh Dhurdhara tidak waspada.

Helena memberitau ibunya mengenai apa yang dilihatnya tadi dan berkata bahwa Chandra tidak akan pernah memaafkan Nandini. Apama berkomentar bahwa mereka adalah Chandra Nandini dan cinta mereka akan muncul sewaktu2. Apama berencana melenyapkan Nandini sama seperti melenyapkan Dhurdhara dengan menambahkan racun dalam makanannya.

Nandini berberes di kamar Chandra dan tanpa sengaja menjatuhkan lukisan hingga dia menemukan lukisan wanita aneh yang disembunyikan Chandra. Nandini menatap lukisan tersebut.

Chandra kemudian datang dan merebut lukisan tersebut lalu menegur Nandini karena menyentuh lukisannya, Nandini mencoba mengatakan sesuatu tapi Chandra kemudian melihat kedatangan Helena dan ibunya. Chandra pun pura2 berkata kalau lukisan yang dibawanya adalah lukisan Bindusara.

Helena ingin melihatnya tapi Chandra beralasan lukisannya belum selesai dan menyimpan kembali lukisan wanita aneh tadi. Nandini pun bertanya mengapa Chandra berbohong. Apama lalu berbicara pada Chandra meminta ijinnya.

Apama mendatangkan koki Yunani karena mereka akan mengadakan festival Yunani di Magadha selama 7 hari, Chandra mengijinkannya dan Helena meminta Chandra membicarakannya dengan Moora.

Apama berjalan di koridor dengan diam2 untuk menemui wanita aneh suruhannya, wanita itu memberikan sebuah botol racun, Apama melirik ke sebelah dan melihat ada seseorang memakai penutup yang mengintainya.

Apama lalu bergegas mencari orang tersebut dan mengejarnya. Sementara itu Nandini membawa ramuan ke kamar Chaya dan terkejut melihat Chaya tidak ada di kamarnya.

Baca Juga :  Sinopsis Chandra Nandini ANTV 25 Maret 2018 Episode 82

Nandini menjatuhkan mangkuk ramuannya dan berkata bahwa Chaya tidak mungkin menghilang lalu Nandini bergegas mencari Chandra untuk memberitahunya sementara Apama pun kehilangan jejak sosok misterius tadi dan bertanya2 siapa yang telah mencoba memata2inya.

Nandini menemui Chandra dan dengan panik mengatakan tentang hilangnya Chaya. Chandra berkomentar mungkin dia (Nandini) salah lihat lalu keduanya bergegas pergi kekamar Chaya. Nandini masuk bersama Chandra dan melihat Chaya yang masih berbaring.

Nandini mendekati Chaya dan memperhatikannya lalu Nandini berbicara pada Chandra bahwa saat mengantar ramuan tadi Chaya tidak berada dikamar. Chandra mengatakan kalau mungkin dia tadi berjalan dalam tidur dan Chandra berkata akan memberikan obat dan menjaga Chaya lalu Chandra menyuruh Nandini beristirahat, Nandini pun beranjak pergi.

Chandra menutup pintu kamar Chaya lalu Chaya bangun dan berbicara pada Chandra bahwa Apama hampir melihatnya hari ini, Chandra memintanya untuk lebih berhati2

(kilas balik saat Chandra berbicara dengan Chaya yang masih terbaring koma, tiba2 Chaya menggerakkan tangannya dan Chandra melihatnya, Chandrapun memintanya membuka mata. Perlahan Chaya siuman dan menyebut nama Chandra..Chaya lalu berbicara pada Chandra mengenai dirinya yang mendengar percakapan Nandini dan Dadima dan menarik kesimpulan bahwa bukan Nandini yang melenyapkan Dhurdhara..Chaya juga mendengar percakapan Apama dan Helena tentang mereka yang sudah melenyapkan Dhurdhara..ternyata selama ini sosok misterius yang selalu menemui Chandra dan memberi informasi adalah Chaya..Chandra pun membahas rencananya dengan Chaya agar dia tetap berpura2 koma dan membantunya mengumpulkan semua informasi, Chaya pun setuju),

Chaya kembali berbicara dengan Chandra bahwa wanita yang dilukisnya waktu itu tadi meneui Apama dan meberikan sesuatu tapi sebelum sempat mengetahui apa yang diberikannya Apama lebih dulu melihatnya dan sekarang Apama pasti akan lebih waspada.

Chandra bersyukur karena Apama tidak melihat wajah Chaya secara langsung dan Chandra berkata bahwa mereka harus menunggu hingga Apama membuat sebuah kesalahan.

Chandra meminta Chaya untuk tetap melanjutkan sandiwaranya hingga Apama akan menerima akibat dari perbuatan yang telah dilakukannya pada Dhurdhara, Chaya menjawab akan melakukannya demi dia dan Nandini.

Apama menemui Helena dan Helena melihatnya panik lalu bertanya. Apama mulai bercerita mengenai seseorang yang memata2inya dan bertekad untuk menemukan siapa mata2 tersebut tapi Apama meminta Helena untuk tetap konsentrasi pada Chandra.

Chandra mendatangi kamar Nandini dan melihatnya masih terjaga menjaga Bindusara. Chandra lalu menghampirinya dan mengingatkan bahwa dia harus istirahat. Nandini menjawab kalau Bindsara masih belum tidur. Chandra lalu menggendong Bindusara dan berkata akan menjaganya lalu membawanya pergi setelah berdebat dengan Nandini.

Pagi harinya Nandini melihat Vishaka menangis sendirian di ruangan ratu, Nandini menghampirinya dan bertanya. Vishaka lalu berbicara dengan berurai air mata kalau dirinya merindukan kedua orangtuanya.

Vishaka juga berkata selalu dihantui mimpi buruk dan tidak bisa melupakan kematian orangtuanya, Vishaka pun ingin balas dendam tapi tidak mengetahui bagaimana melakukannya. Nandini meminta bantuan Nandini untuk balas dendam dan memintanya membimbingnya.

Nandini memeluknya sambil menangis lalu beranjak pergi dan kembali dengan membawa sebilah pedang, dia memberikan pedangnya pada Vishaka dan menyuruhnya menghabisinya untuk balas dendam dan meredakan rasa sakitnya.

Vishaka terkejut dan hanya bisa menatap Nandini, Nandinipun meyakinkannya kalau dirinya tidak akan menyesal dihabisi olehnya dan akan merasa bahagia karena bisa menjauhkannya dari rasa sakit, Nandini juga menambahkan bahwa semua anak harus menanggung konsekuensi dari perbuatan buruk orangtuanya.

Chandra muncul dan mengatakan bahwa konsekuensi harusnya ditanggung oleh orang yang mengakui kejahatannya lalu mengambil pedang dari tangan Vishaka dan memberi janji pada Vishaka kalau dirinya akan membalaskan dendamnya dan tidak akan membiarkan dinasti Nanda bertahan hidup. Nandini terkejut lalu beranjak pergi.

Di dapur, semua pelayan sibuk memasak. Apama ke sana dan memeriksa semua persiapan lalu wanita aneh suruhan Apama muncul dengan sembunyi2 dan meletakkan sebuah botol racun di antara gelas2. Apama pun mengambilnya.

Kepala koki membawakan puding beras permintaan Apama dan meletakkannya dimeja, Apama menuangkan racun disalah satu mangkuk lalu menyuruh pelayan mengantarkan mangkuk tersebut pada Nandini.

Nandini tengah melamun mengingat ucapan Chandra tadi, Chandra mendatanginya dan mengatakan bahwa dia pasti sakit hati dengan ucapannya tadi tapi itulah kenyataan yang harus dilakukannya untuk menumpas keturunan Padmananda.

Nandini setuju kalau dia akan menghukum ayahnya tapi Nandini berkata kalau Pandugarthi tidak bersalah dan seharusnya tidak mendapatkan hukuman. Chandra menjawab, “Nandini..ini janji seorang raja dan seperti yang kau katakan bahwa anak harus menanggung konsekuensi dari perbuatan buruk orangtua mereka”, lalu Chandra beranjak pergi.

Loading...

Comment